Ringkasan Hikayat Abu Nawas dan 2 Orang Ibu beserta Pesan Moralnya
Hikayat adalah sebuah cerita atau dongeng yang berasal dari Timur Tengah dan memuat pesan moral di dalamnya. Berikut ringkasan hikayat Abu Nawas dan 2 Orang Ibu dan pesan moralnya.
2. Jenis Teks Hikayat Berdasarkan Asalnya
Hikayat dapat dikelompokkan berdasarkan asalnya, antara lain:
- Melayu Asli: Hikayat yang berasal dari wilayah Melayu dengan ciri khas dan budaya lokal Melayu.
- Jawa: Hikayat yang berasal dari pulau Jawa, menyesuaikan dengan kekayaan budaya Jawa.
- Hindu (India): Hikayat yang memiliki pengaruh Hindu, khususnya dari India.
- Arab-Persia: Hikayat yang mendapat pengaruh dari budaya Arab dan Persia.
Beberapa hikayat yang populer di antaranya adalah Hikayat Si Miskin dan Marakarma, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Dua Abu, Hikayat Bayan Budiman
Ada pula Hikayat Antu Ayek, Hikayat Patani, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Abu Nawas, serta Hikayat Sri Rama.
Ringkasan Hikayat Abu Nawas dan 2 Orang Ibu
Dulu, zaman Abu Nawas, ada satu masalah rumit. Ada bayi yang diakui oleh dua perempuan yang sama-sama mengaku sebagai ibunya.
Kedua perempuan itu sangat ingin punya anak, dan hakim waktu itu bingung harus memutuskan. Siapa yang sebenarnya ibu kandung bayi itu?
Kasus itu makin rumit dan tak kunjung selesai. Akhirnya, sang raja, yaitu Harun al-Rasyid, diminta tolong oleh hakim.
Sang raja pun mau membantu dengan memberikan saran, salah satunya dengan menggunakan taktik rayuan.
Harun al-Rasyid pikir, dengan cara yang halus, pasti salah satu dari mereka akan mengalah. Tapi malah sebaliknya, taktik sang raja membuat kedua perempuan itu semakin keras kepala untuk mengaku sebagai ibu sang bayi.
Akhirnya, sang raja menyerah. Dia memanggil Abu Nawas untuk bantuan.
Abu Nawas setuju dan menggantikan hakim untuk menyelesaikan masalah itu. Tapi, Abu Nawas tak langsung putuskan masalah itu saat itu juga. Dia pilih menunda keputusan sampai besok.
Esok harinya, sidang pengadilan kembali digelar untuk memutuskan siapa ibu sebenarnya dari bayi yang menjadi pusat perdebatan.
Abu Nawas, pria cerdas dan penuh kejutan, memanggil seorang algojo yang tegap dengan pedang di tangannya.
Dengan sikap serius, dia memerintahkan agar sang bayi diletakkan dengan lembut di atas meja kayu yang berada di tengah ruangan.
Halaman:

