Advertisement
Source : Canva/@alemedia/Sumali Ibnu Chamid

15 Contoh Cerpen tentang Lingkungan Sekolah Singkat dan Menarik

Ingin membuat cerpen tentang lingkungan sekolah? Dalam artikel ini, Mamikos akan berikan beberapa contohnya yang dapat kamu jadikan sebagai inspirasi!

20 November 2025 M Ansor

Cerpen atau cerita pendek merupakan salah satu teks yang sangat menarik dan seru untuk dibaca.

Sesuai dengan namanya, cerpen adalah sebuah cerita pendek fiksi yang menceritakan tentang kejadian atau peristiwa yang dialami oleh tokoh utama di dalamnya.

Nah, bagi kamu yang ingin membuat cerpen tentang lingkungan atau sekedar membacanya, di bawah ini Mamikos akan berikan beberapa contoh cerpen tentang lingkungan sekolah yang bisa kamu baca. 📖😊✨

Contoh Cerpen tentang Lingkungan Sekolah Singkat dan Menarik

Contoh Cerpen tentang Lingkungan Sekolah Singkat dan Menarik
Canva/@alemedia/Sumali Ibnu Chamid
Pengertian Cerpen, Ciri-ciri, Fungsi, Struktur, Unsur dan Jenisnya

Cerpen tentang lingkungan sekolah tentunya merupakan salah satu cerpen dengan cerita yang menarik untuk dibaca khususnya bagi para siswa yang memang sedang duduk di bangku sekolah.

Lalu, seperti apakah contoh cerpen tentang lingkungan sekolah singkat dan menarik? Nah, berikut adalah daftar contohnya:

15 Macam-macam Tema Cerpen beserta Penjelasannya, Siswa Wajib Tahu!

1. Kebun Kecil di Sudut Sekolah

Di SMP Harapan Baru, ada satu sudut kecil yang jarang dilewati murid. Sudut itu berada di belakang perpustakaan, penuh rumput liar dan tanah becek. Tidak ada yang menganggapnya penting, sampai suatu hari Bu Ratri, guru IPA baru, melihat potensi tempat itu untuk dijadikan kebun mini.

Saat pelajaran IPA, Bu Ratri mengajak seluruh kelas ke sudut tersebut. “Bagaimana kalau kita ubah tempat ini jadi kebun sekolah?” tanya Bu Ratri. Sebagian murid terlihat antusias, sebagian lagi mengeluh karena membayangkan kotor.

Namun, perlahan-lahan, antusiasme mulai tumbuh. Dava membawa bibit cabai dari rumah, Naya membawa bunga matahari, sedangkan Riko membawa cangkul kecil peninggalan ayahnya. Mereka mulai membersihkan rumput liar, meratakan tanah, dan membuat petak-petak kecil.

Setiap hari, mereka merawat kebun tersebut. Ada yang menyiram tanaman, ada yang mencatat perkembangan tinggi batang, ada pula yang mengambil sampah yang kadang tersangkut di sela-sela tanaman. Seiring berjalannya waktu, kebun itu berubah menjadi tempat favorit anak-anak.

Suatu pagi, ketika bunga matahari pertama mekar, seluruh kelas bersorak. “Kita berhasil!” kata Naya sambil tersenyum lebar. Dava juga bangga melihat cabai merah pertama muncul di petak tanaman mereka.

Kebun kecil itu akhirnya menjadi ikon sekolah. Guru-guru sering mengajak murid lain berkunjung untuk belajar tentang tanaman. Bahkan kepala sekolah memutuskan membuat papan nama bertuliskan: Kebun Harapan.

Pada hari peresmian, Bu Ratri berkata, “Kebun ini tidak akan ada kalau kalian tidak bekerja sama. Lingkungan itu bukan hanya harus dijaga, tapi juga bisa kita ciptakan menjadi sesuatu yang baik.”

Anak-anak merasa bangga. Mereka tak hanya belajar IPA, tetapi juga belajar merawat, bekerja sama, dan mencintai lingkungan sekolah.

11 Contoh Cerpen beserta Nama Pengarang dan Penerbitnya [Lengkap]

2. Penghapus yang Hilang

Kelas 6B terkenal sebagai kelas paling berisik dan paling ceroboh. Pada suatu pagi, Miss Winda hendak mengajar matematika. Namun saat ia menulis di papan tulis, ia tersenyat. “Siapa yang mengambil penghapus kelas?”

Anak-anak saling menatap. Dalam beberapa minggu terakhir, banyak barang kelas yang hilang: sapu, tempat sampah kecil, bahkan penggaris panjang. Tidak ada yang tahu kemana semuanya pergi.

Miss Winda kemudian membuat sebuah permainan investigasi. “Hari ini, kita cari pelaku, tapi bukan untuk dimarahi. Kita ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Semua murid dibagi menjadi kelompok pengamat lingkungan.

Kelompok pertama memeriksa ruang UKS, kelompok kedua memeriksa gudang, kelompok ketiga memeriksa kantin, dan kelompok Dava ditugasi memeriksa area belakang sekolah.

Saat menyisir belakang gedung, Dava dan teman-temannya menemukan sesuatu yang mengejutkan. Ada tumpukan barang-barang yang hilang tergeletak di dekat kandang kucing liar.

Tampaknya kucing-kucing itu sering bermain dengan benda-benda dari kelas, mendorongnya keluar lewat pintu yang tidak tertutup rapat.

Dava segera melapor kepada Miss Winda. Kelas pun tertawa lega saat mengetahui “pelakunya” ternyata sekumpulan kucing nakal.

Miss Winda kemudian berkata, “Kalau kita menjaga kelas tetap rapi dan menutup pintu, mungkin barang-barang ini tidak akan hilang. Lingkungan sekolah itu tanggung jawab kita.”

Sejak hari itu, kelas 6B berubah lebih rapi. Mereka bahkan membuat jadwal piket untuk memastikan pintu selalu tertutup dan barang-barang tidak berserakan.

Dan penghapus? Akhirnya kembali ke tempat aslinya—bersih setelah dicuci bersama-sama.

3. Jam Dinding untuk Lapangan Upacara

Lapangan upacara di SD Bintang Cendekia selalu menjadi tempat favorit murid untuk bermain.

Namun, masalah muncul ketika jam dinding di aula utama rusak dan sekolah tidak punya dana untuk membeli yang baru. Jam itu penting karena menjadi acuan waktu setiap kali upacara, kegiatan piket, dan lomba-lomba.

Suatu hari, ketua OSIS, Talita, mendapat ide. “Bagaimana kalau kita adakan program daur ulang untuk mengumpulkan dana? Kita kumpulkan botol plastik, kertas bekas, apa saja yang bisa dijual.”

OSIS mulai mengampanyekan gerakan itu. Mereka menempelkan poster yang dibuat sendiri: Sampahmu Bisa Jadi Jam Baru! Anak-anak awalnya hanya ikut-ikutan, tapi lama-kelamaan mereka justru bersemangat.

Setiap kelas memiliki kotak khusus untuk botol plastik dan kertas bekas. Setiap pagi, petugas piket kelas menimbang sampah yang terkumpul, lalu mencatatnya di papan laporan.

Dalam dua minggu, seluruh sekolah berhasil mengumpulkan puluhan kilogram sampah anorganik. Hasil penjualannya cukup untuk membeli jam dinding besar dan tahan cuaca, yang akan dipasang menghadap lapangan upacara.

Pada hari pemasangan jam, semua murid berkumpul. Kepala sekolah berkata, “Kalian bukan hanya membeli jam. Kalian menyelamatkan banyak sampah agar tidak mencemari lingkungan.”

Moment itu membuat semua murid merasa bangga. Lapangan upacara kini memiliki jam besar yang cantik—dan semua orang tahu bahwa jam itu adalah hasil kerja keras seluruh sekolah.

4. Taman Belakang yang Terlupakan

Di belakang SMP Merpati Putih, terdapat sebuah taman kecil yang sudah lama terbengkalai. Rumputnya tumbuh liar, bangku-bangku kayu mulai rapuh, dan kolam kecil di tengah taman dipenuhi daun kering.

Dulu, taman itu sering dipakai siswa untuk membaca atau berdiskusi kelompok, tetapi kini hampir tidak ada yang mau mendekat.

Suatu hari, Bu Raras, guru IPA, mengajak kelas 8B mengunjungi taman tersebut. “Anak-anak, bagaimana kalau kita sulap taman ini supaya hidup kembali?” tanyanya.

Awalnya, banyak siswa mengeluh—apalagi matahari siang itu cukup terik. Namun, salah satu siswa bernama Indra mengangkat tangan dan berkata, “Boleh, Bu. Sayang kalau dibiarkan begini.”

Akhirnya, proyek revitalisasi taman pun dimulai. Mereka membagi tugas: ada yang mencabut rumput liar, ada yang mengecat ulang bangku, ada pula yang membersihkan kolam. Indra dan dua temannya bertugas membuat papan nama baru untuk taman tersebut.

Hari pertama terasa melelahkan, tetapi perubahan kecil mulai terlihat. Keesokan harinya, siswa lain dari kelas berbeda ikut membantu setelah melihat keseruan proyek itu. Mereka membawa bibit bunga, cat warna-warni, dan bahkan batu hias untuk jalur taman.

Seminggu kemudian, taman kecil yang tadinya kusam berubah menjadi tempat hijau yang asri.

Kolam mungil itu kini berisi ikan koki, bangku-bangku terlihat lebih cerah, dan bunga zinnia bermekaran di sudut-sudut taman. Siswa mulai kembali menjadikan taman itu tempat favorit untuk membaca saat jam istirahat.

Saat peresmian taman, Bu Raras berkata, “Kalian telah membuktikan bahwa lingkungan sekolah dapat berubah jika kita mau peduli.” Semua yang hadir bertepuk tangan, terutama Indra yang merasa bangga melihat hasil kerja keras mereka.

Sejak saat itu, taman belakang tidak pernah lagi terbengkalai. Siswa-siswa membuat jadwal piket mingguan untuk merawatnya, sehingga taman selalu bersih dan indah. Indra sering duduk di sana setiap pagi sembari menikmati udara sejuk.

Dalam hati, ia merasa bahwa menjaga lingkungan bukanlah sekadar tugas sekolah, tetapi bentuk cinta terhadap tempat yang sudah menjadi rumah keduanya.

Halaman:

Advertisement