11 Cara Menggunakan Uang THR Hari Raya Idulfitri agar Tidak Cepat Habis yang Efektif
Sudah tahu cara yang tepat untuk menggunakan uang THR secara bijak? Simak artikel berikut ini, ya.
- Rencanakan dan alokasikan THR secara tertulis (mis. rumus 40-30-20-10): 40% kebutuhan lebaran, 30% tabungan/dana darurat, 20% lunasi utang, 10% sedekah/hiburan—dan segera pisahkan THR dari rekening gaji untuk hindari “windfall psychology”.
- Prioritaskan kewajiban dan anggaran: bayarkan zakat/fidyah, lunasi utang berbunga tinggi, buat daftar belanja dan anggaran angpao, rencanakan biaya mudik, serta hindari flash sale dan belanja impulsif—manfaatkan promo hanya untuk kebutuhan.
- Sisihkan untuk masa depan dan evaluasi: alokasikan bagian tabungan untuk investasi sesuai profil risiko (emas, saham, reksa dana), evaluasi sisa THR setelah lebaran, dan mulai menabung tiap bulan untuk mengurangi ketergantungan pada THR tahun berikutnya.
Momen lebaran akan segera tiba yang juga akan disambut dengan THR.
Tapi, apakah kamu sudah tahu cara menggunakan uang THR hari raya Idulfitri agar tidak menguap begitu saja? 🕌💰
Terkadang, uang THR yang diperlakukan berbeda dari gaji biasa lebih cepat habis bahkan tidak tersisa. Padahal, dengan strategi yang tepat, THR bisa jadi tabungan, lho. Penasaran bagaimana caranya?
Cara Menggunakan Uang THR Hari Raya Idulfitri

Pernahkah kamu merasa uang THR yang didapatkan sebelum lebaran lebih cepat habis daripada gaji rutin? Ternyata, salah satu alasannya adalah tidak adanya pembuatan anggaran secara khusus untuk THR. 🙁
Kamu pasti akan merasa senang saat menerima notifikasi ada uang yang masuk ke rekening dan menambah saldo tabungan. Tapi, setelah lebaran, saldo rekening kembali ke angka semula, bahkan terkadang malah minus.
Uang THR Idulfitri yang dianggap sebagai hadiah biasanya hanya “numpang lewat”. Tidak jarang, uang tersebut justru digunakan untuk belanja secara impulsif, sehingga tidak ada yang tersisa untuk ditabung.
Para ahli keuangan menyebut ini sebagai “windfall psychology”, yaitu kecenderungan meremehkan uang yang datang karena bukan pendapatan rutin karena dianggap sebagai “bonus”.
Padahal, jika kamu membuat perencanaan yang bijak untuk membelanjakan uang THR, ada banyak hal yang bisa kamu dapatkan.
Hasil Survei Nasional Literasi Dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan OJK bersama BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 65,43%. Meskipun demikian, terdapat gap besar antara akses keuangan (inklusi 75,02%) serta kemampuan mengelolanya secara bijak.
Hal ini menunjukkan bahwa walaupun seseorang memiliki akses ke produk keuangan, dia belum terbiasa merencanakan penggunaannya secara sistematis.
Berdasarkan pola yang dibahas oleh OJK dan lembaga-lembaga keuangan, ada beberapa penyebab yang membuat uang THR sering dialokasikan kurang bijak:
- Tidak ada anggaran tertulis yang dibuat sebelum THR cair, sehingga tidak ada rencana penggunaan yang berakibat setiap keinginan dianggap sebagai kebutuhan.
- Belanja impulsif saat promo, sehingga belanja tidak terkontrol
- Ingin menunjukkan gengsi dan membuktikan bahwa seseorang “mampu” ketika berjumpa kerabat saat lebaran.
- Tidak memisahkan THR dengan rekening gaji, sehingga muncul keinginan untuk membelanjakan seluruh uangnya.
Ingin terhindar dari masalah di atas? Sebelum uang THR menguap tanpa sisa, ada beberapa cara kelola uang THR yang bijak yang bisa kamu terapkan.
1. Gunakan Rumus Alokasi THR
Pernah mendengar rumus untuk alokasi gaji? Kini, kamu juga bisa menerapkannya untuk THR. Gunakan prinsip 40-30-20-10 dari OJK atau bisa kamu sesuaikan sendiri.
Alokasi terbesar 40% bisa digunakan untuk kebutuhan lebaran yang biasanya memerlukan budget besar, seperti membeli makanan, hampers, angpao, baju, dan dana untuk mudik.
Selanjutnya, alokasi sebesar 30% bisa kamu sisihkan untuk dana darurat atau tabungan. Sebaiknya, porsi ini langsung disisihkan agar tidak berpotensi dipakai atau dipinjam untuk menambal kebutuhan yang lain.
Jika kamu masih memiliki hutang seperti paylater atau kartu kredit yang belum lunas, alokasi 20% bisa kamu gunakan untuk melunasi cicilan. Sisanya, sebesar 10% bisa kamu pakai untuk bersedekah atau untuk hiburan selama lebaran.
Dengan demikian, kamu tetap bisa menyisihkan uang dari THR tanpa harus mengorbankan kebutuhan utama.
2. Pisahkan THR dari Rekening Gaji
Hal yang tidak kalah penting untuk dilakukan setelah menerima THR adalah segera memisahkannya dari rekening gaji.
Anggap saja THR adalah bonus istimewa yang harus dialokasikan secara bijaksana untuk memenuhi kebutuhan hari raya hingga membayar zakat.
Penelitian Prelec dan Loewenstein (1998) terkait perilaku keuangan yang dikembangkan sebagai “mental accounting” menunjukkan jika otak manusia cenderung membelanjakan uangnya lebih cepat saat semua dana terlihat banyak dalam satu tempat.
Halaman:



