100+ Kosakata Bahasa Bali Sehari-hari beserta Artinya, Bahasa Halus hingga yang Kasar
Apakah kamu sedang ingin mencari kosakata bahasa Bali yang digunakan dalam bahasa sehari-hari dari yang halus sampai yang kasar? Yuk, temukan rekomendasinya di sini!
Kosakata Halus dalam Bahasa Bali 51 – 60
- Cingakin memiliki arti [lihat]
- Melahang ngejang memiliki arti [benerin naruh]
- Aji Kuda Niki memiliki arti [Berapa harganya ini]
- Matur suksma memiliki arti [Terima kasih]
- Ngudiang memiliki arti [Kamu lagi ngapain]
- Melali memiliki arti [Jalan-jalan]
- Jaen memiliki arti [enak]
- Jagi numbas niki memiliki arti [Mau beli ini]
- Tiang jagi lunga ke Kintamani memiliki arti [Saya ingin pergi ke Kintamani]
- Om Swastyastu memiliki arti [mirip dengan puji Tuhan atau assalamualaikum]
Kosakata Halus dalam Bahasa Bali 61 – 70
- Punapi gatra? memiliki arti [apa kabar]
- Mesare memili arti [tidur]
- Wedangan memiliki arti [minum]
- Mekarya memiliki arti [bekerja]
- Umah memiliki arti [rumah]
- Bedak pisan memiliki arti [haus sekali]
- Peken gede memiliki arti [mall atau bazar]
- Toyane ngrebus memiliki arti [merebus air]
- Numbas bawi memiliki arti [membeli babi]
- Dumun manjus memiliki arti [mandi dulu]
Kosakata Halus dalam Bahasa Bali 71 – 80
- Icenin tiang uning memiliki arti [kabari aku, ya]
- Mamargi kija memiliki arti [pergi ke mana]
- Lunga ka bandara memiliki arti [pergi ke bandara]
- Ngawacen buku memiliki arti [membaca buku]
- Ngutang lulu memiliki arti [pinjam dulu]
- Nginem teh iriki memiliki arti [minum teh di sini]
- Busanane becik memiliki arti [bajunya bagus]
- Pianakne jegeg memiliki arti [anaknya cantik]
- Anake punika masawitra memiliki arti [orang-orangnya ramah]
- Prasida ngajeng iriki memiliki arti [bisa makan di sini]
Kosakata Halus dalam Bahasa Bali 81 – 90
- Tiang polih toya? memiliki arti [bisakah saya minta minum?]
- Dumogi jerone iring titiang memiliki arti [Kuharap kamu akan menemaniku]
- Suksma sampun ngwantu memiliki arti [terima kasih telah membantu]
- Ampura yening tiang iwang memiliki arti [terima kasih telah menunggu]
- Suksma sampun simpang memiliki arti [maaf jika saya salah]
- Ulun suba majanji memiliki arti [saya telah berjanji]
- Ngastawa ring pura memiliki arti [berdoa di pura]
- Pidan sameton ngrauhin memiliki arti [kapan kamu berkunjung]
- Tiang kari megae memiliki arti [saya masih kerja]
- Tiang dot ngabagiang ajengan memiliki arti [saya mau berbagi makanan]
Kosakata Kasar dalam Bahasa Bali
Seperti kebanyakan bahasa daerah lainnya di Indonesia, bahasa Bali juga memiliki kosakata kasar yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Walau kesannya kasar, tetapi kosakata kasar ini kerap kali digunakan untuk menunjukkan keakraban dari penutur dengan lawan bicaranya.
Hanya saja, makna dari kosakata kasar ini tetaplah umpatan sehingga kamu harus berhati-hati memakainya supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman dengan lawan bicara.
1. Ndas bedag
Umpatan ini asalnya dari dua kata yakni ndas yang memiliki makna kepala dan bedag yang memiliki makna kuda.
Dalam bahasa bali umpatan ini bisa diartikan sialan yang bisa mewakili rasa tidak suka, marah, atau kurang puas terhadap sesuatu.
2. Sakit gede
Meskipun arti sebenarnya adalah sakit besar, tetapi makna dari kata ini tidaklah demikian. Sebab, di bahasa Bali, kosakata ini sering digunakan untuk umpatan yang memiliki makna sial atau sialan.
3. Bebangkan
Umpatan ini juga termasuk yang sering dijumpai dalam percakapan orang Bali yang sudah berkawan akrab dan dalam situasi yang santai atau digunakan untuk memaki seseorang yang dinilai kurang ajar atau tidak tahu aturan. Adapun makna dari umpatan bebangkan ini adalah bedebah.
4. Naskleng
Dalam perbincangan sehari-hari, umpatan ini termasuk sering ditemui. Adapun makna dari umpatan ini nyaris mirip dengan bangsat.
Biasanya umpatan ini sering digunakan saat berbincang dengan teman yang sudah akrab atau digunakan untuk mengumpat pada suatu pendapat yang kurang disukai.
5. Pirata
Umpatan ini termasuk umpatan yang paling kasar di bahasa Bali. Sehingga meskipun sudah berkawan akrab, kamu disarankan untuk tidak memakainya.
Hal ini dikarenakan makna dari umpatan yang berasal dari daerah Singaraja ini dapat menghina para leluhur, sehingga bisa dikatakan kalau umpatan ini sampai terlontar, artinya yang mengatakan umpatan ini sudah benar-benar dalam keadaan marah.
Halaman:


