7 Sumber Sejarah Prasasti Kerajaan Kutai dan Keterangannya
Sebagai kerajaan tertua di Indonesia, tentu saja Kerajaan Kutai punya banyak peninggalan prasasti.
Penetapan Batas atau Wilayah
Prasasti sering digunakan untuk menandai batas wilayah atau properti. Ini membantu dalam menetapkan kepemilikan tanah atau wilayah tertentu, dan dapat berperan sebagai bukti hukum atau administratif.
Pelaksanaan Ritual Keagamaan
Banyak prasasti dibuat dalam konteks ritual keagamaan.
Mereka mungkin mencatat aturan atau prosedur ritual, menyebutkan sumbangan atau persembahan yang diberikan, dan menggambarkan tata cara peribadatan yang harus diikuti.
Pencatatan Hukum dan Keadilan
Beberapa prasasti berfungsi sebagai catatan hukum yang mencatat peraturan, undang-undang, atau putusan pengadilan.
Mereka membantu dalam menjaga tata tertib sosial dan menyediakan pedoman hukum.
Penyampaian Informasi Pemerintahan
Prasasti dapat digunakan untuk menyampaikan informasi pemerintahan, seperti daftar penguasa, daftar pembangunan, atau pencatatan pajak.
Hal ini membantu dalam menjalankan administrasi dan mengkomunikasikan kebijakan pemerintah.
Pengenalan Identitas Budaya
Prasasti juga dapat dibuat untuk mengidentifikasi dan memperkenalkan identitas budaya suatu masyarakat.
Mereka bisa mencerminkan bahasa, aksara, seni, dan simbol-simbol khas dari suatu budaya.
Pendidikan dan Penyebaran Ajaran
Beberapa prasasti mungkin dibuat untuk tujuan pendidikan dan penyebaran ajaran.
Mereka dapat mengandung ajaran keagamaan, filsafat, atau nilai-nilai moral yang dianggap penting untuk diteruskan kepada generasi berikut
Sumber Sejarah Prasasti Kerajaan Kutai
Berikut ini adalah beberapa sumber sejarah prasasti Kerajaan Kutai yang bisa dijadikan referensi.
1. D.2a (Muarakaman I)
Sumber sejarah prasasti kerajaan Kutai pertama adalah D.2a. Yupa Muarakaman I mempunyai ukiran 12 garis pada salah satu sisinya.
Isinya mengenai silsilah Raja Mulawarman. Pada awal prasasti disebutkan bahwa putra Aswawarman Sri Maharaja Kundungga mempunyai tiga orang anak.
Diantara yang paling menonjol dari ketiganya adalah Mulawarman, seorang raja yang terpelajar, kuat dan sakti.
Tercatat pula bahwa Mulawarman melakukan upacara penyelamatan yang disebut bahusuwarnnakam (“banyak emas”). Sebagai tanda keselamatan itu, para Brahmana mendirikan tugu batu (yupa).
Keadaan surat saat ini dalam keadaan baik, baris 8-10 hanya terdapat titik-titik hitam.
Namun, tanda-tandanya masih dapat terbaca. Selain bintik hitam, ada bagian yang aus di balik batu tersebut.
Saat ini Inventaris Prasasti Yupa nomor D.2a disimpan di lantai 1 gedung baru Museum Nasional.
Alih aksara:
srimatah srinarendrasyak
undunggasya mahatmanah
putro ‘svavarmmo vikhyatah
vansakartta yathangsuman
tasya putra mahatmanah
trayas traya ivagnayah
tesan trayanam pravarah
tapo bala damanvitah
sri mulavarmma rajendro
yastva bahusuvarnnakam
tasya yajñasya yupo ‘yam
dvijendrais samprakalpitah
