Contoh-contoh Naskah Drama Pendek tentang Sikap Toleransi 2 – 8 Orang
Sebuah naskah drama pendek dapat menjadi sarana yang cukup baik dalam menyampaikan kegelisahan atau isu yang sedang terjadi di sekitar kamu, termasuk tentang toleransi.
2. Contoh Naskah Drama Pendek Toleransi Kedua
Judul: Membantu ibu saat di rumah
Pemain: Kakak, ayah dan bunda
Latar tempat: Rumah
Kakak: (sibuk bermain playstation)
Bunda: Kak, bisa tolong bunda ambilkan daun bawang di kulkas sebentar? Ini bunda lagi bikin adonan bakwan, tangan bunda kotor.
Kakak: Hmmm… jarak bunda ke kulkas kan dekat, Bun. Aku lagi sibuk main Playstation.
Bunda: Bunda minta tolong sebentar saja, nanti setelah kamu ambilkan daun bawangnya kan kamu bisa lanjut main lagi, Kak.
Kakak: Coba ngomong ke Ayah deh, Bund. Jarak Ayah ke dapur lebih deket daripada aku, Bund. (menolak dan melanjutkan bermain playstation.)
Bunda: Ayah kan lagi sibuk kerja di rumah, Kak. Sebentar saja Kak, tolong bantu bunda.
Ayah: (keluar ruangan kerja, menuju kulkas untuk mengambil daun bawang.)
Bunda: Eh ayah, makasih ya ayah (menerima daun bawang yang disodorkan ayah.)
Ayah: Kak, ayah tahu kamu lagi senang bermain playstation, tetapi kamu jangan lupa kewajiban kamu membantu ibu. Kasihan ibu kerepotan di dapur untuk membuatkan kita makanan.
Kakak: Tapi ayah.. Tadi aku nanggung main PS nya. Terus kan sekarang lagi momen liburan. Aku boleh dong menikmati waktu liburku.
Ayah: Kamu boleh menikmati waktu liburan. Tapi sebagai anggota di keluarga ini, kamu tetap harus menerapkan toleransi. Kamu harus tetap menjalankan kewajiban membantu anggota keluarga yang sedang memerlukan pertolongan.
Kakak: Hmm, iya deh ayah (bangun dan menghampiri Bunda.) Maafin kakak ya, Bun. Lain kali kakak akan lebih menyadari peran dalam keluarga dan membantu bunda.
Dalam drama di atas kamu dapat menyaksikan tentang pentingnya sikap menjaga toleransi di lingkungan keluarga. Drama tersebut juga sudah memuat latar tempat dan penokohan dengan lengkap.
3. Contoh Naskah Drama Pendek Toleransi Ketiga
Judul: Merayakan Hari Besar Keagamaan
Pemain: Michael, Ahmad, Putu dan Gede (bisa melibatkan lebih banyak orang)
Latar tempat: Sekolah
Putu: Eh, Ahmad, bukankah sebentar lagi bulan Ramadan. Apakah sekolah kita akan mengadakan lagi acara pesantren kilat seperti tahun sebelumnya?
Ahmad: Wah, saya belum berdiskusi dengan para pengurus rohis. Tapi mudah-mudahan saja ada, ya.
Gede: Iya, kalau ada pesantren kilat biasanya kita bisa ikut merayakan momen buka puasa meski tidak ikut berpuasa. Saat magrib berkumandang, ada banyak makanan dan minuman yang enak biasa, seperti kolak, jus buah, es campur dan lain-lain.
Michael: Tapi jadinya kan kita pulang terlambat, kan?! Karena kita harus menunggu dulu anak-anak yang berpuasa untuk selesai berbuka, salat, dan kegiatan lainnya.
Putu: Lho, bukannya tidak diwajibkan untuk ikut, ya?! (memasang tampang bingung dan heran.) Pak Guru sudah memperbolehkan kita yang bukan Islam untuk pulang lebih dulu. Pilihan kita sendiri mau ikut menemani teman-teman muslim buka puasa dan kegiatan pesantren kilatnya.
Gede: Apa yang diucapkan Putu tadi ada benarnya lho, Michael. Kita yang bukan Islam tidak diwajibkan untuk ikut merayakan momen buka puasa hingga pesantren kilat. Kamu bisa pulang begitu kegiatan ekstrakurikuler selesai.
Michael: Iya tetap saja, teman-temanku yang lain jadi ikut stay di sekolah. Aku jadi nggak ada kawan pulang. Mau tak mau kan aku juga ikut tinggal di sekolah.
Gede: Michael, tidak ada yang memaksa kamu untuk tinggal di sekolah. Bukan salah temen-temen muslim kita yang sedang melakukan ibadah juga. Kamu tinggal di sekolah itu murni keputusan kamu, bukan karena teman-teman muslim yang sedang menjalankan ibadah mereka.
Putu: Kamu harus menjaga tenggang rasa dan toleransi, Michael. Karena apa yang barusan kamu ucapkan itu pasti membuat hati Ahmad dan teman-teman muslim lainnya bersedih.
Michael: (menyadari kesalahan) Iya juga, ya. Maaf ya, Ahmad. Saya tidak bermaksud melukai kamu dengan ucapan saya tadi.
Ahmad: Tidak apa-apa Michael, santai saja.
Dalam drama di atas kamu bisa melihat betapa penting dan wajibnya dalam menjaga sikap tenggang rasa dan toleransi.
Dalam drama di atas kamu juga bisa melihat latar dan penokohan dengan sangat jelas.
4. Contoh Naskah Drama Pendek Toleransi Keempat
Judul: Menghargai Teman yang Berbeda Pendapat
Pemain: Rina, Siti, Bima, Andi
Latar tempat: Ruang kelas
Rina: Teman-teman, untuk lomba kelas kita mau pakai tema lingkungan atau budaya, ya?
Siti: Menurutku lebih bagus lingkungan, supaya kita bisa mengajak orang peduli alam.
Bima: Kalau aku lebih setuju budaya. Kita bisa tampilkan tarian daerah.
Andi: Kok beda-beda sih? Nanti malah ribut.
Rina: Tenang dulu, kita dengarkan pendapat masing-masing dulu, ya.
Siti: Aku pilih lingkungan karena sekarang banyak sampah di sekitar kita.
Bima: Kalau budaya, supaya teman-teman lebih mengenal tradisi Indonesia.
Andi: Hmm… dua-duanya bagus sebenarnya.
Rina: Gimana kalau kita gabungkan saja? Kita tampilkan budaya sambil membawa pesan menjaga lingkungan.
Siti: Wah, ide bagus tuh!
Bima: Iya, jadi semua pendapat dihargai.
Andi: Setuju. Kita nggak perlu memaksakan kehendak sendiri.
Rina: Nah, inilah pentingnya toleransi dalam berdiskusi.
Drama ini menunjukkan sikap toleransi dalam menghargai perbedaan pendapat saat bekerja sama di sekolah.
5. Contoh Naskah Drama Pendek Toleransi Kelima
Judul: Menghormati Waktu Ibadah
Pemain: Dika, Rafi, Nanda, Sari
Latar tempat: Lapangan sekolah
Dika: Ayo cepat latihan sekarang, biar cepat selesai.
Rafi: Tunggu sebentar, aku mau salat dulu ya.
Nanda: Lah, nanti keburu sore kalau nunggu kamu.
Sari: Nanda, sabar dong. Rafi kan mau ibadah dulu.
Rafi: Iya, aku cuma sebentar kok.
Nanda: Hmm… iya juga sih. Maaf ya, Fi.
Dika: Nggak apa-apa, kita pemanasan dulu aja sambil nunggu.
Sari: Betul. Kita harus saling menghargai.
Rafi: Makasih ya kalian sudah mau nunggu.
Nanda: Sama-sama. Lain kali aku nggak bakal protes lagi.
Dika: Kalau saling toleransi, latihan jadi lebih nyaman.
Drama ini menggambarkan pentingnya toleransi dalam menghormati waktu ibadah dan kebutuhan pribadi teman.
Halaman:

