Advertisement
Source : Canva/@alemedia/Sumali Ibnu Chamid

15 Contoh Cerpen tentang Lingkungan Sekolah Singkat dan Menarik

Ingin membuat cerpen tentang lingkungan sekolah? Dalam artikel ini, Mamikos akan berikan beberapa contohnya yang dapat kamu jadikan sebagai inspirasi!

20 November 2025 M Ansor

10. Klub Penghemat Energi

SD Tunas Bangsa sedang mengalami kenaikan tagihan listrik yang cukup besar. Kepala sekolah pun membuat program baru bernama “Klub Penghemat Energi.” Klub itu beranggotakan siswa kelas 4–6 yang bertugas memastikan lampu, kipas angin, dan AC dimatikan saat tidak dipakai.

Arif, siswa kelas 5, ditunjuk menjadi ketua klub. Ia berkeliling setiap istirahat mengecek setiap ruangan. Jika menemukan kelas yang ditinggalkan tapi lampunya menyala, ia mencatat dan mengingatkan petugas piket.

Arif juga membuat papan pengingat berisi pesan lucu seperti “Lampu bukan matahari, matikan kalau tidak perlu” atau “AC capek kalau kamu lupa menekan tombol OFF.” Papan-papan itu ditempel di setiap sudut sekolah.

Dalam dua bulan, tagihan listrik sekolah turun drastis. Kepala sekolah mengumumkannya dalam upacara, sambil memuji kerja keras Klub Penghemat Energi.

Arif tersenyum bangga. Ia sadar bahwa menghemat energi tidak hanya membantu sekolah, tetapi juga bumi.

11. Pohon Kenangan di Sudut Halaman

Di sudut halaman sekolahku, berdirilah sebuah pohon mangga yang tampak biasa saja. Namun bagi kami, pohon itu adalah saksi dari banyak sekali kenangan.

Setiap pagi, sebelum bel masuk berbunyi, kami sering berkumpul di bawah naungannya. Entah bercerita tentang tugas yang belum selesai, latihan upacara, atau sekadar berbagi jajanan.

Suatu hari, kepala sekolah mengumumkan bahwa halaman sekolah akan diperluas untuk pembangunan kelas baru. Pohon mangga itu terancam ditebang karena berada tepat di area pembangunan.

Banyak siswa merasa sedih, terutama aku dan teman-teman sekelasku. Kami merasa kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari keseharian sekolah.

Akhirnya, kami sepakat menulis surat permohonan kepada kepala sekolah untuk mempertahankan pohon itu. Bukan hanya karena kenangan, tetapi juga karena pohon itu memberi udara segar dan tempat berteduh.

Kami juga membuat poster kecil tentang pentingnya menjaga pepohonan di lingkungan sekolah dan menempelkannya di papan pengumuman.

Tak kami sangka, usaha kami membuahkan hasil. Kepala sekolah memutuskan untuk memindahkan lokasi pembangunan beberapa meter lebih jauh agar pohon itu tetap aman. Meski biayanya bertambah, beliau mengatakan bahwa menjaga kesadaran lingkungan siswa jauh lebih penting.

Sejak saat itu, pohon mangga itu bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga simbol bahwa suara kecil pun bisa membawa perubahan besar. Setiap kali aku melewati pohon itu, aku selalu teringat betapa pentingnya peduli pada lingkungan, sekecil apa pun peran kita.

12. Taman Baru, Semangat Baru

Tahun lalu, sekolahku mengikuti program “Sekolah Hijau”. Salah satu proyeknya adalah membuat taman kecil di area yang dulunya hanya berisi tanah kering dan sampah plastik berserakan. Wali kelasku menunjuk kelas kami sebagai penanggung jawab utama proyek itu.

Awalnya, kami mengira ini hanya tugas menanam bunga dan menyiramnya sesekali. Namun, setelah melihat betapa tandusnya area itu, kami sadar kami harus bekerja ekstra keras.

Di bawah terik matahari, kami mencabut ilalang, memungut sampah, menggali tanah, dan menata batu-batu di pinggir taman. Beberapa siswa yang biasanya malas bergerak pun ikut turun tangan.

Selama beberapa minggu, taman itu mulai berubah. Kami menanam berbagai bunga, membuat jalur kecil dari batu kerikil, dan bahkan membuat papan nama sederhana bertuliskan “Taman Harmoni”.

Setiap hari, ada jadwal piket khusus untuk merawat taman: menyiram, membersihkan daun gugur, dan memastikan tidak ada sampah tertinggal.

Setelah taman selesai, sekolah kami terlihat lebih hidup. Siswa-siswa suka duduk di sekitar taman saat istirahat, guru-guru sering melewati jalurnya untuk menikmati udara segar. Bahkan, sekolah kami memenangkan penghargaan tingkat kota sebagai sekolah dengan lingkungan terbersih.

Yang paling berkesan bagi kami adalah perubahan dalam diri setiap siswa. Kami jadi lebih peduli, tidak lagi sembarangan membuang sampah, bahkan cenderung mengingatkan teman lain jika mereka lupa.

Taman itu bukan hanya memperindah sekolah, tetapi juga menumbuhkan tanggung jawab dalam diri kami.

13. Operasi Semut yang Mengubah Sekolah

Istirahat pertama selalu menjadi waktu yang paling ramai di sekolah. Sayangnya, keramaian itu sering meninggalkan banyak sampah makanan berserakan di sekitar kantin. Wali kelas kami, Bu Rani, akhirnya memperkenalkan program sederhana bernama “Operasi Semut”.

Setiap selesai istirahat, seluruh siswa di kelas kami harus mengambil setidaknya lima sampah kecil di sekitar area sekolah. Awalnya kami merasa ini seperti hukuman, apalagi jika kami sebenarnya tidak membuang sampah. Namun seiring berjalannya waktu, kami mulai melihat perubahan nyata.

Area kantin yang biasanya kotor kini terlihat lebih bersih. Tempat sampah semakin jarang penuh karena lebih teratur. Siswa dari kelas lain pun mulai mengikuti kebiasaan ini tanpa disuruh. Bahkan, beberapa adik kelas membuat lomba kecil: siapa yang bisa mengumpulkan sampah terbanyak setiap hari.

Yang paling mengharukan adalah ketika kepala sekolah memuji kelas kami karena berhasil menginspirasi seluruh siswa menjaga kebersihan. Tidak ada hadiah mewah, hanya sekadar ucapan terima kasih di depan upacara. Tapi itu terasa sangat berarti.

Kini, Operasi Semut menjadi rutinitas seluruh sekolah. Program yang awalnya terasa membebani ternyata membuat kami belajar bahwa tindakan kecil bisa membangun lingkungan sekolah yang jauh lebih nyaman dan sehat.

14. Kelas yang Berubah Karena Jendela

Setiap hari saat pelajaran berlangsung, kelas kami terasa pengap. AC sering rusak, kipas angin berputar pelan, dan jendela lebih sering tertutup karena sebagian engselnya patah. Banyak siswa mengeluh tidak bisa fokus belajar.

Suatu hari, Pak Dimas meminta kami memperhatikan satu hal sederhana: “Kenapa kita tidak memanfaatkan cahaya dan udara alami? Lingkungan sekolah bisa jadi nyaman kalau kita juga ikut menjaganya.”

Kalimat itu membuat kami berpikir. Hari berikutnya, kami bersama-sama membuka jendela yang masih bisa digunakan. Cahaya matahari masuk, membuat kelas terlihat lebih cerah. Namun tetap saja, udara belum cukup segar.

Akhirnya, kami memutuskan untuk memperbaiki jendela-jendela yang rusak. Menghubungi tukang mungkin sulit bagi sekolah, jadi kami meminta izin untuk memperbaikinya secara bertahap.

Beberapa teman yang ayahnya tukang kayu membawa obeng dan paku. Kami memperbaiki engsel, mengamplas bagian yang lapuk, dan mengecat ulang kusen yang mulai kusam.

Tak hanya itu, kami juga menempelkan stiker ajakan menjaga kebersihan di dekat jendela, seperti “Buka Jendela untuk Udara Bersih” atau “Jagalah Cahaya Alami, Matikan Lampu Ketika Tidak Perlu”.

Beberapa hari kemudian, kelas kami berubah drastis. Udara jauh lebih sejuk, ruangan terasa luas dan terang. Guru-guru yang mengajar pun memuji kenyamanan ruang kelas kami. Bahkan kelas-kelas lain mulai mengikuti langkah yang sama.

Dari jendela yang hampir terlupakan, kami belajar bahwa menjaga lingkungan sekolah tidak selalu memerlukan anggaran besar. Kadang, cukup dengan kepedulian kecil dari seluruh siswa, lingkungan belajar bisa menjadi jauh lebih baik.

15. Hari Tanpa Plastik di Sekolah Kami

Suatu pagi, saat upacara bendera, kepala sekolah mengumumkan program baru bernama “Hari Tanpa Plastik”. Setiap hari Jumat, siswa dan guru dilarang membawa plastik sekali pakai, seperti bungkus makanan, sedotan, atau kantong belanja. Semua harus diganti dengan wadah ramah lingkungan.

Awalnya, banyak siswa menggerutu. Membawa kotak makan terasa merepotkan, apalagi jika biasanya membeli jajanan praktis di kantin. Namun program ini tetap dijalankan.

Pada hari Jumat pertama, beberapa siswa masih membawa plastik tanpa sadar. Guru-guru kemudian menjelaskan dengan sabar dan memberi alternatif.

Kantin pun mulai berubah. Ibu kantin menyediakan mangkuk stainless, gelas kaca, dan sedotan bambu. Tempat sampah plastik yang biasanya penuh kini mulai berkurang isinya. Di sudut kantin, terdapat poster besar tentang bahaya sampah plastik bagi lingkungan dan hewan.

Minggu demi minggu, kebiasaan baru mulai terbentuk. Banyak siswa membawa tumbler lucu dan kotak makan warna-warni. Beberapa bahkan membawa tas kain buatan sendiri.

Hari Tanpa Plastik bukan sekadar aturan, tetapi gaya hidup yang mulai dibanggakan. Saat ada siswa yang membawa plastik, teman-teman lainnya mengingatkan dengan halus.

Puncaknya adalah lomba kreatif membuat kerajinan dari plastik bekas. Kelas kami membuat lampion besar dari botol air mineral bekas, dan hasilnya dipajang di depan aula sekolah.

Kini, meski hari Jumat tetap menjadi fokus utama, banyak dari kami yang memilih tidak memakai plastik sepanjang hari lainnya. Sekolah kami terasa lebih bersih, dan kami bangga bisa berkontribusi menjaga lingkungan.

Nah, itulah dia beberapa contoh cerpen tentang lingkungan sekolah singkat dan menarik. Kamu dapat menjadikan beberapa contoh di atas sebagai sumber inspirasi atau sekedar bacaan saja. Semoga bermanfaat, ya!


Halaman:

Advertisement