Advertisement
Source : Canva/@sitthiphong

Cara Membuat Video AI Berbicara dengan Orang yang Sudah Meninggal dan Contoh Prompt yang Bisa Digunakan

Bagi kamu yang ingin membuat kenangan berupa video yang menampilkan orang yang telah meninggal. simak artikel ini sampai habis, ya.

17 September 2025 Lintang Filia

Cara Membuat Video AI Berbicara dengan Orang yang Sudah Meninggal dan Contoh Prompt yang Bisa Digunakan – Kehilangan orang terkasih tentu menjadi momen yang paling menyakitkan.

Kini, berkat teknologi AI, kenangan itu bisa dihadirkan kembali lewat video yang membuat seolah-olah mereka masih bisa berbicara. Meski tidak bisa menggantikan sosok aslinya, cara tersebut bisa digunakan untuk mengenang sekaligus melepas rindu. 🥺🌻

Sebagai panduan bagi kamu yang tertarik untuk mencoba, Mamikos akan membahas lengkap tentang cara membuat video AI berbicara dengan orang yang sudah meninggal beserta contoh prompt-nya. ✨

AI dan Cara Kerjanya dalam Membuat Video

cara membuat video AI berbicara dengan orang yang sudah meninggal
Canva/@sitthiphong

Menurut laman resmi Artificial Intelligence Center Indonesia (AiCI) milik Universitas Indonesia, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bermula dari gagasan Alan Turing pada tahun 1950 yang memperkenalkan “Tes Turing” sebagai cara menilai kemampuan mesin berpikir seperti manusia.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada Konferensi Dartmouth tahun 1956, istilah “Artificial Intelligence” resmi diperkenalkan oleh John McCarthy dan sejak saat itu AI mulai dikembangkan secara lebih serius.

Pada masa-masa awal, penelitian masih berfokus pada program sederhana dan pemrosesan simbolik. Kemudian di tahun 1960-an lahirlah program interaktif seperti ELIZA yang bisa menirukan percakapan manusia, diikuti dengan robot mobile pertama yang menggunakan model AI.

Meski sempat mengalami periode stagnasi di tahun 1980-an atau yang sering disebut “AI Winter”, perkembangan teknologi komputasi, machine learning, dan deep learning di era 1990-an hingga 2010-an membuat AI kembali bangkit.

Kini, AI menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari asisten virtual hingga teknologi video yang bisa membuat wajah tampak berbicara dengan realistis.

Lalu, bagaimana teknologi ini bisa membuat sebuah foto atau avatar terlihat berbicara layaknya manusia? Nah, proses pembuatan video berbicara berbasis AI biasanya melibatkan beberapa tahap, yaitu:

  1. Input Teks atau Audio: Pengguna memasukkan teks atau rekaman suara sebagai skrip.
  2. Sintesis Suara (Text-to-Speech): AI mengubah teks menjadi suara alami dengan intonasi dan ekspresi.
  3. Animasi Wajah dan Bibir : Teknologi deep learning digunakan untuk menyamakan gerakan mulut dengan suara yang dihasilkan.
  4. Avatar dan Karakter Virtual: Hasilnya bisa berupa avatar digital 3D maupun gambar 2D yang dianimasikan dalam berbagai bahasa.
  5. Proses Otomatis Tanpa Shooting: Semua berlangsung digital tanpa perekaman manual, sehingga lebih hemat waktu dan biaya.

Melalui rangkaian itulah, AI dapat mengubah foto atau avatar statis menjadi video yang terlihat hidup dan berbicara secara meyakinkan. Termasuk yang nanti akan Mamikos bahas, yaitu cara membuat video AI berbicara dengan orang yang sudah meninggal.

Cara Membuat Foto Polaroid di AI Google Gemini dengan Idol Korea yang Lagi Viral di TikTok

Etika dalam Pembuatan Video AI

Kemampuan AI dalam menghasilkan video yang tampak begitu nyata memang memberikan peluang besar, termasuk dalam menghadirkan kembali kenangan dengan orang yang sudah tiada.

Namun, kamu harus tahu bahwa teknologi ini tidak boleh digunakan sembarangan, lho. Tanpa batasan yang jelas, AI justru berpotensi menimbulkan masalah serius, mulai dari penyalahgunaan identitas hingga penyebaran informasi yang menyesatkan.

Oleh karena itu, kamu yang perlu memahami aspek etika sebelum membuat atau membagikan video berbasis AI. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Pencegahan Penyalahgunaan Deepfake

Teknologi AI mampu membuat video yang sangat realistis hingga sulit dibedakan dari kenyataan. Risiko penyalahgunaan, seperti pembuatan konten palsu, manipulasi opini publik, atau pencemaran nama baik, harus diantisipasi.

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang ketat serta kesadaran pengguna untuk menjaga agar teknologi ini tetap berada di jalur positif.

Halaman:

Advertisement