7 Contoh Teks Hikayat Singkat beserta Struktur dengan Unsur Intrinsik dan Ekstrinsiknya
Teks hikayat merupakan jenis teks yang tersebar di semenanjung Malaka. Menjadi media tutur fiksi sejarah yang penuh ajaran moral. Baca selengkapnya di sini.
Abstraksi
Cerita diawali dengan dua orang raja bersaudara yang sama-sama mendapatkan anak secara ajaib. Raja Ahmad mendapatkan putri dari sebatang bambu.
Sedangkan Raja Muhammad mendapatkan putra yang berasal dari seekor gajah. Kedua anak ini akhirnya dijodohkan dan dikaruniai dua orang anak laki-laki bernama Merah Silu dan Merah Hasum.
Orientasi
Orientasi berisi tentang waktu, tempat, dan suasana di dalam cerita hikayat Dua Bersaudara. Adapun waktu pada cerita tersebut adalah pagi, siang, dan malam (tidak diceritakan secara detail).
Tempat yang menjadi latar pada hikayat tersebut adalah kerajaan. Sedangkan suasana pada cerita tersebut menyedihkan dan penuh dendam karena terjadi peristiwa bunuh-membunuh.
Komplikasi
Komplikasi pada contoh hikayat kerajaan Dua Bersaudara adalah saat Putri Betong mati karena dibunuh oleh Merah Gajah.
Diceritakan bahwa rambut putih yang dimiliki oleh Putri Betong dapat menyebabkan ia mengalami kematian jika dicabut.
Hal ini menimbulkan murka dari anak-anaknya sehingga Merah Gajah harus meregang nyawa karena dibunuh oleh Merah Silu, anaknya sendiri.
Evolusi
Evolusi pada hikayat Dua Bersaudara adalah Merah Silu diangkat menjadi raja untuk menggantikan ayahnya yang sudah tewas.
Hal ini membuat Merah Silu menjadi raja yang kaya raja karena bergelimang harta.
Resolusi
Meskipun memiliki masa lalu yang buruk, akhirnya Merah Silu masuk ke dalam Islam dan membangun kerajaan baru di tempat yang jauh.
Hal ini menjadi lembaran baru bagi Merah Silu dan ia mendapat gelar Sultan Malikul Saleh.
Koda
Apapun permasalahannya, pembunuhan adalah hal yang tidak dibenarkan karena merenggut hak asasi manusia. Namun, di zaman dulu pembunuhan adalah hal yang biasa.
Biasanya, konflik yang menyebabkan hal tersebut adalah karena perang saudara, perebutan tahta, kekuasaan, dan lain sebagainya.
3. Hikayat Patani
Alkisah, Phaya Tu Kerub Mahajana adalah seorang raja di kota Maligai. Ia diganti oleh putranya, Phaya Tu Taqpa yang senang berburu seperti halnya orang-orang besar lainnya.
Suatu hari, seekor pelanduk putih yang sedang diburunya tiba-tiba hilang di dekat tempat kediaman orang tua bernama Eneik Tani.Â
Dari nama orang tua itulah, kerajaan yang dibangunnya itu diberi nama Patani.
Usai Islam masuk, raja Phaya Tu Naqpa mendapat gelar Sultan Ismail Syah Zillullah Fil Alam. Semenjak saat itulah seluruh rakyat Patani memeluk agama Islam.
Sepeninggal bagindanya, pemegang kerajaan tergantikan oleh putra sulungnya yang bernama Sultan Mudhaffar Syah. Ia menggelar jalinan persahabatan dengan Beracau dan mendapatkan istri.
Dari istrinya tersebut, Sultan Mudhaffar Syah beroleh seorang putra yang diberi nama Sultan Patik Siam. Namun, ia bersikap khianat dengan Beracau.
Beracau akhirnya diturunkan dari takhtanya dan dipaksa untuk meninggalkan istana.
Berkat tindakan yang memicu salah paham, Sultan Mudhaffar Syah dan para pengiringnya bisa dikalahkan dan Beracau bisa kembali menduduki tahta kerajaan.
Adiknya yang bernama Manzur Syah pun pergi meninggalkan Siam, tetapi Mudhaffar tinggal sendiri di Siam dan akhir kesudahannya tidak diketahui.
Sultan Manzur Syah menggantikannya untuk menjadi raja Patani. Pada masa pemerintahannya, daerah Patani diserang dua kali berturut-turut oleh Palembang.
Namun, serangan itu akhirnya bisa digagalkan. Hubungan dengan wilayah Siam juga bisa diperbaiki dengan mengirimkan keputusan dari pimpinan Seri Agar.
Sepeninggalnya Sultan Manzur Syah, terjadilah kericuhan dalam negeri karena perebutan tahta. Tiga raja yang memerintah setelahnya adalah Sultan Patik Siam, Sultan Bahdur, dan Raja Bambang.
Mereka semua mati berturut-turut karena adanya suatu intrik. Selanjutnya, tibalah masa pemerintahan raja putri.
Raja Kuning ialah anggota dinasti Phaya Tu Kerub Mahajana terakhir. Selanjutnya, dinasti Kelantan menduduki tahta Kerajaan Patani.
Abstraksi
Cerita dalam Hikayat Patani diawali dengan Phaya Tu Kerub yang memimpin sebuah kerajaan di kota Maligai.
Ia digantikan oleh putranya yang bernama Phaya Tu Taqpa yang gemar berburu di hutan seperti halnya tokoh penting lainnya.
Orientasi
Cerita tersebut berlatar di kerajaan dan menceritakan tentang kehidupan kerajaan. Hikayat Patani sangat kental dengan unsur-unsur Islami karena mendeskripsikan tentang kondisi asli di daerah Patani.
Komplikasi
Komplikasi pada cerita hikayat Patani adalah Sultan Mudhaffar Syah mengkhianati sahabatnya sendiri, yakni Beracau.
Hal ini membuat Beracau harus meninggalkan istana dan diasingkan.
Evolusi
Berkat tindakan yang memicu salah paham, Sultan Mudhaffar Syah dan para pengiringnya bisa dikalahkan dan Beracau bisa kembali menduduki tahta kerajaan.
Adiknya yang bernama Manzur Syah pun pergi meninggalkan Siam, tetapi Mudhaffar tinggal sendiri di Siam dan akhir kesudahannya tidak diketahui.
Resolusi
Sultan Manzur Syah menggantikan kedudukan sebagai Raja Patani. Pada masa pemerintahannya, daerah Patani diserang dua kali berturut-turut oleh Palembang.
Namun, serangan itu bisa digagalkan dan hubungan dengan wilayah Siam bisa diperbaiki dengan mengirimkan keputusan dari pimpinan Seri Agar.
Koda
Jangan membunuh seseorang meskipun merasa dendam atau benci terhadapnya. Menghilangkan nyawa manusia adalah tindakan yang tercela dan tidak dibenarkan dalam ajaran apapun.
4. Hikayat Kerajaan Gandalika
Alkisah, berdirilah sebuah Kerajaan bernama Gandalika. Kerajaan ini adalah negeri yang sangat indah dan menawan. Tanahnya subur makmur dan masyarakatnya hidup tentram dan aman.
Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja bernama Baharuddin. Ia memiliki permaisuri yang cantik jelita bernama Salikah. Raja Baharuddin ialah seorang raja yang gagah perkasa.
Sahabat dan musuh-musuhnya pun sangat menghormatinya. Pedang yang diayunkannya membuat hati menjadi bergetar hebat.
Mata Raja Baharuddin nampak seperti elang yang melindungi anak-anaknya dari serangan musuh. Kakinya seperti kijang emas yang diincar para pemburu karena sangat kuat dan cepat.
Namun, ia memiliki kekurangan, yaitu belum memiliki keturunan. Permaisurinya sudah lama mereka menikah, namun Permaisuri Salikah belum kunjung dikaruniai oleh seorang putra.
Tetapi mereka masih belum mempunyai keturunan. Permaisuri menjadi berkecil hati dan meratapi nasibnya.
Suatu hari, Raja Baharuddin terbangun dan menunaikan sholat tahajud. Selepas itu, ia berdoa untuk diberikan seorang putra.
Raja Baharuddin bersujud sambil menahan air mata dan mengingat-ingat dosa yang pernah dilakukannya. hingga Allah memberikan hukuman yang begitu berat.Â
Apapun risikonya akan ia terima supaya mempunyai putra.
Abstraksi
Di suatu tempat, berdirilah kerajaan Gandalika yang sangat indah dan cantik. Rakyatnya hidup makmur karena tanah di kerajaan tersebut subur.
Kerajaan ini dikepalai oleh seorang raja yang bernama Baharuddin. Permaisuri Salikah adalah istrinya yang sangat cantik jelita.
Orientasi
Orientasi pada hikayat ini adalah berada di Kerajaan Gandalika. Latar waktu pada hikayat Kerajaan Gandalika tidak dijelaskan secara rinci.
Sedangkan suasana yang tergambar di dalamnya adalah ada penuh haru dan kesedihan karena Permaisuri tidak kunjung mendapat keturunan.
Komplikasi
Raja Baharuddin memiliki kekurangan, yakni belum memiliki anak. Padahal, pernikahannya dengan permaisuri telah berjalan cukup lama.
Evolusi
Meskipun belum juga dikaruniai keturunan, namun Raja Baharuddin senantiasa berdoa kepada Sang Pencipta agar segera mendapatkan momongan.
Resolusi
Setiap hari, ia selalu menjalankan sembahyang dan memohon ampunan kepada Tuhan. Berharap agar kali ini Tuhan mau mengabulkan permohonannya.
Koda
Apapun masalahnya, mengadu kepada Tuhan adalah hal yang wajib dilakukan. Sebab, hanya Tuhan yang mampu mengabulkan permohonan kita.
5. Hikayat Abu Nawas
Alkisah, di suatu negeri pernah terjadi perkara pelik yang melibatkan dua orang perempuan. Keduanya sama-sama mengaku sebagai ibu kandung dari seorang bayi mungil. Hakim yang biasa memutuskan perkara pun kali ini merasa sangat kebingungan, sebab bukti dan pengakuan yang diberikan kedua perempuan itu sama kuatnya. Karena bimbang, hakim akhirnya menghadap baginda raja untuk meminta bantuan.
Sang Raja turun tangan mencoba menyelesaikan masalah. Ia berharap salah satu perempuan mau mengalah demi kebaikan si bayi. Sayangnya, upaya itu tidak membuahkan hasil. Raja pun merasa putus asa dan akhirnya menunjuk Abu Nawas untuk mengambil alih perkara tersebut.
Namun, Abu Nawas tidak langsung memberi keputusan. Ia menunda sidang hingga hari berikutnya karena masih memikirkan cara yang tepat. Hari berikutnya, Abu Nawas hadir bersama algojo yang membawa sebilah pedang tajam. Ia meminta bayi diletakkan di atas meja, lalu berkata bahwa satu-satunya jalan keluar adalah dengan membelah bayi itu menjadi dua agar masing-masing perempuan mendapat bagian.
Mendengar ucapan itu, perempuan pertama langsung menyetujui. Sebaliknya, perempuan kedua menangis tersedu dan memohon agar bayi tidak disakiti. Ia bahkan rela menyerahkan haknya dan membiarkan bayi itu bersama perempuan pertama asalkan sang anak tetap hidup.
Melihat reaksi itu, Abu Nawas pun yakin bahwa perempuan kedua adalah ibu kandung sang bayi. Hanya seorang ibu sejati yang rela kehilangan segalanya demi keselamatan buah hatinya. Akhirnya bayi tersebut pun diserahkan pada perempuan kedua.
Abstraksi
Di suatu negeri, terjadi perkara antara dua perempuan yang sama-sama mengaku sebagai ibu dari seorang bayi. Perselisihan ini menimbulkan kebingungan bagi hakim.
Orientasi
Kisah ini terjadi di pengadilan kerajaan dengan latar suasana tegang, sebab nasib seorang bayi diperebutkan oleh dua orang perempuan. Hakim dan raja sama-sama berusaha mencari jalan keluar.
Komplikasi
Meski telah ditangani oleh hakim dan bahkan raja, masalah tidak juga menemukan titik terang. Kedua perempuan tetap bersikeras dengan pengakuannya masing-masing.
Evolusi
Raja kemudian menyerahkan perkara ini kepada Abu Nawas. Ia menunda sidang hingga esok hari untuk memikirkan cara menyelesaikan masalah.
Resolusi
Dengan kecerdikannya, Abu Nawas menghadirkan algojo dan mengancam untuk membelah bayi menjadi dua. Dari reaksi kedua perempuan, ia bisa mengetahui siapa ibu kandung yang sebenarnya.
Koda
Kisah ini mengajarkan bahwa kecerdikan dan kebijaksanaan sering kali lebih ampuh daripada kekuasaan. Kasih sayang seorang ibu sejati pun akan selalu terlihat dalam pengorbanannya.
Halaman:
