Biografi Raden Dewi Sartika Singkat dan Jelas dari Lahir hingga Wafat
Dalam artikel berikut, Mamikos akan memberikan biografi singkat dari Raden Dewi Sartika. Yuk, baca artikelnya hingga selesai!
Belajar tentang Adat Sunda
Melalui pamannya inilah Raden Dewi Sartika belajar tentang adat Sunda. Selain belajar tentang adat Sunda, Raden Dewi Sartika juga belajar formal di sekolah Belanda.
Sejak kecil Raden Dewi Sartika menunjukkan bakatnya di bidang pendidikan. Hal ini ditunjukkan dengan kegemaran beliau bermain sekolah-sekolahan bersama kawan-kawannya.
Ketika sedang bermain, Raden Dewi Sartika selalu berperan sebagai guru dan mengajar kawan sepermainannya yang kebanyakan anak dari pembantu di kepatihan.
Di masa itu, sekolah merupakan sesuatu yang sangat mahal sehingga hanya anak dari kalangan keluarga tertentu yang dapat merasakannya.
Saat bermain sekolah-sekolahan inilah Raden Dewi Sartika mengajari kawannya membaca, menulis, dan bahkan berbahasa Belanda.
Apa yang dilakukan Raden Dewi Sartika ini tentu membuat senang kawan-kawannya yang tidak mampu merasakan bangku sekolah.
Suatu hari terjadilah kegemparan di kepatihan Cicalengka. Adapun yang menjadi penyebabnya karena ada seorang anak dari pembantu kepatihan yang mampu melafalkan beberapa kata dalam bahasa Belanda.
Padahal anak tersebut tidak pernah mendapat pelajaran bahasa Belanda. Setelah ditelusuri ternyata anak tersebut mampu berbahasa Belanda karena diajari oleh Raden Dewi Sartika.
Masa Perjuangan
Saat usia Raden Dewi Sartika menginjak usia remaja, beliau pulang kembali ke Bandung untuk tinggal bersama ibunya.
Pelajaran yang didapat selama tinggal bersama pamannya membentuknya menjadi sosok yang sangat perhatian terhadap pendidikan terutama untuk kalangan perempuan.
Melihat nasib kaum perempuan yang mendapat kekangan luar biasa sehingga tidak mendapatkan pendidikan layak membuat Raden Dewi Sartika bersedih.
Kesedihan inilah yang mendorong Raden Dewi Sartika untuk berjuang memberikan pendidikan bagi kaumnya.
Keinginan Raden Dewi Sartika untuk memberikan pendidikan bagi kaum wanita ini sebenarnya mendapat dukungan dari kakeknya yang kala itu sudah menjadi seorang bupati di daerah Martanegara.
Namun, hal ini tidak membuat keinginan Raden Dewi Sartika untuk memberikan pendidikan bagi kaum wanita dapat berjalan dengan mulus.
Salah satu yang menjadi kendala adalah adanya kekangan adat yang kala itu masih sangat mengekang kaum wanita.
Halaman:

