Advertisement
Source : https://www.pariwisatasumut.net/

5 Tarian Tradisional Sumatera Utara yang Wajib Diketahui Lengkap Beserta Penjelasannya

Sumatera Utara memiliki banyak warisan budaya yang harus dilestarikan, salah satunya adalah tarian tradisional. Ada beragam jenis tarian tradisional di Sumatera Utara yang bisa kamu temui, simak informasinya dalam artikel ini.

30 Januari 2023 Bella Carla

3. Tari Serampang XII (Tari Serampang Dua Belas)

Tari Serampang XII
selasar.com

Tarian tradisional khas Sumatera Utara berikutnya adalah Tari Serampang Dua Belas. Merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang, Tari Serampang Dua Belas diciptakan oleh Almarhum Guru Sauti.

Sebelum dikenal luas dengan nama Serampang Dua Belas, tarian ini dulunya bernama Tari Pulau Sari menyesuikan dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yakni lagu Pulau Sari.

Menilik dari sejarahnya. Terdapat alasan mengapa tarian Pulau Sari diganti menjadi Serampang Dua Belas.

Hal ini dikarenakan nama Pulau Sari dianggap kurang tepat untuk tarian yang memiliki tempo cepat (quick step) sehingga muncullah ide untuk mengganti dengan nama Serampang Dua Belas merujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12.

Dikutip dari buku yang ditulis oleh Takari & Dja’far berjudul Ronggeng dan Serampang Dua Belas: Dalam Kajian Ilmu-Ilmu Seni yang ditulis oleh Takari & Dja’far (2014: 266), walaupun Tari Serampang Dua Belas tidak menggunakan komunikasi verbal, tetapi gerak-gerik tari dengan segala keindahan, kerumitan, dan keunikannya mampu menarik perhatian penonton.

Tarian tradisional yang satu ini sarat dengan makna-makna kebudayaan yang bersifat universal, yaitu cinta dan kasih sayang.

Berdasarkan total ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, Tari Serampang Dua Belas sejatinya mengisahkan tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan teruna.

Oleh sebab itu, Tari Serampang Dua Belas biasanya dimainkan secara berpasangan oleh laki-laki dan perempuan.

Mengutip dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, 12 ragam gerak tari tersebut menceritakan tentang tahapan-tahapan proses pencarian jodoh hingga memasuki tahap perkawinan yaitu:

  • Ragam I adalah taxi permulaan (pertemuan pertama): penari menari di temapt tegak bermula, kemudian berpusin dengan melonjak ke kanan menurut ukuran dan tempo lagu sehingga menghadap ke depan seolah-olah memandang berkeliling.
  • Ragam II adalah tari berjalan (cinta meresap) yang mengiaskan mulai adanya rasa cinta. Pada ragam ini, penari berjalan kecil diselingi putaran dan gerakan berbalik. Gerakan ini memiliki makna bahwa pasangan sudah mulai merasakan benih-benih cinta, namun masih ragu untuk mengutarakannya.
  • Ragam III adalah tari pusing (memendam cinta). Di mana semakin lama cinta tersebut semakin mendalam dan membuat pikiran menjadi pusing, maju mundur oleh dorongan perasaan cinta itu. Meskipun kemudian dimilikinya juga gadis itu. Perasaan pun terhenti karena keadaan-keadaan baik yang berkenaan dengan diri sendiri maupun dengan keadaan sekitarnya.
  • Ragam IV adalah Tari gila (menggila mabuk kepayang). Gerak tarian pada ragam keempat ini adalah melenggak lenggok terhuyung-huyung seperti layaknya orang yang sedang mabuk.
  • Ragam V adalah tari berjalan bersipat (berbagai isyarat tanda cinta). Dikisahkan sang pemuda semakin mabuk, sehingga kemana saja si gadis pergi ia pun senantiasa mengikuti karena si pemuda bertekad sekali untuk melangkah tanpa pantang surut. Di raga mini ditunjukkan berbagai isyarat orang yang telah mabuk kepayang dan kerap disebut sebagai ragam gila.
  • Ragam VI adalah gerakan tari gonjet-gonjet (balasan isyarat). Pada ragam ini, sepasang peanri akan saling menari dan melangkah seirama. Hal ini untuk mengisyaratkan bahwa sang pemuda sudah menerima isyarat dari sang gadis tentang perasaannya.
  • Ragam VII merupakan tari sebelah kaki (menduga). Ragam yang satu ini bermakna bahwa keduanya sudah masing menduga-duga perasaan masing-masing. Setelahnya, keduanya pun saling mengetahui perasaan satu sama lain dengan memadu asmara.
  • Ragam VIII meruapakan tari langkah tiga (masih belum percaya). Penari akan melompat tiga kali ke depan atau ke belakang akan dilakukan pada ragam ini untuk mengisyaratkan bahwa pasangan telah yakin bahwa mereka akan hidup bersama.
  • Ragam IX adalah tari melonjak (jawaban). Pada ragam ini, pasangan penari akan melakukan gerakan melompat-lompat untuk menggambarkan rasa berdebar yang melanda sepasang kekasih yang sedang menunggu restu orang tua mereka.
  • Ragam X adalah tari datang-mendatangi yang menggambarkan gerakan saling mendatangi sebagai wujud dari proses peminangan dari pihak laki-laki terhadap perempuan. Ragam ini menjadi gerakan yang paling ditunggu-tunggu karena penari pria dan wanita akan saling mendekati antara satu sama lain. Gerakan ini memiliki makna proses pinang dari laki-laki.
  • Ragam XI adalah tari rupa-rupa yang memperlihatkan rasa gembira luar yang sangat luar biasa. Ragam ini akan mengiaskan tentang proses penghantaran pengantin menuju ke pelaminan.
  • Ragam XII merupakan ragam terakhir dalam tarian ini. Pada raga mini, gerakan dilakukan oleh sang penari dengan menggunakan sapu tangan. Penggunaan sapu tangan menjadi simbol telah menyatunya dua hati yang saling mencintai dalam ikatan perkawinan.

Halaman:

Advertisement