Ringkasan Resensi Buku Filosofi Teras, Buku Panduan Moral Anak Muda

Ringkasan Resensi Buku Filosofi Teras, Buku Panduan Moral Anak Muda – Sebelum membeli buku, kebanyakan orang akan mencari resensi buku judul terkait terlebih dahulu.

Mengingat di dalam resensi buku, pembaca bisa mengetahui garis besar sebuah buku, mulai dari sinopsis, pengarang, kekurangan, hingga kelebihannya.

Nah, buat kamu yang sedang mencari resensi buku berjudul Filosofi Teras, tampaknya artikel ini akan cukup bermanfaat untuk kamu.

Berikut Ringkasan Resensi Buku Filosofi Teras

https://medium.com/@ririsrismawati

Apakah kamu tipikal orang yang suka membaca resensi buku terlebih dahulu sebelum menikmatinya?

Nah, resensi buku dianggap penting bagi sebagian orang sebelum memutuskan ingin membaca buku apa.

Mengingat dari resensi buku tersebut kita bisa mengetahui garis besar sebuah buku, mulai dari kelebihan hingga kekurangannya.

Kamu
pun bisa melihat resensi buku yang biasanya terpampang di media cetak seperti
surat kabar dan majalah. Namun seiring berjalannya waktu, kini kamu bisa
menemukan resensi di sejumlah situs yang mengulas buku secara khusus.

Jadi, dengan adanya resensi kini kamu tidak perlu lagi membuang-buang uang dan waktu sebelum menikmati bacaan. Nah, dalam artikel ini Mamikos akan bagikan resensi buku berjudul Filosofi Teras karya Henry Manampiring.

Sekilas
Tentang Resensi Buku

Sebelum kita beralih membahas seputar resensi buku berjudul Filosofi Teras karya Henry Manampiring, lantas sudahkah kamu memahami makna dari resensi itu sendiri?

Mengutip buku yang ditulis oleh Marwoto berjudul Mari Meresensi Buku (2020), disebutkan bahwa resensi berasal dari bahasa Belanda, yaitu rencentie yang artinya wawasan.

Sederhananya, resensi buku dapat diartikan sebagai kegiatan mengulas isi buku yang akhirnya menarik kesimpulan berupa pandangan terhadap topik yang dibahas dalam buku.

Resensi buku juga berarti mempelajari, memahami dan menganalisa buku dengan tujuan untuk menemukan kelebihan dan kekurangannya.

Sasaran dari resensi buku mencakup dua arah, yaki penulis buku dan calon pembaca buku.

Bagi penulis buku, resensi berfungsi sebagai bahan pertimbangan berupa saran guna memperbaiki kekurangan buku. Sementara bag pembaca, resensi dapat memberikan gambaran umum seputar buku terkait.

Mengutip
buku karya Dra. Idda Ayu Kusrini, M.Pd berjudul Bahasa Indonesia 3 (2008), ada
beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam meresensi buku, antara lain
sebagai berikut:

  • Pengenalan terhadap buku yang diresensi meliputi tema, deskripsi isi, penerbit, waktu penerbitan, lokasi penerbitan, tebal halaman, identitas pengarang.
  • Membaca buku yang akan diresensi dengan cermat, teliti, dan komperhensif.
  • Menandai bagian-bagian buku yang penting untuk dijadikan data.
  • Membuat intisari buku yang hendak diresensi.
  • Menentukan sikap dalam menilai kerangka penulisan, bahasa, serta aspek teknis.
  • Menyunting atau merevisi hasil resensi.

Resensi
Buku Filosofi Teras

Untuk
lebih jelasnya, simak contoh resensi buku Filosofi Teras yang dikutip dari laman
ruangguru.com berikut ini:

Judul Buku: Filosofi Teras (Filosofi Yunani Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini)
Penulis: Henry Manampiring
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun: 2019
Halaman: 320 halaman

Sepanjang hidup manusia mengalami berbagai masalah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemui banjir ketika hujan lebat, dikecewakan orang lain, mengalami  kemacetan parah di jalan, adalah sedikit contoh problem nyata yang terus terjadi. Banyak orang ingin menjalani kehidupan dengan tenang tanpa harus  repot memikirkan masalah yang datang. Hal semacam
itu tak mungkin terjadi.

Manusia dapat menemukan ketenangan saat menghadapi “kebisingan” dalam menjalani kegiatan. Salah satu cara menemukan ketenangan dapat kita jumpai dengan pengendalian diri ala Filosofi Teras. Buku ini menjadi karya best-seller kategori pengembangan diri untuk semua kalangan usia.

Romo Setyo Wibowo, dalam pengantar buku ini menjelaskan, Filosofi Teras mengusung kebahagiaan yang tidak lazim. Para penganut Filosofi Teras menganggap bahwa kebahagiaan bersifat “negatif logis”, yaitu tiadanya penderitaan, tiadanya emosi, saat manusia tidak diganggu oleh nafsu (hal. xi)

Filosofi Teras adalah ajaran filsafat yang berkembang di Yunani hingga kekaisaran romawi pada tahun 300 tahun sebelum masehi. Pertama kali diperkenalkan oleh Zeno, kemudian pengaruhnya semakin berkembang saat era Marcus Aurelius.  Sejak dulu, ajaran ini mengedepankan pengendalian diri atas masalah yang dihadapi. Penulis memaparkan tujuan Filosofi Teras tidak sekadar mencapai kebahagiaan, namun juga berdamai dengan diri sendiri atas masalah yang dihadapi.

Pada Bab 3, penulis memperkenalkan salah satu prinsip terkenal yang disebut dikotomi kendali. Prinsip yang mengutamakan fokus pada hal- hal yang mampu kita kendalikan, bukan pada hal-hal di luar kendali kita. Hal-hal yang dapat dikendalikan adalah pikiran dan tindakan kita sendiri. Sedangkan di luar kendali antara lain: Tindakan orang lain, opini orang lain, kondisi tubuh, dan segala sesuatu di luar tindakan dan pikiran kita. Seseorang tidak bisa memilih kondisi yang ingin dihadapi. Akan tetapi, kita bisa menentukan respon apa dalam menghadapi setiap kondisi.

Kemudian pada bab 6, buku menjelaskan hal tentang memperkuat mental. Ketika manusia menghadapi suatu kejadian apa pun, bisa menjadi momentum untuk melatih diri. Cara kita merespon musibah sebagai suatu pelajaran untuk mempersiapkan diri lebih baik. Saat kehilangan uang karena terjatuh di jalan, respon kita adalah berhati-hati dalam menjaga uang. Mengubah sikap atas masalah adalah kesempatan belajar membentuk mental yang kuat, daripada sekadar mengeluh atau mengumpat tanpa menghasilkan perubahan.

Buku yang terbit tahun 2019 ini secara khusus juga membahas tentang kematian. Kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Kematian adalah bagian dari alam, yang terus ada sepanjang zaman. Kematian menjadi menakutkan adalah gambaran manusia atas kematian itu sendiri. Para filsuf penganut Filosofi Teras menilai bukan seberapa panjang umur, tapi bagaimana menjalanai hidup dengan berkualitas.

Keuletan dan ketangguhan sejati bukan datang dari otot atau uang yang kita miliki, tetapi dari pikiran kita. Inilah kekuatan pikiran kita yang bisa mengubah halangan menjadi jalan itu sendiri. – Henry Manampiring, Filosofi Teras.

Kiat-kiat praktis dan pola pikir yang ditanamkan disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Selain itu, setiap bab dilengkapi dengan ilustrasi  kartun membuat pembaca tidak merasa bosan. Walaupun ukuran huruf yang dipakai sedikit kecil, hal ini tidak membuat Filosofi Teras kehilangan makna dalam memaparkan setiap informasi. Agar semakin menarik, contoh kasus yang disajikan erat kaitannya pada aktivitas yang mudah dijumpai.

Perjalanan menikmati  buku Filosofi Teras membuka wawasan baru mengenai aliran filsafat ini. Seperti ajaran filsafat lainnya, Filosofi Teras bukanlah ajaran yang sempurna. Kemauan untuk terus belajar menjadi lebih baik adalah sikap yang harus diambil dengan kerendahan hati.  Buku setebal 320 halaman ini bisa menjadi kamus pegangan yang ingin menjalani “ Kebahagiaan” dalam hidup.

Nah, itulah informasi yang bisa Mamikos bagikan kepada kamu terkait resensi buku berjudul Filosofi Teras karya Henry Manampiring.

Semoga resensi buku di atas dapat menjadi bahan pertimbangan kamu sebelum membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring ya!

Bagi kamu yang ingin mencari informasi lainnya seputar resensi buku, kamu bisa mengunjungi situs blog Mamikos dan temukan informasi selengkapnya di sana.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta