7 Contoh Ancaman di Bidang Sosial Budaya dan Cara Menghadapinya
Berikut contoh-contoh ancaman sosial budaya beserta cara mencegahnya. Simak, yuk!
3. Matinya Gotong Royong
Di tempat ketiga ancaman di bidang sosial dan budaya adalah pudarnya gotong royong. Budaya gotong-royong digunakan sebagai cara untuk bekerja sama dalam masyarakat dan saling membantu.
Seharusnya, budaya gotong royong bisa menjadi kekuatan besar yang harus terus dikembangkan, karena gotong royong membawa banyak manfaat bagi kehidupan bermasyarakat.
Kebalikan dari gotong royong ini adalah Individualisme yang pada dasarnya seseorang dengan sifat ini merasa bahwa ia berbeda dari kelompoknya meskipun orang tersebut termasuk dalam kelompok yang sama.
Karakter individualitas masyarakat merupakan salah satu ciri sosial kota. Sifat gotong royong murni sangat sulit ditemukan di kota. Walaupun ada, maka dalam bentuk yang berbeda.Â
Kontak tatap muka langsung sudah jarang terjadi sejak lama, karena komunikasi telepon sudah menjadi sarana komunikasi yang bukan lagi barang mewah.
Selain itu, karena tingkat pendidikan warga kota yang cukup tinggi, mereka berusaha menyelesaikan semua masalah secara individu atau pribadi tanpa mempedulikan kelompok lain.
Di Indonesia, sifat gotong royong sebenarnya tidak begitu mudah dicairkan oleh individualisme. Karena falsafah dan keyakinan Pancasila selalu menjadi pedoman hidup bangsa.Â
4. Diskriminasi Suku dan Ras
Ancaman di bidang sosial dan budaya selanjutnya adalah diskriminasi. Diskriminasi biasanya dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas.
Hal ini sering disebabkan oleh ketidakseimbangan kekuatan dalam hubungan antar kelompok sosial. Penyebabnya kebanyakan karena prasangka dan stereotip yang berkembang di masyarakat.
Diskriminasi merupakan masalah yang dapat muncul di banyak negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, definisi diskriminasi menurut UU HAM No. 39 Tahun 1999 (HAM) adalah
Setiap pembatasan, pelecehan atau pengucilan yang secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada perbedaan manusia berdasarkan agama, suku, ras, asal suku, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi;
Jenis kelamin, bahasa atau keyakinan politik yang mengakibatkan pelanggaran hak asasi manusia dan hak fundamental, kebebasan mengakibatkan penyimpangan atau penghapusan pengakuan;
Pelaksanaan atau penggunaan dalam kehidupan dan secara individual dan kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan sosial lainnya.
5. Intoleransi Budaya
Hidup di tengah keberagaman seperti di Indonesia, sikap toleran harus dimiliki setiap individu untuk tetap bertahan.
Intoleransi yang terus berlanjut hanya dapat menimbulkan konflik yang berujung pada perpecahan atau perpecahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Beberapa contoh intoleransi antara lain:
- Tidak menghargai dan menghormati hak orang lain;Â
- Diskriminasi atau diskriminasi terhadap orang berdasarkan suku, agama, ras, jenis kelamin dan lain-lain;Â
- Mencampuri kebebasan orang lain dalam memilih agama, keyakinan politik dan golongan;Â
- Â memaksakan kehendak seseorang pada orang lain; tidak ingin bergaul dengan orang yang berbeda agama dan berperilaku buruk;Â
- Membenci dan menyakiti perasaan orang yang berbeda pandangan atau pendapat;
- Peduli dengan kelompoknya sendiri atau menganggap kelompoknya lebih baik. Â
Halaman:

