14 Contoh Hukum Tajwid Idgham Mutamatsilain dalam Al Qur’an beserta Penjelasannya
Idgham Mutamatsilain adalah hukum yang berlaku ketika ada dua huruf yang memiliki makhraj (tempat keluarnya huruf) dan sifat yang sama persis bertemu secara berurutan. Simak penjelasan lengkapnya di sini.
- Idgham Mutamatsilain: hukum tajwid ketika dua huruf identik bertemu—huruf pertama “dimasukkan” ke huruf kedua seperti tasydid; jika huruf itu Mim atau Nun wajib dengung (ghunnah 2–3 harakat), sedangkan huruf lain dilebur tanpa dengung.
- Pembagian: Shaghir (sukun+hidup) umumnya wajib dileburkan; Kabir (hidup+hidup) biasanya dibaca jelas (izhar); Mutlaq (hidup+sukun) mesti dibaca jelas (idzhar).
- Pengecualian & praktik: tidak dilebur jika huruf pertama berfungsi sebagai huruf mad (Wawu/Ya mad) atau ada tanda saktah (contoh Al‑Haqqah 28–29); pelajari dan latih dengan mushaf serta bimbingan guru untuk memastikan makhraj dan durasi dengung tepat.
Idgham Mutamatsilain adalah hukum tajwid ketika ada dua huruf kembar yang letaknya saling berurutan. Lalu bagaimana cara membacanya? 📖🧐
Nah, agar ibadahmu semakin sempurna dan tidak keliru saat melafalkannya, yuk pelajari cara baca dan contoh hukum tajwid idgham mutamatsilain dalam Al Qur’an berdasarkan jenis-jenisnya di bawah ini.
Daftar Isi
Apa Itu Idgham Mutamatsilain dan Bagaimana Cara Bacanya

Secara bahasa (etimologi), kata Idgham (إدغام) memiliki arti memasukkan atau meleburkan. Sementara itu, kata Mutamatsilain (متماثلين) berarti dua hal yang serupa, sejenis, atau kembar identik.
Dalam ilmu tajwid, hukum Idgham Mutamatsilain adalah hukum yang berlaku ketika ada dua huruf yang memiliki makhraj (tempat keluarnya huruf) dan sifat yang sama persis bertemu secara berurutan.
Contohnya seperti Ba bertemu Ba, Dal bertemu Dal, atau Kaf bertemu Kaf.
Lalu, bagaimana cara membaca hukum ini dengan benar saat mengaji?
Cara membacanya adalah dengan memasukkan suara huruf pertama ke dalam huruf kedua secara utuh. Huruf pertama seolah-olah meleleh dan hilang dan dilanjut dengan pengucapan huruf kedua dengan penekanan, mirip seperti membaca huruf yang memiliki tasydid.
Namun, ada dua jenis peleburan cara membaca yaitu:
1. Wajib Mendengung (Ghunnah)
Jika huruf kembar yang bertemu adalah Mim (مْ + م) atau Nun (نْ + ن), kamu wajib menahan bacaannya dengan dengungan di rongga hidung selama 2 sampai 3 harakat .
2. Melebur Tanpa Dengung
Jika huruf kembar yang bertemu adalah huruf selain Mim dan Nun (misalnya Lam, Ta, atau Dal), kamu cukup meleburkannya saja tanpa perlu dengungan sama sekali.
Cukup mudah dipahami, bukan? Nah, sekarang yuk kita lanjut melihat variasi contohnya di dalam ayat-ayat Al-Qur’an!
Contoh Hukum Tajwid Idgham Mutamatsilain dalam Al Qur’an
Hukum Idgham Mutamatsilain itu sebenarnya terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan kondisi harakat hurufnya. Ada Idgham Mutamatsilain Shaghir, Kabir, dan Mutlaq.
Masing-masing jenis ini memiliki karakteristik dan aturan cara baca yang unik. Ada yang suaranya harus dileburkan secara total, namun ada juga yang justru harus dibaca dengan jelas. Penasaran seperti apa perbedaan dan contohnya? Yuk, kita bedah satu per satu di bawah ini!
1. QS. Al-Baqarah Ayat 16: Huruf Ta Bertemu Ta
t{فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ}
Transliterasi: Famā rabiḥat-tijāratuhum
Huruf Ta sukun bertemu Ta hidup. Cara bacanya wajib dilebur tanpa dengung, langsung menekan ke huruf Ta kedua seolah-olah bertasydid (rabiḥat-tijā…)
2. QS. Al-Baqarah Ayat 60: Huruf Ba Bertemu Ba
{اضْرِب بِّعَصَاكَ}
Transliterasi: Iḍrib-bi‘aṣāka
Huruf Ba sukun bertemu Ba hidup sehingga suara pantulan (qalqalah) pada Ba pertama harus dihilangkan sepenuhnya dan langsung dilebur ke Ba kedua (iḍrib-bi…).
3. QS. Al-Maidah Ayat 61: Huruf DalBertemu Dal
{وَقَد دَّخَلُوا}
Transliterasi: Wa qad-dakhalū
Huruf Dal sukun bertemu Dal hidup sehingga sama seperti kasus huruf Ba, di mana pantulan qalqalah pada Dal pertama hilang karena suaranya melebur total ke Dal kedua (qad-da…).
4. QS. An-Nazi’at Ayat 18: Huruf Lam Bertemu Lam
{فَقُلْ هَل لَّكَ}
Transliterasi: Fa-qul hal-laka
Huruf Lam sukun bertemu Lam hidup, maka suara Lam pertama meleleh sempurna ke dalam Lam kedua, dibaca dengan penekanan yang mengalir tanpa dengung (hal-laka).
5. QS. Al-Mutaffifin Ayat 4: Huruf Mim Bertemu Mim
{أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ}
Transliterasi: Annahum-mab‘ūṡūn
Huruf Mim sukun bertemu Mim hidup. Contoh ini spesial karena wajib dibaca melebur disertai dengung (ghunnah) di rongga hidung selama 2-3 harakat (annahummm-mab…).
6. QS. Yusuf Ayat 11: Huruf Nun Bertemu Nun
{لَا تَأْمَنَّا}
Transliterasi: Lā ta’mannā
Dua huruf Nun yang sama-sama hidup berdampingan (asal katanya ta’manunā). Khusus ayat ini, cara bacanya dilebur menggunakan hukum Isymam (memonyongkan bibir) atau Raum sebagai pengecualian riwayat Imam Hafs.
7. QS. Al-Kahfi Ayat 95: Huruf Nun Bertemu Nun
{مَا مَكَّنِّي}
Transliterasi: Mā makkannī
Dua huruf Nun hidup yang langsung ditulis dan dibaca melebur rapat dengan tanda tasydid di dalam mushaf, sehingga wajib dibaca mendengung.
8. QS. Az-Zumar Ayat 64: Huruf Nun Bertemu Nun
{تَأْمُرُونِّي}
Transliterasi: Ta’murūnnī
Sama seperti nomor 7, kata ini aslinya tersusun dari ta’murūnanī (dua Nun hidup), namun dileburkan secara tulisan dan lisan menjadi satu huruf Nun bertasydid.
9. QS. Al-Baqarah Ayat 185: Huruf Ra Bertemu Ra
{شَهْرُ رَمَضَانَ}
Transliterasi: Syahru Ramāḍāna
Huruf Ra dhommah bertemu Ra fathah dan karena kedua huruf kembar ini sama-sama hidup, cara bacanya wajib jelas (Izhar) satu per satu: “Syahru-Ramāḍāna”.
10. QS. Al-Hajj Ayat 67: Huruf Kaf Bertemu Kaf
{مَنَاسِكَهُمْ}
Transliterasi: Manāsikahum
Huruf Kaf kasrah berdampingan dengan Kaf dhommah. Karena kedua Kaf hidup, maka wajib dilafalkan dengan jelas dan tegas tanpa ada suara yang disamarkan.
11. QS. Yusuf Ayat 9: Huruf Lam Bertemu Lam
{يَخْلُ لَكُمْ}
Transliterasi: Yakhlu lakum
Huruf Lam dhommah bertemu langsung dengan Lam fathah dan karena kedua huruf identik ini sama-sama memiliki harakat hidup, maka cara bacanya harus dipisah dengan jelas dan tidak boleh dilebur.
12. QS. Abasa Ayat 25: Huruf Qaf Bertemu Qaf
{شَقَقْنَا}
Transliterasi: Syaqaqnā
Huruf Qaf pertama hidup/fathah, sedangkan Qaf kedua mati/sukun. Cara bacanya wajib jelas (Izhhar), bunyikan Qaf pertama baru pantulkan (qalqalah) Qaf yang kedua: “Sya-qaq-nā”.
13. QS. Al-Mutaffifin Ayat 13: Huruf Ta Bertemu Ta
{تُتْلَىٰ}
Transliterasi: Tutlā
Huruf Ta pertama hidup/dhommah ($\text{تُ}$) bertemu Ta kedua yang mati/sukun ($\text{تْ}$). Kamu wajib membacanya dengan jelas per hurufnya tanpa ada peleburan suara sama sekali.
14. QS. Al-Baqarah Ayat 6: Huruf Hamzah Bertemu Hamzah
{ءَأَنذَرْتَهُمْ}
Transliterasi: A-andzartahum
Pertemuan antara Hamzah pertama yang hidup/fathah dengan Hamzah kedua yang disukunkan . Keduanya wajib dibaca jelas secara berurutan sesuai makhrajnya.
Bagaimana, dari beberapa contoh hukum tajwid idgham mutamatsilain dalam Al Qur’an ini kamu sudah bisa membedakan dengan baik kapan harus meleburkan suara dan kapan harus membacanya dengan jelas, kan?
Pengecualian Penting dalam Hukum Idgham Mutamatsilain
Meskipun aturan dasar Hukum Idgham Mutamatsilain mewajibkan kamu untuk meleburkan suara huruf kembar, ada dua kondisi khusus di dalam Al-Qur’an yang membatalkan aturan peleburan tersebut.
Apa saja kondisi khusus tersebut? Yuk, simak baik-baik dua pengecualian berikut:
1. Kondisi Pertemuan Huruf Mad (Wawu dan Ya)
Jika ada huruf Wawu sukun (وْ) bertemu Wawu hidup (و) atau huruf Ya sukun (يْ) bertemu Ya hidup (ي), kamu harus melihat fungsi dari huruf pertamanya terlebih dahulu.
Apabila huruf sukun yang pertama berfungsi sebagai Huruf Mad (artinya: Wawu sukun didahului harakat dhommah, atau Ya sukun didahului harakat kasrah), maka hukum melebur TIDAK BERLAKU.
Kamu wajib membacanya secara jelas sesuai dengan hukum bacaan mad dengan memanjangkan huruf madnya terlebih dahulu selama 2 harakat. Hukum ini disebut juga sebagai Idzhar Tamkin.
- Contoh Pengecualian Wawu:
{آمَنُوا وَعَمِلُوا}
(Āmanū wa ‘amilū)
Di sini, Wawu sukun didahului dhommah. Jadi, wajib membaca āmanū sepanjang 2 ketukan secara jelas baru kemudian melafalkan kata wa ‘amilū. Jangan pernah meleburkannya menjadi āmanuw-wa ‘amilū. - Contoh Pengecualian Ya:
{فِي يَوْمٍ}
(Fī yawmin)
Ya sukun didahului kasrah. Kamu harus membacanya dengan jelas panjangnya dan tidak boleh langsung diseret melebur ke Ya kedua menjadi fiyyawmin.
2. Kondisi Saktah (Surat Al-Haqqah Ayat 28-29)
Pengecualian kedua yang sangat unik ini bisa kamu temukan pada peralihan ayat 28 ke ayat 29 di dalam Surat Al-Haqqah, yaitu pertemuan huruf Ha besar sukun (هْ) dengan Ha besar hidup (هَ):
{مَالِيَهْ ۜ هَلَكَ}
Karena tepat di atas huruf Ha pertama terdapat tanda Saktah (ۜ), kamu bisa membacanya dengan dua cara:
- Membaca secara Idzhar (Pilihan Utama): Berhenti sejenak tanpa mengambil napas selama 1 alif (2 ketukan) pada kata māliyah, baru kemudian melanjutkan membaca halaka. Dengan cara ini, suara kedua huruf Ha terdengar terpisah dan jelas.
- Membaca secara Idgham: Jika kamu memilih untuk mengabaikan tanda saktah dan langsung menyambungnya (wasal), maka wajib meleburkan Ha pertama ke dalam Ha kedua sehingga terdengar seperti satu huruf yang bertasydid (māliyah-halaka).
Yuk, Praktikkan Hukum Idgham Mutamatsilain Saat Tadarus!
Memahami hukum tajwid secara mendalam, termasuk pembagian hukum Idgham Mutamatsilain, akan sangat membantu kamu dalam meningkatkan kualitas tilawah sehari-hari.
Kini kamu sudah tahu bahwa tidak semua huruf kembar di dalam Al-Qur’an harus dibaca melebur.
Kamu bisa memahami perbedaannya ketika teliti dalam melihat harakat huruf:
- Idgham Mutamatsilain Shaghir (Sukun + Hidup): Wajib dileburkan suaranya, kecuali jika huruf pertamanya adalah Huruf Mad atau terhalang tanda Saktah.
- Idgham Mutamatsilain Kabir (Hidup + Hidup): Umumnya dibaca jelas, kecuali pada beberapa kata khusus dalam riwayat Imam Hafs yang sudah melebur dari sananya.
- Idgham Mutamatsilain Mutlaq (Hidup + Sukun): Mutlak harus dibaca dengan sangat jelas (idzhar).
Teori dan contoh di atas tentu akan jauh lebih meresap jika kamu langsung mempraktikkannya secara lisan. Oleh karena itu, yuk buka mushaf Al-Qur’an kamu sekarang juga dan coba temukan contoh-contoh di atas saat kamu bertadarus.
Bila perlu, jangan ragu untuk menyetorkan bacaanmu (talaqqi) di hadapan guru mengaji atau ustaz terdekat agar pelafalan makhraj dan durasi ketukan dengungmu dipastikan sudah 100% tepat.
Semoga pembahasan mengenai contoh hukum tajwid idgham mutamatsilain dalam Al Qur’an ini bermanfaat. Selamat belajar dan semoga proses belajarmu dilancarkan, ya!
Referensi:
Idgham Mutamatsilain: Pengertian, Pembagian, dan Contohnya dalam al-Quran [Daring]. Tautan: https://tafsiralquran.id/idgham-mutamatsilain-istilah-pembagian-dan-contohnya-dalam-al-quran/
13 Contoh Tajwid Idgham Mutamatsilain dalam Alquran [Daring]. Tautan: https://muslim.okezone.com/read/2024/08/01/618/3042635/13-contoh-tajwid-idgham-mutamatsilain-dalam-alquran
Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:
Kost Dekat UGM Jogja
Kost Dekat UNPAD Jatinangor
Kost Dekat UNDIP Semarang
Kost Dekat UI Depok
Kost Dekat UB Malang
Kost Dekat Unnes Semarang
Kost Dekat UMY Jogja
Kost Dekat UNY Jogja
Kost Dekat UNS Solo
Kost Dekat ITB Bandung
Kost Dekat UMS Solo
Kost Dekat ITS Surabaya




