9 Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar Penuh Inspirasi dan Maknanya Lengkap!
Chairil Anwar adalah salah satu penyair terkenal di Indonesia dan sudah menghasilkan banyak karya puisi. Ingin tahu apa saja makna puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar? Simak artikel berikut.
Makna puisi ‘Krawang – Bekasi’ karya Chairil Anwar
Puisi ‘Krawang – Bekasi’ yang ditulis Chairil Anwar menunjukkan para pahlawan yang gugur sekalipun mereka tidak dikenal. Mereka ingin dikenang dengan baik atas jasa-jasanya.
Perjuangan mereka belum selesai karena ribuan nyawa rekan seperjuangan belum bisa diperhitungkan.
Para pahlawan yang gugur dan sudah menjadi tulang belulang selayaknya dihargai. Salah satu caranya adalah dengan melanjutkan perjuangan mempertahankan negeri.
Selain itu, generasi yang hidup saat ini juga perlu menjaga serta menghargai jasa para pahlawan.
4. Puisi ‘Sia – Sia Karya Chairil Anwar
Sia-Sia
Penghabisan kali itu kau datang
membawaku karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Makna puisi ‘Sia – Sia’ karya Chairil Anwar
Chairil Anwar menulis karya puisi ‘Sia – Sia’ yang menunjukkan rasa duka.
Terlihat dari kalimat bait puisi yang tertulis ‘kembang berkarang’ dan kalimat sebelumnya, berarti terdapat karangan bunga yang dibawa untuk acara pemakaman.
Gambaran puisi Sia-Sia juga menunjukkan adanya harapan untuk penyair agar berkenan menerima cinta secara tulus.
Sayangnya, penyair merasa ragu dan tidak sadar akan adanya cinta di hatinya. Ada banyak waktu yang dihabiskan penyair untuk mencari makna cinta.
Pada akhirnya, penyair tidak menyesal dengan keputusannya. Ia memilih kesendirian dan kesepian, serta menghapus rasa cinta.
5. Puisi ‘Kepada Peminta-minta’ Karya Chairil Anwar
Kepada Peminta-minta
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Halaman:
