Ringkasan Hikayat Abu Nawas dan 2 Orang Ibu beserta Pesan Moralnya
Hikayat adalah sebuah cerita atau dongeng yang berasal dari Timur Tengah dan memuat pesan moral di dalamnya. Berikut ringkasan hikayat Abu Nawas dan 2 Orang Ibu dan pesan moralnya.
Kedua perempuan yang terlibat dalam sengketa itu saling bertatapan, merasa gelisah dengan kehadiran Abu Nawas yang dikenal sebagai sosok penuh tipu daya.
Mereka berdua dengan rasa penasaran bertanya pada Abu Nawas, “Apa yang akan kau lakukan terhadap bayi ini?”
Abu Nawas menjawab dengan tenang, “Sebelum saya mengambil tindakan, apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan sang bayi kepada yang berhak?”
Kedua perempuan itu dengan keras kepala menegaskan, “Tidak, bayi ini adalah anakku.”
Dengan nada suara yang serius, Abu Nawas menyatakan, “Jika kalian tetap teguh pada keinginan masing-masing dan tak ada yang mau mengalah, saya terpaksa mengambil langkah ekstrem. Saya akan membelah bayi ini menjadi dua, setengah bagian untuk masing-masing dari kalian.”
Kata-kata Abu Nawas telah menciptakan beban pikiran yang besar pada perempuan kedua, dan aura kegelisahan pun terpancar jelas dari setiap gerakannya.
Dalam hatinya jelas memancarkan ketidaksetujuan, merenungi nasib bayi yang berada di tengah perselisihan mereka.
Namun, berbeda dengan perempuan kedua, perempuan pertama merasa ada gelombang kegembiraan.
Ekspresi wajahnya dipenuhi kebahagiaan yang luar biasa, seolah memperoleh kemenangan.
Suasana tegang semakin terasa, dan keputusan Abu Nawas akan memberikan arah yang tak terduga pada perkembangan selanjutnya.
Di sisi lain, perempuan kedua mengeluarkan jeritan histeris, lalu berteriak, “Jangan, tolong jangan membelah bayi itu. Aku rela bayi ini diserahkan sepenuhnya kepada perempuan pertama.”
Rahasia kedua perempuan itu pun akhirnya terungkap.
Abu Nawas segera mengambil tindakan. Dengan hati yang tegas, ia mengambil dan menyerahkan sang bayi kepada perempuan kedua.
Tapi, Abu Nawas tidak hanya berhenti di situ. Ia juga meminta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya yang sebelumnya.
Dalam momen yang dramatis ini, tampaklah gambaran kuatnya emosi dan ikatan antara ibu dan anak. Kegembiraan, keputusasaan, dan keberanian menjadi warna-warna dalam kisah ini.
Perempuan pertama yang sebelumnya girang kini harus menghadapi konsekuensi atas tindakannya.
Halaman:

