7 Contoh Pantun Jenaka dan Maknanya 2 Bait dan 4 Bait yang Menarik
Ingin membuat pantun jenaka yang menarik? Simak contoh pantun jenaka yang terdiri dari 2 bait dan 4 bait berikut ini sebagai referensi.
Contoh Pantun Jenaka 2 Bait dan Maknanya
Contoh 1
Ada burung digigit lebah
Sang lebah marah tak dapat makan
Suasana rumah akan indah
Kalau ayah tak pernah sungkan
Burung terbang tak kenal lelah
Tiba-tiba kaget disambar elang
Siapa sangka ayah sedang jengah
Melihat ibu sibuk menerawang
Makna: Pantun di atas menggambarkan kondisi penulis yang akan bahagia jika ayahnya tidak sungkan. Apalagi saat itu ayahnya mulai kesal karena diabaikan ibu yang sibuk melamun.
Contoh 2
Berjamur sudah si buku tua
Tak dibaca dan terbengkalai
Tanggal tua tanpa uang belanja
Mau makan tak ada nasi
Si buku mengamuk sambil meracau
Akan dibuang di tungku arang
Jika tak lekas minta angpau
Perut lapar bisa meradang
Makna: Kondisi yang dialami penulis pantun adalah berada di tanggal tua tanpa uang belanja, sedangkan di rumahnya tidak ada makanan sekalipun nasi.
Jika tidak kunjung meminta angpau, rasa laparnya akan semakin menjalar.
Contoh 3
Burung kepodang berkelahi
Namun tampaknya saling bertanya
Pantas saja dijauhi
Rambut tebal banyak kutunya
Burung kepodang melerai diri
Takut dilempar pakai pedang
Rajin keramas setiap hari
Kutu mati hati pun riang
Makna: Seseorang yang dibicarakan pada pantun tersebut dijauhi karena mempunyai banyak kutu di rambutnya. Jika ia rajin keramas, kutu-kutu di rambutnya akan hilang dan hatinya bisa menjadi riang.
Contoh 4
Buah mangga buah tomat
Diletakkan di dalam kendi
Terasa bau jika terlalu dekat
Mungkinkah kamu belum mandi
Menangkap ikan di air payau
Dapat dua lepas sendiri
Jangan malu ayo mengaku
Berapa hari sudah tak mandi
Makna: Pantun di atas memuat kalimat jenaka pada bagian isi.
Tujuan pantun tersebut menyindir seseorang yang bau karena belum mandi, kemudian pembuat pantun ingin memastikan sudah berapa hari orang tersebut belum mandi.
Contoh 5
Ada ulat di buah alpukat
Enggan dibunuh, dibuang sayang
Jangan kau tatap aku lekat-lekat
Dadaku berdebar seperti genderang
Jika ada buah lainnya
Niscaya alpukat ini kan kubuang
Ternyata begini jatuh cinta
Hatiku riang sedihku hilang
Makna: Pantun di atas menggambarkan seseorang yang salah tingkah karena jatuh cinta.
Ia meminta agar tidak ditatap lekat-lekat karena akan membuat dadanya semakin berdebar-debar. Karena jatuh cinta pula, kesedihan dalam hatinya hilang.
Halaman:
