7 Contoh Teks Hikayat Singkat beserta Struktur dengan Unsur Intrinsik dan Ekstrinsiknya
Teks hikayat merupakan jenis teks yang tersebar di semenanjung Malaka. Menjadi media tutur fiksi sejarah yang penuh ajaran moral. Baca selengkapnya di sini.
6. Hikayat Bunga Kemuning
Alkisah, hiduplah seorang raja yang arif dan bijaksana. Ia mempunyai sepuluh orang putri yang semuanya berwajah elok. Sejak istrinya wafat setelah melahirkan anak bungsu, kesepuluh putrinya diasuh oleh pengasuh kerajaan. Dari semua putrinya, Puteri Kuning dikenal paling baik budi pekertinya dan berbeda dengan kakak-kakaknya.
Suatu ketika, sang raja hendak berangkat mengunjungi kerajaan sahabat demi menjaga persahabatan. Sebelum pergi, ia memanggil putri-putrinya untuk bertanya apa oleh-oleh yang mereka inginkan. Kesembilan kakaknya meminta benda mewah seperti perhiasan, sementara Puteri Kuning hanya berdoa agar ayahnya kembali dengan selamat.
Ketika sang raja meninggalkan istana, kesembilan putri semakin nakal hingga para pelayan kewalahan menghadapinya. Puteri Kuning berbeda, ia lebih suka merawat taman istana meskipun sering diejek kakaknya.
Setelah beberapa waktu, raja kembali. Hanya Puteri Kuning yang menyambutnya dengan penuh sukacita. Walau tidak meminta hadiah, raja tetap menghadiahkannya kalung batu hijau. Keesokan harinya, ketika semua putri menerima oleh-oleh, Puteri Hijau merasa iri melihat kalung Puteri Kuning. Ia meminta kalung itu, namun ditolak karena hadiah itu adalah pemberian langsung dari ayah mereka. Puteri Hijau pun memfitnah Puteri Kuning kepada kakak-kakaknya.
Pertengkaran pun tak terelakkan. Hingga akhirnya, Puteri Kuning meninggal akibat kekerasan kakak-kakaknya sendiri. Jasadnya dikuburkan secara tersembunyi. Raja memerintahkan semua pengawalnya untuk mencari sang putri bungsu, tetapi usaha itu sia-sia. Menyadari kesalahannya karena gagal mendidik putri-putrinya, raja murka dan mengasingkan kesembilan anaknya ke negeri seberang untuk belajar memperbaiki sikap.
Beberapa waktu kemudian, di atas makam Puteri Kuning tumbuhlah tanaman indah yang belum pernah dilihat raja sebelumnya. Daunnya hijau seperti kalung batu hijau, batangnya menyerupai jubah, dan bunganya berwarna putih kekuningan dengan aroma harum. Tanaman itu kemudian dinamai bunga kemuning. Sejak saat itu, bunga kemuning digunakan untuk wewangian rambut, sementara kulit kayunya bermanfaat untuk bedak penghalus wajah.
Abstraksi
Hidup seorang raja dengan sepuluh putri yang cantik jelita. Sang istri telah tiada, sehingga putri-putrinya diasuh pengasuh kerajaan. Puteri Kuning menjadi yang paling berbudi baik di antara saudaranya.
Orientasi
Latar cerita berada di istana kerajaan dengan suasana penuh iri hati dan kesedihan. Waktu tidak dijelaskan secara rinci, namun terlihat jelas adanya konflik keluarga kerajaan.
Komplikasi
Puteri Hijau iri pada kalung hadiah Raja kepada Puteri Kuning. Karena tidak diberi, ia memfitnah adiknya dan menghasut kakak-kakaknya. Pertengkaran besar pun pecah.
Evolusi
Puteri Kuning akhirnya wafat akibat perbuatan kakak-kakaknya sendiri. Raja menyesal karena gagal membimbing putrinya, lalu mengasingkan kesembilan putrinya ke negeri lain.
Resolusi
Di atas makam Puteri Kuning tumbuhlah tanaman baru yang cantik, harum, dan belum pernah ada sebelumnya. Raja menamainya bunga kemuning.
Koda
Dari kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa kebaikan hati lebih berharga daripada harta benda. Rasa iri dan dengki hanya akan membawa pada kehancuran.
7. Hikayat Tiga Pengembara Lapar
Alkisah, ada tiga orang pengembara yang bernama Buyung, Kendi, dan Awang. Mereka melakukan perjalanan panjang hingga tiba di sebuah hutan. Di sana, mereka kelaparan karena bekal makanan sudah habis.
Dalam kondisi itu, Kendi dan Buyung mulai membual. Mereka mengaku bisa menghabiskan nasi sebanyak satu sekawah dan sepuluh ekor ayam sendirian. Berbeda dengan keduanya, Awang hanya berharap bisa mendapatkan sepiring nasi dengan sedikit lauk untuk sekadar mengisi perut.
Tanpa mereka sangka, muncul sebuah pohon ara ajaib yang bisa mendengar keinginan. Pohon itu menjatuhkan tiga helai daun. Ajaibnya, tiap daun berubah menjadi makanan sesuai dengan permintaan masing-masing.
Awang makan secukupnya dan segera berhenti ketika kenyang. Namun, Kendi dan Buyung terus melahap makanan mereka dengan rakus. Tak lama, Kendi menyerah karena terlalu kenyang, tapi makanan yang tersisa justru murka. Nasi yang tak termakan itu kemudian menggigit tubuh Kendi hingga binasa.
Buyung pun bernasib serupa. Ia hanya mampu menelan seekor ayam, lalu membuang sisa sembilan ayam ke semak-semak. Anehnya, ayam-ayam itu hidup kembali dan menyerangnya hingga tewas. Sementara itu, Awang hanya bisa tertegun menyaksikan kedua sahabatnya menemui ajal karena keserakahan mereka sendiri.
Abstraksi
Tiga pengembara lapar kehabisan bekal di hutan. Mereka membuat permintaan yang berbeda, lalu keajaiban pohon ara menjawab harapan mereka.
Orientasi
Cerita berlangsung di sebuah hutan, dalam suasana lapar dan putus asa. Tiga tokoh utama adalah Buyung, Kendi, dan Awang.
Komplikasi
Kendi dan Buyung meminta makanan dalam jumlah berlebihan, sementara Awang cukup mengambil secukupnya. Sikap tamak dua pengembara itu memicu masalah.
Evolusi
Awang makan sewajarnya, tetapi Buyung dan Kendi melahap berlebihan hingga makanan sisa yang mereka buang justru berbalik menyerang.
Resolusi
Kendi mati digigit nasi yang tidak termakan, Buyung tewas diserang sembilan ayam yang dibuangnya. Awang selamat karena tidak serakah.
Koda
Cerita ini mengajarkan bahwa keserakahan membawa celaka. Bersikap sederhana dan tahu batas adalah kunci keselamatan.
Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik pada Contoh Teks Hikayat
Berikut adalah unsur intrinsik dan Ekstrinsik hikayat sesuai dengan contoh teks hikayat yang telah dijelaskan di atas:
1. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat Si Miskin
- Tema: Tema pada Hikayat Si Miskin adalah kesabaran akan membuahkan kesuksesan. Perjalanan hidup yang banyak rintangan dan cobaan dapat dilalui dengan doa dan usaha tanpa henti.
- Alur:Â Alur maju, bisa terlihat dari awal, penulis menceritakan peristiwa tersebut secara runtut dari akar permasalahan sampai akhir.
- Tokoh
- Mara Karmah,
- Puteri Nila Kesuma,
- Pemilik kebun.
- Watak
- Mara Karmah memiliki sifat penyayang, pemberani, dan tekun
- Puteri Nila Kesuma memiliki sifat yang manja dan cengeng
- Pemilik kebun memiliki sifat yang pemarah dan ceroboh.
- Latar
- Latar tempat: Istana, gunung, hutan, dan dusun.
- Latar waktu: Pagi, siang, malam (tidak dijelaskan secara mendetail).
- Latar sosial: Menceritakan tentang kondisi tokoh yang penuh penderitaan.
- Sudut pandang: Sudut pandang pada Hikayat Si Miskin menggunakan sudut pandang orang ketiga.
- Alur: Hikayat ini menggunakan alur maju karena berorientasi pada masa depan.
- Amanat: Amanat yang terkandung dalam cerita ini adalah sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.
- Unsur Ekstrinsik:
- Nilai sosial: Mengajarkan pentingnya kerja keras, doa, dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan hidup.
- Nilai moral: Kesabaran, ketekunan, dan keberanian akan membuahkan hasil yang baik; jangan mudah putus asa.
- Nilai budaya: Menggambarkan kehidupan masyarakat pada zaman dahulu, termasuk adat, interaksi sosial, dan hierarki kerajaan.
- Nilai religius/spiritual: Menunjukkan bahwa doa dan ketergantungan kepada Tuhan menjadi jalan untuk meraih kesuksesan dan perlindungan dalam menghadapi cobaan.
2. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat Dua Bersaudara
- Tema: Tema pada Hikayat Dua Bersaudara adalah tentang perebutan tahta antar saudara.
- Alur: Alur yang digunakan dalam hikayat ini adalah alur maju.
- Tokoh: Tokoh pada cerita ini adalah Raja Ahmad, Raja Muhammad, Merah Gaja, Putri Betong
- Watak
- Raja Ahmad: Baik, bersahaja
- Raja Muhammad: Baik, bersahaja
- Merah Gaja: Jahat
- Putri Betong: Baik, ramah
- Latar
- Latar tempat: Kerajaan Samudera Darul Islam
- Latar waktu: Pagi, siang, malam (tidak disebutkan secara jelas)
- Latar suasana: Tegang, penuh intrik, banyak terjadi pembunuhan.
- Sudut Pandang: Hikayat ini menggunakan sudut pandang orang ketiga.
- Alur: Alur yang digunakan pada hikayat Dua Bersaudara adalah alur maju.
- Amanat: Amanat yang terkandung dalam hikayat ini adalah jangan membunuh orang yang tidak berdosa.
- Unsur Ekstrinsik:
- Nilai sosial: Menggambarkan pentingnya persaudaraan, kejujuran, dan keadilan dalam kehidupan sosial, serta bahaya jika intrik dan kekuasaan menguasai hati seseorang.
- Nilai moral: Mengajarkan agar tidak melakukan kekerasan atau membunuh orang yang tidak bersalah, menghormati hak orang lain, dan menjaga hubungan keluarga.
- Nilai budaya: Memperlihatkan struktur kerajaan, adat istiadat, dan hubungan antara raja dengan rakyat di zaman dahulu.
- Nilai religius/spiritual: Mengingatkan bahwa kejahatan dan tindakan tidak adil akan menuai konsekuensi, sedangkan kebaikan dan kejujuran akan mendapatkan balasan yang setimpal.
3. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat Patani
- Tema: Tema pada cerita ini adalah perebutan tahta.
- Alur: Alur cerita pada Hikayat Patani menggunakan alur maju.
- Tokoh: Tokoh yang terdapat dalam cerita ini adalah Phaya Tu Kerub Mahajana, Phaya Tu Taqpa, Sultan Mudhaffar Sya. Sultan Patik Siam, dan Beracau.
- Watak
- Phaya Tu Kerub Mahajana: Tegas, berwibawa.
- Phaya Tu Taqpa: Penurut, Baik
- Sultan Mudaffar Sya: Baik dan adil
- Sultan Patik Siam: Bersikap semaunya sendiri
- Beracau: Tidak mudah terkalahkan
- Latar: Latar pada cerita ini adalah kerajaan.
- Sudut Pandang: Sudut pandang yang digunakan dalam Hikayat Patani adalah sudut pandang orang ketiga.
- Alur: Alur yang dipakai pada cerita ini adalah alur maju.
- Amanat: Jangan berebut tahta dengan cara saling membunuh karena itu perbuatan yang sangat buruk.
- Unsur Ekstrinsik:
- Nilai sosial: Menggambarkan hubungan antar penguasa, pentingnya kerja sama, dan akibat negatif dari perebutan kekuasaan yang tidak etis.
- Nilai moral: Menekankan bahwa perebutan tahta dengan cara kekerasan dan membunuh adalah tindakan tercela dan harus dihindari.
- Nilai budaya: Memperlihatkan struktur kerajaan, adat istiadat, dan kehidupan kerajaan di masa lalu, termasuk interaksi antara raja, pangeran, dan pejabat kerajaan.
- Nilai religius/spiritual: Menyiratkan bahwa tindakan jahat akan mendapatkan ganjaran, sementara perilaku adil dan bijaksana akan membawa kesejahteraan dan keharmonisan dalam kerajaan.
4. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat Kerajaan Gandalika
- Tema: Tema pada hikayat Kerajaan Gandalika adalah tentang perjuangan mendapat seorang putra.
- Alur: Alur yang digunakan dalam cerita ini adalah alur maju.
- Tokoh: Tokoh pada Hikayat Kerajaan Gandalika adalah Raja Baharuddin dan Salikah.
- Watak: Watak Raja Baharuddin adalah gagah perkasa, baik, berwibawa, dan sabar. Sedangkan Salikah berwatak sabar dan penuh kasih sayang.
- Latar: Latar pada cerita ini adalah kerajaan Gandalika
- Sudut Pandang: Sudut pandang yang digunakan dalam cerita ini adalah orang ketiga.
- Alur: Hikayat Kerajaan Gandalika menggunakan alur maju.
- Amanat:
- Amanat yang terkandung di dalam cerita ini adalah kita harus memiliki sikap pantang menyerah ketika menginginkan sesuatu.Â
- Jangan lupa sertakan Tuhan dalam setiap jalan hidup kita.
- Unsur Ekstrinsik:
- Nilai sosial: Menggambarkan hubungan harmonis antara raja dan permaisuri, serta pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam mendukung kepemimpinan.
- Nilai moral: Menekankan pentingnya kesabaran, ketekunan, dan doa dalam meraih keinginan hidup.
- Nilai budaya: Memperlihatkan adat dan tradisi kerajaan, termasuk peran raja, permaisuri, serta upacara keagamaan seperti sholat tahajud dan doa.
- Nilai religius/spiritual: Menunjukkan bahwa keberhasilan dan rezeki berasal dari Tuhan, sehingga manusia harus selalu berserah dan berdoa.
5. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat Abu Nawas
- Tema: Tema cerita ini adalah tentang kecerdikan dan keadilan dalam menyelesaikan masalah.
- Alur: Alur cerita menggunakan alur maju, dari munculnya kasus hingga Abu Nawas menyelesaikannya.
- Tokoh: Abu Nawas, dua perempuan yang memperebutkan bayi, raja, dan hakim.
- Watak:
- Abu Nawas: cerdas, bijaksana, adil.
- Perempuan pertama: egois, keras hati.
- Perempuan kedua: penyayang, rela berkorban.
- Raja: penasaran dan ingin membantu.
- Latar: Istana raja dan ruang sidang untuk kasus bayi.
- Sudut Pandang: Orang ketiga.
- Amanat:
- Kecerdikan dan akal sehat bisa membantu menyelesaikan masalah sulit.
- Ibu sejati adalah yang rela mengorbankan diri demi anaknya.
- Unsur Ekstrinsik:
- Nilai sosial: menekankan keadilan dan kepedulian terhadap anak.
- Nilai moral: pentingnya kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang orang tua.
6. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Bunga Kemuning
- Tema: Tema pada hikayat ini adalah tentang kebaikan hati, kesetiaan, dan akibat iri hati.
- Alur: Alur maju, dari kehidupan putri yang baik, konflik dengan kakak-kakaknya, hingga munculnya bunga kemuning sebagai simbol kenangan.
- Tokoh: Raja, Puteri Kuning, Puteri Hijau, kakak-kakak Puteri Kuning, pengasuh kerajaan.
- Watak:
- Puteri Kuning: baik, penyayang, rajin, rendah hati.
- Puteri Hijau: iri, cemburu, egois.
- Raja: bijaksana tetapi menyesal karena kurang mendidik putrinya.
- Latar: Kerajaan raja, taman, rumah istana, tanah kuburan Puteri Kuning.
- Sudut Pandang: Orang ketiga.
- Amanat:
- Kebaikan hati dan perilaku yang benar akan dikenang meski ada musibah.
- Iri hati dan keserakahan dapat mendatangkan malapetaka.
- Unsur Ekstrinsik:
- Nilai sosial: pendidikan dan pengawasan anak perlu diperhatikan.
- Nilai moral: kebaikan dan kesabaran membawa kebaikan, sedangkan iri hati merugikan.
- Nilai budaya: penggambaran bunga kemuning sebagai simbol keindahan dan kenangan.
7. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Tiga Pengembara Lapar
- Tema: Tema hikayat ini adalah tentang kesederhanaan, keserakahan, dan akibat dari perilaku rakus.
- Alur: Alur maju, dari perjalanan pengembara, menemukan pohon ajaib, hingga akibat keserakahan.
- Tokoh: Buyung, Kendi, Awang, pohon ara ajaib.
- Watak:
- Buyung dan Kendi: tamak, serakah, egois.
- Awang: sederhana, bijaksana, cukup dengan secukupnya.
- Latar: Hutan dan lokasi pohon ara ajaib.
- Sudut Pandang: Orang ketiga.
- Amanat:
- Keserakahan membawa kehancuran.
- Bersikap sederhana dan tahu batas adalah kunci keselamatan.
- Unsur Ekstrinsik:
- Nilai sosial: pentingnya mengatur keinginan dan perilaku makan.
- Nilai moral: kesederhanaan dan bijaksana lebih dihargai daripada keserakahan.
- Nilai budaya: penggunaan hikayat sebagai media untuk menanamkan pelajaran hidup kepada pembaca.
Penutup
Contoh teks hikayat dan unsur pentingnya di atas dapat menjadi buah pembelajaran yang berharga bagi masyarakat di masa kini.
Pastinya, akan selalu ada amanah atau pesan moral dari setiap contoh teks hikayat singkat beserta struktur yang terkandung di dalam hikayat. Semoga contoh teks hikayat ini bermanfaat. 😊✨
Referensi:
Hikayat [Daring]. Tautan: https://kbbi.web.id/hikayat
Hikayat Adalah: Pengertian, Ciri-ciri, Unsur, Struktur, dan Contoh [Daring]. Tautan: https://www.detik.com/bali/berita/d-6593509/hikayat-adalah-pengertian-ciri-ciri-unsur-struktur-dan-contoh
Mengenal Hikayat: Ciri, Unsur, Jenis, dan Tujuannya [Daring]. Tautan:Â https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5806741/mengenal-hikayat-ciri-unsur-jenis-dan-tujuannya.
Hikayat: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Bentuk dan Contoh [Daring]. Tautan: https://www.brainacademy.id/blog/teks-hikayat
Halaman:

