5 Contoh Adaptasi Morfologi pada Tumbuhan beserta Penjelasannya
Seperti apa adaptasi morfologi yang terjadi pada tumbuhan? Simak selengkapnya melalui contoh-contoh ada yang ada di artikel ini!
3. Tumbuhan Higrofit (Hidup di Lingkungan Lembab)

Contoh adaptasi morfologi pada tumbuhan selanjutnya terjadi pada kelompok tumbuhan higrofit. Tumbuhan higrofit merupakan tumbuhan yang hidup di lingkungan dengan tingkat kelembaban tinggi.
Oleh karena itu, kelompok ini melakukan adaptasi untuk bisa mengeluarkan kelebihan air sehingga bisa berfotosintesis secara efisien.
Tumbuhan yang termasuk kelompok higrofit diantaranya adalah paku-pakuan, lumut, dan tumbuhan keladi dengan bentuk adaptasi yang bisa dilihat pada:
- Daun dengan bentuk lebar dan tipis: dengan daun permukaan daun yang lebar dan juga tipis, tumbuhan higrofit mampu mempercepat proses penguapan (transpirasi) karena kelebihan air.
- Stomata dalam jumlah banyak dan kondisi terbuka: stomata pada tumbuhan higrofit jumlahnya banyak dan terletak pada permukaan atas daun sehingga memungkinkan proses transpirasi yang lebih efisien.
- Lapisan kutikula atau zat lilin yang tipis: lapisan kutikula (lilin) yang tipis padai permukaan daun mampu mempermudah proses penguapan air.
- Hidatoda: beberapa spesies tumbuhan higrofit mempunyai struktur khusus yang disebut hidatoda sehingga memungkinkan mereka mengeluarkan tetesan air dari ujung daun (gutasi) yang biasa terjadi saat kelembaban udara begitu tinggi.
4. Tumbuhan Halofit (Hidup di Lingkungan Salin/Asin)

Contoh adaptasi morfologi pada tumbuhan juga bisa ditemukan pada kelompok tumbuhan halofit atau tumbuhan yang habitatnya ada di sebuah lingkungan salin atau asin, sebuah lingkungan dengan kadar garam tinggi
Bakau atau mangrove dan rumput garam merupakan contoh dari tumbuhan halofit. Berikut ini beberapa contoh adaptasi yang dialami oleh tumbuhan halofit:
- Adanya akar napas (Pneumatofor): beberapa jenis tumbuhan bakau mempunyai akar yang arah tumbuhnya tegak ke atas dari dalam tanah atau lumpur.
Hal ini karena akar-akar tersebut menjalankan fungsi untuk bisa menyerap oksigen secara langsung dari udara dikarenakan tanah yang oksigennya kurang dan juga terlalu asin. - Mengeluarkan garam dari daun: beberapa tumbuhan kelompok halofit memiliki kelenjar garam yang terletak pada daunnya.
Kelenjar ini memiliki fungsi untuk mengeluarkan garam berlebih dari dalam tubuh. Keberadaan kelenjar ini bisa dilihat dari adanya kristal garam pada permukaan daun. - Daun sukulen: daun yang tebal dan berdaging memiliki fungsi sebagai penyimpan air dan juga pengencer konsentrasi garam yang pekat.
- Mampu mengekstraksi garam (Salt Excluder/Accumulator): beberapa tanaman bakau memang dikenal memiliki sebuah kemampuan untuk mencegah masuknya garam ke dalam akar (salt excluder).
Sementara itu, jenis tanaman bakau yang lainnya mampu menyerap garam dan kemudian menyimpannya ke dalam daun tua yang akan gugur (salt accumulator).
5. Adaptasi pada Tumbuhan Karnivora (Pemakan Serangga)

Bentuk adaptasi pada kelompok tumbuhan ini adalah agar bisa mendapatkan nutrisi tambahan seperti nitrogen yang bisa didapatkan dari serangga karena habitatnya yang memiliki nutrisi rendah.
Contoh tumbuhan yang termasuk kelompok ini adalah venus flytrap dan kantong semar dengan bentuk adaptasi yang bisa kamu amati seperti:
- Daun yang termodifikasi sebagai perangkap: daun pada tumbuhan karnivora berubah bentuk menjadi kantong (pada kantong semar) atau bilah berengsel (pada venus flytrap) sebagai perangkap serangga.
- Mampu menghasilkan nektar dan aroma: kemampuan tumbuhan karnivora dalam menghasilkan nektar dan aroma adalah untuk menjebak serangga.
- Memiliki rambut-rambut sensitif: pada tumbuhan venus flytrap, terdapat rambut-rambut sensitif yang mampu memicu daun tertutup pada saat tersentuh oleh serangga.
- Adanya enzim pencernaan: kantong pada kantong semar dan bilah pada venus flytrap mampu menghasilkan sebuah enzim sehingga mampu mencerna serangga yang telah terperangkap.
Halaman:


