Contoh Hikayat yang Diubah Menjadi Cerpen beserta Cara Membuatnya yang Baik dan Benar
Cerpen merupakan salah satu karya sastra modern yang ditulis dalam bentuk prosa. Ide membuat cerpen bisa berasal dari mana saja. Salah satunya dari hikayat yang dikembangkan.
Pada kesempatan itu, Dewi Sukesi mengucapkan bahwa dirinya ikhlas untuk menjadi istri dari Resi Wisrawa.
Tentunya Resi Wisrawa tidak siap dengan pertanyaan ini. Karena belum siap untuk menjawabnya. Resi Wisrawa kemudian berkata dengan jujur.
“Sebelumnya aku minta maaf kepadamu. Keikutsertaan dalam sayembara ini bukanlah untuk diriku sendiri. Tetapi untuk anakku yang bernama Wisrawan.”
Dewi Sukesi sempat tersinggung dengan kata-kata Resi Wisrawa.
“Bukankah kamu ingat dengan peraturan yang ada di dalam sayembara ini, Tuan?”
Resi Wisrawa mengangguk sebagai tanda mengerti.
“Ketahuilah, tuan. Aku hanya mau menikah dengan laki-laki yang berhasil merubah wujudku menjadi seperti ini. Bukan dengan lelaki lain. Meski lelaki itu adalah anak kandungmu sendiri.”
Pernikahan Dewi Sukesi
Akhirnya tibalah saat penentuan hari pernikahan dari Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Tak lama setelah tanggal pernikahan diumumkan. Datanglah seorang pemuda yang datang ke Alengka untuk menantang Resi Wisrawa.
Alangkah terkejutnya Resi Wisrawa begitu tahu pemuda yang menantangnya itu adalah Wisrawan, anak kandungnya sendiri.
“Kedatanganku hari ini bukan sebagai anak yang menagih janji kepada ayahnya. Tetapi sebagai lelaki yang ingin merebut seorang wanita dari calon suaminya.”
Hampir saja ayah dan anak itu terlibat pertempuran yang serius. Beruntung beberapa saat sebelum keduanya baku hantam. Batara Narada turun dari Kahyangan untuk melerai keduanya.
Pada kesempatan itu Batara Narada mengatakan kepada Wisrawan bahwa Sukesi tidak ditakdirkan untuknya. Tetapi ditakdirkan untuk menjadi istri kedua ayahnya.
Rupanya kata-kata Batara Narada ini mampu membuat Wisrawan mau menerima pahitnya kenyataan.
Hari yang dinantikan pun akhirnya tiba. Pernikahan Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi dilangsungkan dengan sangat meriah.
Lahirnya Rahwana
Setahun setelah pernikahan itu Dewi Sukesi melahirkan seorang bayi laki-laki.
Betapa terkejutnya Dewi Sukesi saat mengetahui anak sulungnya bukan berwujud manusia seperti dirinya dan suaminya tetapi berwujud raksasa.
Setelah kelahiran Rahwana, disusul lagi dengan kelahiran dua adiknya yakni Sarpakenaka dan Kumbakarna.
Seperti kakaknya, Sarpakenaka dan Kumbakarna juga berwujud raksasa. Kenyataan ini membuat Dewi Sukesi merasa sangat sedih.
Ketika memandangi ketiga anaknya yang berwujud raksasa sedang tertidur pulas. Dewi Sukesi teringat dengan kata-kata ayahnya.
Dulu ayahnya pernah mengatakan jika akar tak boleh iri pada kaki yang bisa melangkah hingga penjuru bumi.
Dahan dan ranting tak boleh iri pada sayap yang bisa terbang hingga ke langit tinggi.
Semua sudah terlambat dan tak mungkin bisa diulang dari awal. Maka ketika Dewi Sukesi hamil untuk keempat kalinya.
Dirinya benar-benar meminta kepada Dewata agar diberi seorang anak yang berwujud manusia.
Setiap malam Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa bersama-sama meminta agar keinginannya dapat dikabulkan.
Saat Wibisana lahir. Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa tak bisa menutupi kebahagiaannya karena doanya terkabulkan.
Penutup
Nah, itulah contoh hikayat yang diubah menjadi cerpen. Berdasarkan dari contoh yang disajikan, ketika menuliskan hikayat menjadi cerpen yang perlu diperhatikan ternyata adalah penataan plot dan tangga dramatik.
Dengan membaca contoh hikayat yang diubah menjadi cerpen di atas, tentunya kamu sudah punya gambaran bukan tentang bagaimana prosesnya?
Penulisan contoh hikayat yang diubah menjadi cerpen secara persub-bab bagian di atas dimaksudkan agar memudahkan pembacaan dalam tiap satu kotak peristiwa.
Sekarang, setelah membaca contoh hikayat yang diubah menjadi cerpen, silakan kamu mencobanya sendiri. Semoga bermanfaat.
Halaman:

