6 Contoh Biografi tentang Orang Tua Ayah dan Ibu beserta Strukturnya Lengkap
Biografi adalah teks yang berisikan tentang kisah riwayat hidup seseorang. Temukan beberapa contoh teks biografi tentang orang tua dalam artikel ini.
Peristiwa dan Masalah
Setelah masa kontrak kerja ayahku sebagai pengawas perhutani usai, ayahku terlihat seolah-olah seperti tidak mempunyai pandangan untuk melakukan aktivitas apapun.
Ayahku sempat mencoba untuk melamar pekerjaan di beberapa bidang dan perusahaan.
Namun sayangnya, tidak ada yang menerima lamarannya hingga akhirnya ayahku memutuskan untuk bekerja sebagai seorang kuli bangunan.
Reorientasi
Ayahku adalah lelaki paling tangguh dan bertanggungjawab yang pernah aku kenal.
Seberat apapun masalah yang menerpa dirinya dan keluarga, ayah selalu mampu menanganinya dan menyelesaikan semua urusan tersebut dengan baik pula.
Seumur hidupku bersama ayah, ayah tidak pernah berlaku kasar dengan ibu ataupun aku dan kakakku.
Ayah adalah seorang lelaki yang sangat penyayang dan penuh kasih kepada keluarganya.
Setiap hari, ayah selalu memberikan kalimat motivasi kepada kami dan tak pernah menyerah untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai pendidikan tinggi.
Contoh Biografi tentang Orang Tua 2 – Biografi tentang Ayah
Orientasi
Ayahku sebentar lagi akan berusia 62 tahun. Tak heran jika kini ubannya nyaris menutupi seluruh kepalanya. Terlihat, rambutnya pun semakin menipis meskipun belum botak.
Konon, ayahku mempunyai panggilan unik, yakni ‘Si Welut’. Apa artinya?
Dalam Bahasa Jawa, ‘welut’ artinya belut. Binatang yang gesit, tidak mudah ditangkap, bergerak lincah ke sana dan ke mari tidak bisa diam.
Kata kakek, semasa kecil ayahku memang sering menghilang. Entah saat harus pergi mengaji ataupun ketika disuruh mengerjakan PR.
Peristiwa dan Masalah
Ayahku hanya lulusan SMP, Ia pernah masuk SMA tapi dia tidak lulus. Dibesarkan dalam lingkungan masyarakat pesisir, ayahku sudah tertarik bekerja sebagai pemilah ikan tangkapan nelayan semenjak berusia 15 tahun.
Itulah sebabnya ia hanya menikmati pendidikan SMA sampai kelas dua saja, itu pun hanya satu semester.
Ayahku memang ulet dan tekun bekerja. Ayah awalnya hanya seorang pemilah ikan yang bertugas memisahkan ikan-ikan kecil dari ikan yang ukuran besar untuk dijual ke penadah. Hingga akhirnya ayahku bisa menjadi seorang nakhoda.
Meskipun hanya sekadar nakhoda perahu nelayan kecil. Namun, itulah titik balik ayahku.
Ayahku yang bernama asli Mahameru akhirnya bisa mempunyai perahu sendiri setelah bekerja siang malam bahkan hingga berhari-hari melaut tanpa pulang. Hebatnya, tiap tahunnya perahunya bertambah banyak.
Ketika berusia 20 tahun, ayahku sudah memiliki enam perahu. Sedangkan teman-teman seumurannya masih berprofesi sebagai nelayan bayaran.
Beberapa di antara teman sebaya ayahku dulu diajak bekerja dengannya. Ayah tentu tidak lupa dengan mereka. Teman sepermainan yang harus terus dijaga persahabatannya.
Reorientasi
Ayahku terus menjadi nelayan hingga suatu ketika dia mengalami kecelakaan. Perahunya bocor, kapalnya tenggelam dan dia terombang-ambing selama dua hari satu malam di lautan.
Empat awak perahu lainnya meninggal dan hanya ayahku sendiri yang selamat meski sekarat.
Peristiwa itu terjadi ketika usia ayahku mendekati usia 50 tahun. Kejadian itu membuat ayahku kehilangan pendengaran hingga 90 persen.
Tampaknya dia sempat beberapa kali tenggelam saat lemas terapung-apung di lautan.
Kini, ayahku tetap menjadi sosok yang ulet. Ia lebih banyak mengabdikan dirinya di masjid dan pada masyarakat.
Ayah juga membina kaum muda di pesisir untuk berwirausaha. Aku bangga dengan sosok ayahku yang tak bisa diam seperti belut.
Contoh Biografi tentang Orang Tua 3 – Biografi tentang Ayah
Orientasi
Tahun ini, ayahku menginjak usia 55 tahun. Kulitnya tampak semakin berkerut, ubannya juga terus memenuhi rambutnya, tetapi semangatnya tak pernah memudar.
Ayahku bernama Yudho Bramanto, ia merupakan seorang kepala sekolah di salah satu SMP negeri di kota Banjarnegara.
Peristiwa dan Masalah
Ayahku lahir dan besar di Kota Solo, ia lahir dari keluarga sederhana yang juga berprofesi sebagai tenaga pendidik.
Tak hanya ayah, saudara-saudaranya juga mayoritas berprofesi sebagai guru dan dosen.
Sosok gambaran seorang pengajar memang sudah ayahku dapatkan sedari ia kecil, hingga ia pun termotivasi untuk menjadi sebagai seorang pengajar pula.
Perjalannya dimulai saat ia masih SD, ayahku yang kerap dipanggil Yudho ini memang tergolong sebagai anak yang rajin.
Ia tak pernah absen mendapatkan juara kelas dan mengikuti perlombaan akademik setiap tahunnya. Bahkan ia pernah menjadi juara umum sebagai pembaca buku terbanyak tingkat Kota Solo.
Saat menginjak bangku SMP, ayahku dan keluarganya pindah ke Kabupaten Banjarnegara karena kakek dan nenekku pindah tugas.
Halaman:

