Cerita Hikayat Bayan Budiman beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsiknya
Apakah kamu pernah membaca Hikayat Bayan Budiman? Yuk, baca dan ketahui unsur-unsur pada hikayat ini!
Pertengahan Cerita – Komplikasi
Di bagian ini, masalah atau konflik muncul. Tokoh utama menghadapi tantangan atau masalah yang membuat cerita menjadi menarik.
Pertengahan Cerita – Evaluasi
Ini adalah saat tokoh-tokoh mulai memikirkan situasinya. Mereka mungkin memikirkan keputusan atau cara mengatasi masalah.
Puncak Cerita – Resolusi
Puncak cerita adalah saat masalah utama diselesaikan. Tokoh utama mengambil keputusan atau melakukan sesuatu yang membawa cerita ke akhir yang memuaskan.

Advertisement
Akhir Cerita – Koda
Bagian terakhir cerita, di mana kita mendapatkan penutup. Ini bisa berisi penjelasan tambahan atau gambaran tentang apa yang terjadi setelah masalah selesai, memberikan kesimpulan yang baik untuk cerita.
Hikayat Bayan Budiman
Hikayat Bayan Budiman adalah karya sastra Melayu klasik yang berasal dari Malaysia.
Hikayat Bayan Budiman mengisahkan tentang seorang burung beo yang cerdik dan bijaksana yang bernama Bayan Budiman.
Dalam hikayat ini, Bayan Budiman dapat berbicara dan memberikan nasihat bijak kepada pemimpin dan masyarakat.
Kisahnya berfungsi sebagai sarana penyampaian nilai moral dan pelajaran tentang kebijaksanaan dalam pemerintahan dan kehidupan sehari-hari.
Seperti banyak karya sastra Melayu klasik lainnya, Hikayat Bayan Budiman memiliki nuansa dongeng dan moralitas yang kuat.
Ceritanya mencerminkan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial masyarakat Melayu pada masa lalu.
Cerita Hikayat Bayan Budiman
Di sebuah negeri yang disebut Ajam, hiduplah seorang saudagar berkecukupan bernama Khojan Mubarok.
Meskipun hartanya melimpah, Khojan Mubarok tetap memiliki keinginan untuk mempunyai seorang anak.
Dengan doa dan harapan, akhirnya Tuhan memperkenankan permintaannya dan lahirlah seorang putra yang diberi nama Khojan Maimun.
Sejak usia lima tahun, Khojan Maimun diajak belajar agama ke berbagai guru hingga mencapai usia lima belas tahun.
Kemudian, ia dijodohkan dengan Bibi Zainab, putri seorang saudagar kaya yang cantik.
Setelah pernikahannya, Khojan Maimun memberikan hadiah kepada istrinya berupa sepasang burung, tiung betina dan bayan jantan, sebagai hiburan selama ia berada di laut untuk urusan perniagaan.
Sebelum berangkat, Khojan Maimun memberikan pesan pada Bibi Zainab agar berbicara dengan burung-burung tersebut jika merasa kesepian.
Namun, ujian datang ketika seorang anak Raja Ajam terpikat oleh kecantikan Bibi Zainab. Dengan bantuan seorang perempuan tua, anak raja mencoba mendekati Bibi Zainab.
Meskipun godaan itu ada, Bibi Zainab mendengarkan nasihat salah satu burung yang menyarankannya untuk tidak melanggar perintah Tuhan.
Sayangnya, emosi menguasai Bibi Zainab dan ia melukai salah satu burung dengan melemparnya ke lantai. Namun, salah satunya masih hidup dan pura-pura tidur.
Saat Bibi Zainab bercerita tentang niatnya untuk pergi bersama anak raja, burung tersebut terbangun.
Dengan bijaksana, burung bayan jantan itu memberikan nasihat dan menceritakan akibat dari pengkhianatan terhadap suami.
Bibi Zainab mendengarkan dengan baik, dan hatinya berubah. Ia memilih untuk tidak melangkah lebih jauh dan menunggu suaminya pulang dari perjalanan dagangnya.
Dengan keberaniannya, Bibi Zainab tidak hanya menyelamatkan pernikahannya tetapi juga menemukan kedalaman kebijaksanaan dalam mendengarkan suara hati dan nasihat yang datang dari tempat yang tak terduga.
Kisah Khojan Mubarok dan Khojan Maimun menjadi pelajaran bahwa kebijaksanaan seringkali muncul dari sumber yang tidak terduga, bahkan dari makhluk yang tampak sepele.