Advertisement
Source : Canva/@wing-sawitchaya

Tradisi Malam Satu Suro dalam Masyarakat Jawa, Makna, Tujuan, dan Pantangan

Penasaran dengan makna, tujuan, dan pantangan apa saja saat malam satu suro? Yuk, temukan informasi selengkapnya di artikel ini!

24 Juni 2025 Zuly Kristanto

Jika dulu peringatan malam satu Suro ini digunakan untuk mempererat dan menjaga persatuan pasukan Mataram Islam.

Dewasa ini tujuan dari malam satu Suro bukan hanya sekedar untuk melestarikan tradisi warisan leluhur tetapi juga dianggap menjadi waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Maka, tidak mengherankan apabila setiap malam satu Suro akan ada banyak orang-orang Jawa yang melakukan ‘laku prihatin’ baik secara mandiri maupun secara kelompok untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berbagai cara mulai dari berziarah ke makam leluhur atau menyepi.

Semua yang dilakukan orang-orang Jawa di malam satu Suro ini adalah untuk melaksanakan sikap eling dan waspada agar lebih siap terhadap hal-hal yang akan terjadi di waktu yang akan datang.

Sikap eling ini sebisa mungkin ditanamkan kembali ke dalam hati orang-orang Jawa yang masih merayakan malam satu Suro agar dirinya tahu kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan yang hanya bisa menerima takdir yang telah digariskan untuknya.

Penerimaan diri manusia dengan memiliki rasa eling akan menjadi ‘senjata ampuh’ bagi mereka yang memilikinya terhadap segala sesuatu yang terjadi pada dirinya.

Sementara sikap waspada ini juga sangat diperlukan agar mereka yang memilikinya tidak mudah tergoda dengan segala sesuatu yang bisa mendatangkan hal-hal kurang baik dalam kehidupannya.

4 Contoh Gambar Poster Tahun Baru Islam 2025/1447 H

C. Pantangan Malam Satu Suro

Dalam keyakinan malam satu Suro ada banyak hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang Jawa. Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

1. Melangsungkan Pernikahan

Bulan Suro atau yang juga disebut sebagai bulan Muharram dalam kalender Hijriah merupakan salah satu bulan yang dianggap sakral bagi masyarakat Jawa.

Saking sakralnya bulan ini membuat tidak ada masyarakat Jawa tidak ada yang berani menggelar pesta pernikahan mulai dari malam satu Suro hingga akhir bulan Suro.

Ada beberapa pendapat yang melandasi larangan dilaksanakan pernikahan di malam satu Suro dan sepanjang bulan Suro.

Beberapa orang memiliki keyakinan bahwa mulai dari malam satu Suro dan di sepanjang bulan Suro, Ratu Kidul memiliki hajatan sehingga orang Jawa tidak berani ‘meyainginya’.

Mereka berkeyakinan kalau larangan ini dilanggar akan mendatangkan hal-hal yang kurang baik seperti usia pernikahan kedua mempelai tidak akan lama karena salah satu pengantin meninggal duluan atau karena pernikahan yang dijalani akan bubar di tengah jalan.

Di sisi lain, ada pula yang meyakini kalau larangan menikah di malam satu Suro dan sepanjang bulan Suro ini adalah sebagai bentuk penghormatan orang Jawa terhadap peristiwa Karbala yang menyebabkan gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW.

Bagi orang Jawa yang menganut Islam Kejawen, bulan Suro atau bulan Muharram dianggap sebagai bulan yang penuh kesedihan karena di bulan inilah cucu dari Nabi Muhammad SAW meninggal dunia dalam sebuah pertempuran.

Mereka tidak ingin mengadakan pesta yang penuh dengan suka cita di bulan yang pernah menjadi saksi bisu kesedihan Nabi Muhammad SAW kehilangan cucu.

2. Mendirikan atau Membangun Rumah

Hingga saat ini nyaris tidak ada orang Jawa yang berani mendirikan atau membangun rumah di malam satu Suro.

Hal ini dikarenakan adanya sebuah keyakinan bahwa mereka yang berani melanggar larangan ini akan mendapatkan sesuatu yang kurang baik.

Selain membuat rumah yang dibangun tidak akan bertahan lama dan tidak terasa nyaman untuk dihuni oleh pemiliknya.

Beberapa orang juga meyakini bahwa selama pembangunan rumah akan terjadi banyak rintangan yang membuat proses pembangunan rumah membutuhkan waktu yang lama untuk selesai.

Halaman:

Advertisement