Advertisement
Source : canva.com/@voiletkaipa

8 Cerpen Anak Sekolah Singkat dan Menarik yang Penuh Makna dan Pesan Moral

Cerpen merupakan salah satu karya sastra yang paling digemari. Simak cerpen anak sekolah singkat dan menarik yang penuh makna dan pesan moral dari Mamikos, yuk!

8 Oktober 2024 Citra

Cerpen Singkat Anak Sekolah tentang Menyontek

Erni dan teman-teman sekelasnya sering sekali mencontek pekerjaan rumah dan ulangan Reni.

Reni sudah secara halus menegur Erni agar jangan menconteknya, semata-mata karena Reni peduli pada Erni. Tapi, Erni sering kali marah dan mendiamkan Reni sehabis ditegur seperti itu.

Pagi itu, Erni dan teman-teman sekelasnya datang pagi-pagi ke sekolah untuk mencontek PR Fisika Reni karena permintaan contekan via WhatsApp mereka tidak dibaca oleh Reni.

“Reni kok belum datang sih, Er?” tanya Prisil.

“Tau tuh, biasanya jam segini kan dia udah di kelas,” komentar Erni.

Kurang 15 menit lagi pelajaran dimulai, tapi belum ada tanda-tanda Reni datang. Beberapa anak mulai ribut dan berusaha mengerjakan PR sebisanya.

Tapi Erni tidak demikian, dia kebingungan dalam mengerjakan soal-soal yang menjadi PR-nya. Erni tidak hafal rumus dan tidak tahu cara mengaplikasikannya ke soal.

Saat Erni mau mencontek teman lainnya, mereka menolak disontek oleh Erni.

Tanpa sadar, bel berbunyi. Pak Bandi, guru Fisika pun masuk kelas dan meminta murid-muridnya mengumpulkan PR setelah mengabarkan Reni dirawat di rumah sakit karena demam berdarah.

Pak Bandi terkejut karena murid kelas itu mengerjakan seadanya, tidak seperti biasa yang selalu mengerjakan dengan teliti.

“Erni, kamu maju ke depan!” perintah Pak Bandi. “Kenapa tidak mengerjakan PR?” tanya Pak Bandi.

“Lu-pa, Pak,” kilah Erni ragu-ragu.

“Yang benar?” Pak Bandi seperti tahu kebohongan Erni.

Erni tertunduk menyesal, harusnya dia mengingat pesan Reni untuk berusaha mengerjakan PR dan ulangan dengan usahanya sendiri. “Maaf, Pak.”

Cerpen Singkat Anak Sekolah tentang Bullying

Ivan sering mengganggu Bara karena dandanannya yang seperti kutu buku, apalagi sering menyendiri di perpustakaan ketimbang berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya.

Ivan menduga hal itu dipicu karena Bara miskin sehingga tidak punya uang lebih untuk memperhatikan penampilannya supaya modis seperti Ivan.

“Dasar miskin!” ejek Ivan tiap kali Bara lewat dan teman-temannya yang lain selalu tertawa karena ledekan Ivan itu.

Suatu hari, perusahaan ayah Ivan bangkrut dan sekarang ayah Ivan sedang mencari pekerjaan.

Halaman:

Advertisement