15 Contoh Cerpen tentang Lingkungan Sekolah Singkat dan Menarik
Ingin membuat cerpen tentang lingkungan sekolah? Dalam artikel ini, Mamikos akan berikan beberapa contohnya yang dapat kamu jadikan sebagai inspirasi!
5. Hari Tanpa Sampah
Setiap hari Senin, SMA Bintang Timur mengadakan kegiatan bernama “Hari Tanpa Sampah.” Pada hari itu, seluruh siswa dilarang menggunakan kemasan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah. Mulai dari botol minum hingga bungkus makanan harus diganti dengan wadah yang dapat dipakai ulang.
Nayla, siswi kelas XI, awalnya tidak terlalu peduli. Ia selalu membawa air mineral botol plastik dan membeli jajanan yang dibungkus plastik. Namun, suatu hari, ia ditegur petugas OSIS karena membawa botol sekali pakai. “Kak, ini cuma satu botol, kok,” protes Nayla.
Ketua OSIS menjawab, “Iya, tapi kalau semua siswa berpikir seperti itu, sampah kita akan menumpuk terus.”
Keesokan harinya, Nayla mulai mencoba mengikuti aturan. Ia membawa tumbler dari rumah. Namun, saat ingin membeli makanan, ia lupa membawa wadah makan sendiri sehingga ia tidak bisa membeli jajanan favoritnya. Ia kesal, tapi mulai sadar bahwa perubahan memang butuh pembiasaan.
Dalam beberapa minggu, Nayla mulai terbiasa hidup tanpa sampah plastik. Ia bahkan mengajak teman-temannya untuk memakai kotak makan khusus yang lucu. Setiap Senin, kantin sekolah tampak lebih rapi dan bersih karena sampah plastik berkurang drastis.
Suatu hari, kepala sekolah memanggil Nayla untuk datang ke ruangannya. “Kami lihat kamu aktif mengajak teman-teman mengurangi sampah. Kami ingin kamu menjadi duta lingkungan sekolah,” katanya.
Nayla terkejut sekaligus bangga. Ia yang dulu tidak peduli kini menjadi inspirasinya banyak siswa lain. Ia pun memutuskan untuk membuat program tambahan: workshop membuat kreasi tas dari plastik kresek bekas.
Program itu sukses besar. Banyak siswa yang mengikuti, bahkan beberapa orang tua ikut terlibat. Kini, setiap Senin bukan lagi hari yang membosankan, tetapi hari ketika seluruh sekolah merayakan lingkungan yang lebih bersih.
Nayla menyadari bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal aturan sekolah, melainkan kebiasaan baik yang akan bermanfaat sepanjang hidup.
6. Kebun Kelas 6A
SD Nusantara memiliki lahan kosong di samping ruang olahraga. Lahan itu hanya dipenuhi tanah kering dan ilalang. Suatu hari, Bu Erni, wali kelas 6A, mengumumkan bahwa mereka akan menggunakan lahan tersebut untuk membuat kebun kelas.
Anak-anak langsung bersorak gembira. Mereka membayangkan memetik tomat, cabai, dan kangkung yang mereka tanam sendiri. Tapi ketika melihat lahan itu dari dekat, semangat mereka menurun. Tanahnya keras, penuh batu, dan banyak sampah plastik kecil berserakan.
“Bu, apa bisa ditanami?” tanya seorang siswa, Seno.
“Tentu bisa,” jawab Bu Erni. “Kalau kita bersama-sama.”
Mereka mulai membersihkan lahan. Anak-anak membawa sarung tangan, cangkul kecil, dan ember dari rumah. Ada yang mencabut rumput liar, ada yang menyingkirkan batu, ada pula yang menyiram tanah agar lebih gembur.
Setelah bersih, mereka membuat bedengan kecil. Setiap kelompok mendapat tugas menanam satu jenis tanaman. Kelompok Seno menanam kangkung, sementara kelompok lain menanam tomat, daun bawang, dan cabai.
Pada minggu-minggu pertama, tanaman itu tampak kecil dan rapuh. Hujan deras sempat membuat beberapa tanaman hampir mati. Namun, anak-anak tak menyerah. Mereka membuat sistem penyiraman sederhana dari botol bekas dan menciptakan pagar kecil dari kayu sisa.
Bulan demi bulan berlalu. Kebun kelas 6A mulai terlihat hijau dan segar. Tanaman tumbuh subur. Bahkan beberapa guru lain ikut membantu memberi pupuk kompos.
Saat panen tiba, anak-anak sangat bangga. Mereka mengumpulkan tomat merah cerah, cabai yang pedas, dan kangkung segar. Bu Erni mengajak mereka memasak hasil panen itu di dapur sekolah menjadi tumis kangkung sederhana yang rasanya jauh lebih enak karena ditanam sendiri.
Kebun 6A menjadi inspirasi bagi kelas lain. Tahun berikutnya, setiap kelas mendapat lahan kecil untuk berkebun. SD Nusantara pun berubah menjadi sekolah hijau yang penuh tanaman.
Anak-anak belajar bahwa merawat lingkungan membutuhkan kerja keras, tetapi hasilnya selalu memuaskan.
7. Sang Penjaga Tong Sampah Baru
SMP Cendana Baru baru saja menerima bantuan fasilitas berupa sepuluh tong sampah pilah dari Dinas Lingkungan Hidup.
Tong-tong itu berwarna cerah: biru untuk kertas, kuning untuk plastik, hijau untuk organik, dan merah untuk residu. Namun, setelah seminggu dipasang, tong sampah itu justru penuh dengan sampah yang tidak sesuai kategori.
Pak Rudi, pembina OSIS, akhirnya menunjuk empat siswa sebagai “Penjaga Tong Sampah.” Salah satunya adalah Lala, siswi ceria yang hobi menggambar. Tugas mereka adalah mengawasi penggunaan tong sampah dan mengedukasi teman-teman agar membuang sampah sesuai jenisnya.
Pada hari pertama bertugas, Lala melihat seorang siswa membuang sisa makanan ke tong plastik. Ia mendekatinya dengan sopan, “Maaf, itu harusnya dibuang ke tong hijau, karena organik.”
Siswa itu mengangkat bahu dan menjawab, “Sama aja, nanti disatuin juga.” Lala tersenyum dan mulai menjelaskan bagaimana sampah organik bisa diolah menjadi kompos untuk taman sekolah. Penjelasan itu membuat siswa tadi paham dan mulai tertib.
Lala punya ide lain. Ia menggambar poster lucu berisi karakter tong sampah yang sedang “marah” jika salah diisi. Poster itu ditempel di sekitar halaman sekolah. Tanpa diduga, banyak siswa merasa terhibur dan mulai mengikuti aturan.
Dalam waktu sebulan, perubahan besar terjadi. Tong-tong sampah jarang salah isi. Bahkan, taman sekolah menjadi lebih hijau karena kompos yang mereka hasilkan digunakan untuk menyuburkan tanaman.
Pada hari peringatan lingkungan hidup, kepala sekolah memberikan penghargaan kepada Lala dan timnya. “Kalian sudah membuktikan bahwa perubahan dimulai dari hal kecil,” kata beliau.
Sejak saat itu, Lala dikenal sebagai siswa yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Ia merasa bangga, bukan karena penghargaan, tetapi karena sekolahnya kini jauh lebih bersih dan tertata.
8. Mural Kebersihan untuk Seluruh Sekolah
SMA Angkasa 1 memiliki lorong yang panjang dan membosankan menuju ruang laboratorium. Dindingnya berwarna putih polos, membuat banyak siswa tidak betah melewatinya. Suatu hari, Bu Niken, guru seni budaya, mendapat ide untuk menghidupkan lorong itu dengan mural bertema lingkungan.
Ia menunjuk lima siswa berbakat, termasuk Guntur, seorang remaja pendiam yang pandai melukis. Awalnya Guntur ragu. Ia tidak pernah membuat mural sebesar itu. Namun, Bu Niken yakin bahwa Guntur bisa.
Mereka mulai bekerja setelah jam pelajaran selesai. Guntur menggambar konsep awal berupa pemandangan sekolah ideal: taman hijau, tempat sampah terpilah, dan siswa-siswa yang disiplin menjaga kebersihan.
Setiap sore, Guntur dan timnya mengecat sedikit demi sedikit. Siswa lain yang lewat sering berhenti untuk melihat prosesnya. Beberapa memberi pujian, beberapa menawarkan bantuan kecil seperti membawa air atau membersihkan kuas.
Seminggu berlalu, mural itu mulai terbentuk. Warna-warna cerah menghiasi lorong, membuat siapa pun yang melewatinya merasa lebih segar. Murid-murid memotret mural itu dan mengunggahnya ke media sosial. Mural tersebut menjadi ikon baru sekolah.
Kepala sekolah begitu terkesan. Ia berkata, “Mural ini bukan hanya hiasan, tetapi pengingat agar kita semua menjaga lingkungan.”
Guntur merasa bangga. Ia tidak hanya meninggalkan hasil karyanya di sekolah, tetapi juga pesan bahwa kreativitas dapat menjadi cara efektif mengajak orang peduli lingkungan.
9. Piket yang Mengubah Persahabatan
Setiap pagi, kelas 7C selalu kotor saat jam pelajaran dimulai. Lantai penuh serpihan kertas, kursi tidak rapi, dan papan tulis masih penuh coretan. Piket kelas seperti tidak berjalan karena semua saling melempar tanggung jawab.
Suatu hari, Bu Aida memberikan ultimatum: “Kalau besok kelas masih kotor, semua tidak boleh pulang sampai bersih.”
Tiga siswa yang bertugas piket hari itu adalah Risa, Abel, dan Joni. Mereka bertiga sebenarnya kurang akur. Risa rajin, tapi Abel cuek, sementara Joni sering bercanda berlebihan.
Saat akan mulai piket, Abel hanya duduk sambil memainkan ponselnya. Risa kesal, “Kamu bisa bantu nggak?” Abel mengangkat alis, “Nanti aja.” Joni tertawa dan memihak Abel.
Namun ketika melihat Risa bekerja sendirian, Joni tiba-tiba merasa bersalah. “Bel, kalau kita nggak bantu, kasihan juga,” katanya.
Akhirnya Abel bergabung. Mereka mulai menyapu, mengepel, dan merapikan kursi bersama-sama. Pekerjaan yang biasanya terasa berat jadi lebih cepat selesai karena dikerjakan bareng.
Besoknya, Bu Aida terkejut melihat kelas 7C begitu bersih. “Seperti ini seharusnya setiap hari,” katanya bangga.
Peristiwa itu membuat hubungan Risa, Abel, dan Joni membaik. Mereka mulai kompak menjaga kelas. Bahkan kelas lain iri karena 7C kini dikenal sebagai kelas terbersih.
Dari piket sederhana, tiga siswa itu belajar bahwa kerja sama membuat segalanya lebih mudah dan menyenangkan.
Halaman:

