9 Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar Penuh Inspirasi dan Maknanya Lengkap!
Chairil Anwar adalah salah satu penyair terkenal di Indonesia dan sudah menghasilkan banyak karya puisi. Ingin tahu apa saja makna puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar? Simak artikel berikut.
2. Puisi ‘Diponegoro’ Karya Chairil Anwar
Diponegoro
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.
Maju.
Serbu.
Serang.
terjang
Februari 1943
Makna puisi ‘Diponegoro’ karya Chairil Anwar
Puisi ‘Diponegoro’ karya Chairil Anwar yang bertema patriotisme menggambarkan semangat untuk membela Indonesia. Digambarkan pula keberanian untuk melawan penjajah sekalipun jumlahnya sangat banyak.
Chairil Anwar menunjukkan kebanggaannya pada Pangeran Diponegoro melalui bait puisi yang ia tulis. Diponegoro berani melawan penjajah dan tidak merasa gentar.
Melalui puisi tersebut, Chairil Anwar juga ingin memberitahukan pembaca terkait hal-hal yang dapat diteladani dari Diponegoro.
3. Puisi ‘Krawang – Bekasi’ Karya Chairil Anwar
Krawang-Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
Halaman:

