Ringkasan Singkat Hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak beserta Pesan Moralnya

Ringkasan Singkat Hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak beserta Pesan Moralnya — Hikaray merupakan sebuah karya sastra lama yang bentuknya prosa Melayu yang di dalamnya bisa berisi cerita atau silsilah rekaan.

Dalam artikel Mamikos ini kamu akan menyimak ringkasan singkat hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak beserta pesan moralnya yang dapat dijadikan bahan renungan.

Simak artikel ini sampai selesai untuk memahami hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak tersebut.

Menyimak Ringkasan Singkat Hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak

youtube.com/TV Anak Indonesia

Sebelum masuk pada bahasan utama mengenai ringkasan singkat hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak, Mamikos akan menginformasikan dulu pengertian dari hikayat, nilai yang terkandung di dalamnya hingga apa saja jenis hikayat.

Mari langsung saja simak seperti apa pengertian dari hikayat sebelum masuk ke ringkasan singkat hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak tersebut.

Memahami Apa Itu Hikayat

Hikayat merupakan sebuah karya sastra lama yang berbentuk prosa Melayu yang di dalamnya berisi cerita, undang-undang, serta silsilah yang bersifat rekaan/karangan, keagamaan, historis, biografis, atau bisa juga gabungan dari sifat-sifat tersebut.

Kegunaan hikayat adalah sebagai pelipur lara, membangkitkan semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan acara/pesta.

Contoh hikayat yang mungkin sudah pernah kamu ketahui dan dengar antara lain “Hang Tuah”, “Perang Palembang” atau hikayat “Sa Ijaan dan Ikan Todak”.

Karena berasal dari Melayu, tak heran jika hikayat banyak ditulis dalam Bahasa Melayu.

Bertambahnya zaman, hikayat sudah banyak mengalami proses adaptasi dan terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang tujuannya adalah agar pembaca dapat lebih memahami isi dari hikayat secara menyeluruh.

Seperti yang sudah Mamikos sebutkan di atas, hikayat memiliki fungsi sebagai cerita penghibur atau di masa lalu disebut sebagai cerita pelipur lara.

Tak hanya itu saja. Ada pula hikayat yang sengaja ditulis untuk mendokumentasikan suatu peristiwa atau silisal seperti cerita masa lampau atau silsilah kerajaan.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Hikayat

Di dalam hikayat mengandung berbagai macam nilai yang cukup mengena dan bermanfaat bagi kehidupan.

Nilai-nilai yang dapat dipetik dan terkandung dalam hikayat antara lain adalah nilai moral, nilai agama, nilai sosial, dan nilai budaya.

Untuk penjelasan masing-masing nilai hikayat tersebut bisa kamu simak pada uraian di bawah ini:

Nilai Moral

Nilai moral menjadi nilai yang berkaitan dengan akhlak atau sikap baik dan buruk dari manusia.

Hikayat banyak mengandung nilai moral yang dapat dijadikan bahan renungan.

Nilai Agama

Nilai agama menjadi nilai yang juga dapat dipetik dari hikayat. Nilai ini berkaitan dengan kepercayaan tokoh akan keberadaan Tuhan atau Sang Pencipta.

Nilai Sosial

Nilai sosial jadi nilai yang berkaitan erat dengan relasi antarmanusia. Manusia dapat mempelajari mengenai nilai-nilai sosial dan dapat melatih diri bagaimana cara bersosial yang baik melalui hikayat.

Nilai Budaya

Nilai budaya jadi nilai yang dapat diambil dari hikayat dan berkaitan dengan adat istiadat atau suatu kebiasaan di suatu wilayah tertentu.

Karena hikayat berasal dari Melayu, maka pembacanya pun dapat banyak belajar mengenai kebudayaan Melayu saat membaca hikayat.

Jenis-jenis Hikayat

Mungkin yang kamu ketahui bahwa sebuah prosa lama akan bertemakan sejarah, keagamaan, biografi, epos, atau cerita rakyat yang kental akan hal-hal yang ajaib.

Keragaman cerita tersebut membuat hikayat terbagi ke dalam beberapa jenis yang bisa dibedakan dalam dua aspek, yakni aspek historis dan aspek isi cerita. Penjelasan kedua aspek tersebut bisa kamu simak pada bahasan berikut:

Aspek Historis

Sebagian besar hikayat sering dijumpai dalam bahasa Melayu klasik. Namun ada juga beberapa hikayat yang juga ditulis dalam bahasa lain.

Hal tersebut terjadi karena hikayat juga berasal dari banyak negara dengan keanekaragaman bahasa, latar belakang agama, dan sejarah yang berbeda satu sama lainnya.

Beberapa jenis hikayat dari aspek historis, antara lain adalah:

1. Hikayat Melayu

Hikayat Melayu sangat kental dengan unsur agama Islam secara umum. Contoh hikayat Melayu adalah “Hikayat Hang Tuah”.

2. Hikayat India

Ciri khas hikayat India adalah memiliki unsur agama Hindu. Kisah utama dalam hikayat agama Hindu, misalnya saja cerita “Sri Rama”.

Seiring berjalannya waktu, kisah tersebut berkembang menjadi hikayat lain seperti “Hikayat Pandawa Lima” dan “Hikayat Perang Pandawa”.

3. Hikayat Arab-Persia

Mayoritas agama yang dianut bangsa Arab dan Persia adalah agama Islam. Maka dari itu, hikayat yang muncul di sana bertema Islam dan mengandung nilai-nilai keislaman.

Beberapa contoh hikayat dari Arab-Persia adalah “Hikayat 1001 Malam”.

4. Hikayat Jawa

Dalam hikayat Jawa memiliki kemiripan sifat, tokoh, dan alur seperti hikayat yang berasal dari India dan Arab. Hal ini dikarenakan budaya Jawa dipengaruhi oleh agama Islam dan Hindu.

Adanya percampuran budaya yang berbeda tersebut akhirnya melahirkan suatu budaya baru. Beberapa contoh hikayat Jawa adalah “Hikayat Panji Semirang”.

Aspek Isi Cerita

Sementara dari aspek isi cerita, hikayat juga terbagi ke dalam beberapa jenis, antara lain adalah:

  • Sejarah
  • Biografi
  • Agama
  • Peristiwa
  • Cerita

Ringkasan Singkat Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak

Sudah tak sabar untuk membaca ringkasan singkat hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak beserta pesan moralnya?

Maka kamu bisa menyimak ringkasan singkat hikayat tersebut pada uraian sebagai berikut.

Menurut sahibul hikayat, sebermula ada seorang Datu yang dikenal sakti mandraguna sedang bertapa di tengah laut.

Ia dikenal sebagai Datu Mabrur. Ia bertapa di antara Selat Laut dan Selat Makassar.

Siang-malam Datu Mabrur bersemadi di batu karang, di antara percikan buih, debur ombak, angin, gelombang dan badai topan.

Datu Mabrur memohon kepada Sang Pencipta agar diberi sebuah pulau. Kelak, pulau itu akan menjadi tempat bermukim bagi anak-cucu dan keturunannya.

Hatta, ketika laut tenang, seekor ikan besar tiba-tiba muncul ke permukaan laut dan terbang menyerang Datu Mabrur.

Tanpa beringsut dari tempat duduk maupun membuka mata, Datu Mabrur menepis serangan mendadak dari itu.

Ikan itu terpelanting dan jatuh di karang. Setelah jatuh ke air, ikan itu kembali menyerang. Demikian terus terjadi berulang-ulang.

Di sekeliling karang, ribuan ikan lain mengepung, memperlihatkan gigi mereka yang panjang dan tajam, seakan prajurit siap tempur.

Pada serangan yang terakhir, ikan itu terpelanting jatuh persis saat Datu Mabrur sedang membuka matanya.

“Hai, ikan! Apa maksudmu mengganggu semadiku? Ikan, apa kamu?”

“Aku ikan todak, Raja Ikan Todak yang menguasai perairan ini. Semadimu membuat lautan bergelora. Kami terusik, dan aku memutuskan untuk menyerangmu.

Tapi, engkau memang sakti, Datu Mabrur. Aku takluk,” katanya, megap-megap. Matanya berkedip-kedip menahan sakit. Tubuhnya terjepit di sela-sela karang tajam.

“Datu, tolonglah aku. Obati luka-lukaku dan kembalikanlah aku ke laut. Kalau terlalu lama di darat, aku bisa mati. Atas nama rakyatku, aku berjanji akan mengabdi kepadamu, bila engkau menolongku…”

Raja Ikan Todak mulai mengiba-iba. Seolah sulit bernapas, insangnya membuka dan menutup.

“Baiklah,” Datu Mabrur lalu berdiri. “Sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, aku akan menolongmu.”

“Apa pun permintaanmu, kami akan memenuhinya. Datu ingin istana bawah laut yang terbuat dari emas dan permata, dilayani ikan duyung dan gurita? Ingin berkeliling dunia, Bersama ikan paus dan lumba-lumba?” tanya Ikan Todak

“Tidak. Aku tak punya keinginan untukku pribadi, tapi untuk masa depan anak-cucuku nanti.” Lalu, Datu Mabrur menceritakan maksud pertapaannya selama ini.

“Akan kukerahkan rakyatku, seluruh penghuni lautan dan samudera. Sebelum matahari terbit esok pagi, impianmu akan terwujud. Aku bersumpah!” jawab Raja Ikan Todak lantang.

Datu Mabrur tak dapat membayangkan, bagaimana Raja Ikan Todak akan memenuhi sumpahnya tadi.

“Baiklah. Tapi kita harus membuat perjanjian. Sejak sekarang kita harus sa-ijaan, seiring sejalan. Seia sekata, sampai ke anak-cucu kita. Kita harus rakat mufakat, bantu membantu, bahu membahu. Bagaimana, setuju?”

“Setuju, Datu,” sahut Raja Ikan Todak yang tergolek lemah. Ia sangat membutuhkan air.

Mendengar jawaban itu, Datu Mabrur tersenyum. Dengan hati-hati, mulai dilepaskannya tubuh Raja Ikan Todak dari jepitan karang, lalu diusapnya lembut.

Ajaib! Dalam sekejap, darah dan luka di sekujur tubuh Raja Ikan Todak mengering! Kulitnya licin kembali seperti semula, seakan tak pernah luka. Ikan itu menggerak-gerakkan sirip dan ekornya dengan gembira.

Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Datu Mabrur mengangkat Raja Ikan Todak itu dan mengembalikannya ke laut.

Ribuan ikan yang tadi mengepung karang, kini berenang mengerumuninya, melompat-lompat bersuka ria.

“Sa-ijaan!” seru Raja Ikan Todak sambil melompat di permukaan laut.

“Sa-ijaan!” sahut Datu Mabrur.

Sebelum tengah malam, sebelum batas waktu pertapaannya berakhir, Datu Mabrur dikejutkan oleh suara gemuruh yang asalnya dari dasar laut. Gemuruh perlahan, tapi pasti.

Gemuruh suara itu terdengar bersamaan dengan timbulnya sebuah daratan, dari dasar laut! Kian lama, permukaan daratan itu kian tampak. Naik dan terus naik! Lalu, seluruhnya timbul ke permukaan!

Di bawah permukaan air, ada jutaan ikan dari berbagai jenis mendorong dan memunculkan daratan baru itu dari dasar laut. Sambil mendorong, mereka serempak berteriak, “Sa-ijaan! Sa-ijaan! Sa-ijaaan…!”

Datu Mabrur sontak tercengang di karang pertapaannya. Raja Ikan Todak telah memenuhi sumpahnya kepadanya.

Bersamaan dengan terbitnya matahari, daratan itu telah timbul sepenuhnya. Berupa sebuah pulau.

Lengkap dengan ngarai, lembah, perbukitan dan pegunungan. Tanahnya pun subur. Sungguh pulau kecil yang makmur.

Datu Mabrur senang dan gembira. Impiannya tentang pulau yang akan menjadi tempat tinggal bagi anak, cucu dan keturunannya, telah menjadi kenyataan.

Permohonannya dikabulkan. Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Sang Pencipta, ia menamakannya Pulau Halimun.

  • Cerita diadaptasi dari: sumberbelajar.seamolec.org/product.php?id=NWFlMDNlNzE4NjVlYWNiZjc4ZjE3NmJh

Pesan Moral Hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak

Lantas apa pesan moral dari hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak di atas? Pesan moralnya adalah sebagai sesama makhluk hidup kita harus dapat saling memaafkan, bekerja sama, dan membantu satu sama lain.

Ulasan mengenai ringkasan singkat hikayat sa ijaan dan ikan todak beserta pesan moralnya di atas harus Mamikos sudahi sampai di sini.

Semoga saja apa yang sudah kamu baca dan simak pada ringkasan singkat hikayat sa ijaan dan ikan todak beserta pesan moralnya ini dapat menjadi bahan renunang dan bahan pelajaran.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta