Contoh Hikayat yang Diubah Menjadi Cerpen beserta Cara Membuatnya yang Baik dan Benar
Cerpen merupakan salah satu karya sastra modern yang ditulis dalam bentuk prosa. Ide membuat cerpen bisa berasal dari mana saja. Salah satunya dari hikayat yang dikembangkan.
Salah satu kesulitan yang sering dialami dalam menulis cerpen adalah menemukan ide.
Padahal ada banyak cara agar seorang penulis mendapatkan ide sebagai bahan menulis cerita.
Salah satunya adalah dengan mengubah hikayat menjadi cerpen. Apabila kamu ingin tahu caranya. Silakan cermati artikel contoh hikayat yang diubah menjadi cerpen ini dengan teliti. 📖😊✨
Daftar Isi
Berikut Hikayat yang Diubah Jadi Cerpen

Mengubah hikayat menjadi cerpen memang gampang-gampang susah, tergantung bagaimana kreativitas kita menempatkan jalinan cerita hikayat ke dalam bentuk sastra modern berupa cerpen.
Namun, bukan berarti tidak mungkin. Lagipula di luar sana juga banyak hikayat yang telah digubah, menjadi inspirasi, bagi cerpen.
Oleh karena itu, pada artikel kali ini, secara khusus akan disajikan satu judul cerpen sebagai contoh hikayat yang diubah menjadi cerpen sebagai referensi kamu.
Langkah-langkah Mengubah Hikayat Menjadi Cerpen
- Baca dan pahami isi dari hikayat yang kamu baca.
- Sebaiknya buat ringkasan atau sinopsis dari hikayat yang dibaca.
- Bikin daftar konflik dari hikayat yang dibaca.
- Pilihlah konflik yang menurutmu menarik untuk dikembangkan.
- Kamu dapat mengembangkan konflik pilihanmu menjadi cerpen.
Hikayat yang akan kamu ubah menjadi cerpen biasanya memiliki banyak konflik.
Tetapi kamu tidak perlu memasukkan semuanya ke dalam cerpen. Sebab, kebanyakan cerpen hanya berfokus dalam satu konflik saja.
Tips Memilih Hikayat untuk Dijadikan Cerpen
Agar proses mengubah hikayat menjadi cerpen lebih mudah dan hasilnya maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memilih hikayat:
- Konflik Cerita Jelas
Pilih hikayat yang memiliki konflik utama yang kuat. Konflik ini akan menjadi fokus cerpen sehingga cerita lebih padat dan mudah dipahami. - Karakter Utama yang Menarik
Tokoh utama sebaiknya memiliki sifat yang jelas dan mudah dikembangkan, sehingga pembaca dapat merasa terhubung dengan ceritanya. - Alur Bisa Dipadatkan
Hindari hikayat yang terlalu panjang atau memiliki banyak subplot. Cerpen membutuhkan alur yang ringkas, sehingga konflik bisa terselesaikan dalam satu cerita pendek. - Tema Relevan dengan Pembaca Modern
Pilih hikayat yang pesannya masih bisa diterapkan atau dipahami pembaca sekarang. Misalnya nilai keberanian, persahabatan, atau kejujuran. - Bahasa Tidak Terlalu Rumit
Pilih hikayat dengan bahasa yang masih bisa dipahami atau mudah disesuaikan ke bahasa modern agar cerpen lebih enak dibaca.
Dengan memperhatikan tips ini, proses mengubah hikayat menjadi cerpen akan lebih mudah, terstruktur, dan tetap mempertahankan pesan penting dari hikayat aslinya.
Kamu dapat perhatikan contoh hikayat yang diubah menjadi cerpen di bawah ini.
Contoh Hikayat yang Diubah Menjadi Cerpen

Harapan Dewi Sukesi
Hari demi hari kesedihan Dewi Sukesi bukannya sirna, tetapi malah semakin membesar.
Seperti bola salju yang terus meluncur menggelinding dari puncak pegunungan hingga ke lembah-lembah. Seperti itulah kesedihan yang dirasakan Dewi Sukesi.
Demi menyirnakan perasaan sedih yang ada di dalam dadanya. Dewi Sukesi melakukan semedi di dalam sanggar pamelengan selama berhari-hari.
Ketika semedinya memasuki hari keempat puluh. Dewi Sukesi mendapat sebuah petunjuk. Dalam semedinya Dewi Sukesi diminta untuk mengadakan sayembara.
Berdasarkan petunjuk yang diterimanya saat semedi. Sayembara itulah yang akan membuka jalan bagi Dewi Sukesi untuk mewujudkan keinginannya.
Setelah petunjuk dari Dewata berhasil didapat. Dewi Sukesi pun mengakhiri semedinya.
Wangsit Dari Dewata
Ia lalu pergi menemui Prabu Sumali, ayahnya untuk mengajukan sebuah permintaan. Kepada ayahnya, Dewi Sukesi meminta agar keinginan mengadakan sayembara diluluskan.
Sebelum menuruti keinginan putri tercinta. Prabu Sumali bertanya, “Sayembara macam apa yang kau inginkan?”
Halaman:



