Cara Mengatur Persentase Uang Gaji Bulanan Agar Bisa Jadi Sultan

Cara Mengatur Persentase Uang Gaji Bulanan Agar Bisa Jadi Sultan — Mungkin kamu pernah mengalami peristiwa tak mengenakan ini. Di mana momen yang paling ditunggu-tunggu yakni tanggal gajian akhirnya datang, dan kamu merasakan hatimu penuh sesak karena gembira tak terkirakan. Tapi sayang, hal tersebut hanya bertahan untuk beberapa waktu saja.

Sebab kemudian ada banyak sekali tagihan yang harus segera dibayar. Gembira hilang yang ada hati jadi muram. Kira-kira mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Apakah mungkin hal tersebut karena kamu termasuk pada golongan orang-orang yang masih bingung cara mengatur persentase uang gaji bulanan?

Jika alasannya benar demikian, Mamikos rasa artikel kali ini akan sangat cocok untuk kamu baca.

Begini Cara Mengatur Persentase Uang Gaji Bulanan, Auto Jadi Sultan!

pixabay.com/mohamed_hassan

Sebenarnya ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan untuk bisa mengatur keuangan. Jadi, bukan tentang mengatur persentase gaji bulanan saja. Nah, di bawah ini, sudah Mamikos lampirkan beberapa hal yang perlu diketahui untuk bisa mengatur persentase pemasukan kamu tiap bulan.

Tips dan Trik Mengatur Keuangan dan Gaji Bulanan

1. Menyusun Persentase Upah Bulanan

pixabay.com/peter-facebook

Pertanyaan ini mungkin sering kamu tanyakan selama ini. Mengapa saya tidak pernah membuat persentase pembagian gaji bulanan? Mungkin saja jika saya membuatnya, saya akan lebih bisa mengatur keuangan. Bukan mungkin, tapi memang dengan mengatur persentase upah bulanan kamu bisa lebih bisa memantau me mana saja perginya uang kamu.

Apabila kamu belum pernah membuat persentase pembagian upah sama sekali, maka kamu bisa mencoba rumus ini. 50:30:10:10. Apa maksudnya perbandingan tersebut? Sederhananya kamu akan mulai membagi pendapatan bulanan kamu pada empat pos atau empat bagian. Sekarang pertanyaannya pasti untuk apa saja keempat pengeluaran tersebut?

Jadi sebanyak lima puluh persen (50%) pendapatan kamu alokasikan untuk biaya pokok sehari-hari. Apa saja yang masuk biaya pokok? Makan, minum, listrik, air, tempat tinggal (apabila kamu masih kos atau mengontrak rumah), dan juga transportasi. Kemudian alokasi yang tiga puluh persen (30%) dana khusus untuk membayar hutang atau cicilan.

Jadi, yang tiga puluh persen ini bisa kamu gunakan untuk membayar asuransi, BPJS, dan cicilan rumah tangga lainnya. Kemudian, bagaimana yang sepuluh persen (10%) tersebut. Sepuluh persen pertama adalah bisa kamu alokasikan untuk menabung dan sepuluh persen (10%) lainnya untuk pegangan pribadi. Boleh kamu simpan sebagai dana darurat atau bsia juga diberikan pada orang tua, dan kebutuhan lainnya.

Mamikos akan berikan contoh di sini untuk mempermudah bayangan kamu. Anggaplah kamu punya pendapatan utama sebesar Rp 5.000.000 per bulan. Jika mengikuti persentase di atas maka hitungannya adalah seperti ini.

  1. Lima puluh persen (50%) adalah Rp 2.500.000 yang dialokasikan untuk biaya kebutuhan primer diantaranya adalah makan, tempat tinggal, belanja bulanan kebutuhan diri, listrik, telepon, dan air.
  2. Tiga puluh persen (30%) adalah Rp 1.500.000 yang kamu alokasikan untuk membayar cicilan atau jika ada hutang.
  3. Sepuluh persen (10%) adalah Rp 500.000 untuk kamu tabung dan jangan diutak-atik.
  4. Sepuluh persen (10%) berikutnya yakni Rp 500.000 terakhir adalah untuk pegangan pribadi atau bisa juga diberikan pada orang tua dan kebutuhan lainnya.

Tips tambahan yang perlu diperhatikan sejak awal adalah. Setelah kamu menerima upah bulanan, segera pisahkan sesuai dengan persentase yang sudah kamu sepakati dan hitung dengan baik tersebut. Biar kamu tidak tergoda lagi memakainya untuk hal-hal yang tak perlu.

2. Membuat Pembukuan atau Catatan Pengeluaran

unsplash.com/@firmbee

Cara mengatur gaji bulanan berikutnya adalah dengan cara membuat sebuah pembukuan atau catatan pengeluaran. Usai kamu membagi gaji bulanan dengan persentase seperti yang sudah dicontohkan, maka kini waktunya kamu untuk mencatat pengeluaran sehari-hari yang kamu lakukan. Baik untuk pengeluaran primer hingga pengeluaran darurat. Apabila kamu sudah mempunyai daftar pengeluaran tersebut, kamu pun bisa memperhatikan apa saja jenis pengeluaran yang sebaiknya dikurangi atau dihilangkan sama sekali.

Dengan kamu membagi langsung salary bulanan kamu dan mencatat rapi setiap pengeluaran yang dilakukan setiap hari, kamu pun akan jadi terbiasa untuk melakukan persentase ideal yang akan cocok untuk kamu lakukan terus menerus.

Seperti yang sudah kamu tahu bahwa persentase pengeluaran yang sehat dan ideal tidak boleh melebihi dari angka pendapatan kita setiap bulanan. Kemudian untuk persentase pengeluaran dadakan atau darurat juga disarankan tidak lebih dari sepuluh persen (10%) upah bulanan kamu. Sebab kamu hanya mengalokasikan dana darurat sebanyak 10 persen saja.

3. Memisahkan Rekening Utama dan Tabungan

unsplash.com/@twopaddles

Cara mengatur keuangan berikutnya yang perlu diperhatikan juga adalah dengan mulai memisahkan antara rekening utama dan tabungan. Hal ini perlu segera dilakukan terutama jika kamu sering mengalami kendala saat hendak membagi pos-pos keuangan setiap kali mendapatkan upah ke dalam beberapa bagian. Jika sampai kamu seperti ini, kamu jadi akan sangat terkendala dalam menabung sebab kamu jadi bingung untuk membagi upah bulanan kamu sendiri.

Makanya, solusi dan cara bijaksana yang bisa kamu lakukan segera agar proses pengelolaan keuangan kamu semakin baik adalah dengan cara membuat dua rekening tabungan yang berbeda. Satu rekening khusus untuk menerima dan menaruh gaji yang sudah dialokasikan akan penggunaan sehari-hari.

Dan satu rekening lainnya khusus untuk menabung. Akan lebih baik lagi jika rekening yang khusus menabung tidak dilengkapi dengan ATM. Hal ini bisa menghindarkan kamu dari kekhilafan yang kerap terjadi saat kamu tak sadar menggunakan uang tabungan untuk keperluan yang tidak begitu kamu butuhkan.

4. Menetapkan Pengeluaran Per Minggu

unsplash.com/@rupixen

Langkah berikutnya yang Mamikos rekomendasikan agar kamu bisa mengelola keuangan adalah dengan cara membuat ketetapan jumlah pengeluaran kamu per minggu. Contohnya seperti ini. Apabila jatah pengeluaran primer kamu adalah Rp 2,5 juta per bulan. Kamu kamu hanya boleh membawa uang sebesar Rp 500 sampai Rp 600 ribu saja per minggu. Sisa uangnya bisa kamu taruh dan simpan di tempat paling aman atau bisa juga disimpan dalam rekening tabungan.

Jangan pernah membawa amplop berisi sisa uang pengeluaran pokok tersebut dan tetap taruh di rumah. Pokoknya jangan pernah berani membawa amplop atau uang tersebut ketika bepergian. Tindakan ini juga menjadi salah satu hal untuk membatasi diri dari kekhilafan yang sering terjadi. Tidak lupa bahwa selalu utamakan untuk menggunakan uang tunai dan jangan pakai kartu debit atau sampai pakai kartu kredit. Hindari godaan tersebut sejak dini.

5. Jangan Tergoda akan Cicilan, Tetap Utamakan Menabung

unsplash.com/@anniespartt

Wah, barang ini lucu? Wah, sepertinya aku tidak begitu butuh tapi mumpung diskon. Godaan-godaan macam ini sebaiknya kamu hindari. Sebab dananya pasti tidak tersedia. Apalagi saat ini banyak sekali yang menawarkan kemudahan mendapatkan barang dengan cicilan atau paylater. Padahal istilah sebenarnya tetap saja berhutang.

Memang, pada awal-awal kamu mencoba mengelola pengeluaran, godaan untuk mencoba kredit dan cicilan akan terasa jauh lebih berat dan besar. Apalagi sebelumnya kamu sudah pernah melakukan cicilan. Percayalah setelah itu, nama kamu sudah masuk pada daftar golongan orang-orang yang akan mendapatkan ‘penawaran kredit’ terus menerus.

Jika kamu menginginkan sesuatu, kamu bisa bersabar sebentar dan menabung lebih baik daripada berhutang. Jika uangnya sudah cukup, maka kamu tak perlu ragu lagi sebab uang yang kamu miliki sudah cukup. Terlebih kamu membeli barang tersebut dengan tunai dan tak membuat jantung berdebar akan pesan jatuh tempo cicilan.

6. Bijaklah dalam Bersenang-senang

unsplash.com/@anniespartt

Maksud judul di atas adalah kamu harus selalu bijak dan tidak boleh gegabah dalam memilih pilihan bersenang-senang. Apalagi godaannya biasanya makin terasa kencang saat gaji bulanan sudah di tangan, dan kamu merasa kamu ingin membeli sesuatu sebagai bagian dari apresiasi. Kamu merasa tidak apa-apa membeli barang yang kamu suka atau sekadar melakukan hobi ‘berbayar’.

Jangan salah, kegiatan bersenang-senang juga bisa akan sangat menjebak kamu, terutama di momen-momen pendapatan kamu sudah ditransfer. Makanya saran Mamikos pilihlah dengan bijak cara bersenang-senang kamu. Jangan memakai kedok bersenang-senang atau apresiasi tapi sebenarnya kamu hanya boros dan menghamburkan uang tidak jelas.

Kamu masih boleh lho bersenang-senang. Tapi jangan sampai membuat kamu lupa daratan dan mengambil dana di rekening tabungan. Dana tabungan hanya boleh digunakan saat kamu dalam situasi yang benar-benar terdesak, bukan untuk sekadar memuaskan hasrat bersenang-senang semata. Biar lebih terkontrol, kamu bisa mengatur acara atau agenda bersenang-senang kamu satu kali saja setiap bulannya.

7. Bedakan Mana yang Kebutuhan dan Mana yang Keinginan

unsplash.com/neobrand

Keduanya memiliki makna yang berbeda lho. Hal-hal yang masuk dalam kebutuhan adalah hal yang berkenaan sesuatu yang mendesak seperti makan, tempat tinggal, dan transport. Sementara keinginan hanya untuk memuaskan ego dan napsu kamu saja. Hal ini biasanya terjadi pada kamu yang merasa menyesal telah mengeluarkan uang banyak untuk sesuatu yang sebenarnya tidak mendesak atau tidak begitu perlu.

Contoh. Membeli gawai keluaran terbaru yang paling canggih. Padahal saat ini kamu sedang menggunakan ponsel yang masih bagus dan berfungsi dengan baik. Hari esok tak ada yang tahu. Bagaimana jika setelah kamu membeli ponsel seharga motor itu kamu malah jatuh sakit atau mendapatkan musibah yang mengharuskan kamu membayar biaya pengobatan yang tak sedikit?

Pasti sangat tidak enak dan penyesalan pun tak ada gunanya. Uangnya sudah tak ada, ponsel sudah telanjur dibeli. Maka dari itu lah, kamu perlu bijak dalam membedakan mana wants dan needs. Hilangkan segala macam pembenaran yang memungkinkan kamu hanya membeli atau membelanjakan hal-hal yang tidak begitu diperlukan.

Perlu diingat bahwa apa yang Mamikos lampirkan di atas hanyalah bagian dari informasi. Tidak perlu kamu ikuti dengan kaku dan harus begitu ketat sampai-sampai kamu melupakan hal yang esensial. Kamu bisa tetap memakai uangmu untuk keperluan mendesak atau hal yang memang kamu inginkan kok.

Hanya saja harus tetap sesuai dengan perhitungan. Jangan sampai buntung di akhir bulan dan kamu stres sendiri ke mana larinya uang kamu selama ini. Tetap sadari setiap kali menggunakan uang dan catat jika perlu laporan pengeluaran kamu tersebut.

Akses atau unduh aplikasi pencari hunian Mamikos sekarang untuk mendapatkan inspirasi hunian terbaik. Beragam info hunian yang bisa kamu atur berdasarkan lokasi, fasilitas, harga, hingga keunggulan yang kamu inginkan juga bisa jika kamu mengandalkan pencarian huniannya pada Mamikos. Aplikasi Mamikos bisa segera diunduh di App Store dan Google Play Store.


Klik dan dapatkan info kost di dekatmu:

Kost Jogja Harga Murah

Kost Jakarta Harga Murah

Kost Bandung Harga Murah

Kost Denpasar Bali Harga Murah

Kost Surabaya Harga Murah

Kost Semarang Harga Murah

Kost Malang Harga Murah

Kost Solo Harga Murah

Kost Bekasi Harga Murah

Kost Medan Harga Murah