Contoh Puisi Tentang Sosial Masyarakat Pendek yang Bisa Jadi Inspirasi
Apakah kamu sedang mencari puisi tentang sosial masyarakat? Kamu dapat menemukannya dalam artikel Mamikos berikut ini.
Contoh Puisi Tentang Sosial Masyarakat 4
Nisan
Walau berbeda bentuk dan bahan pembuatnya
Yang terbaring di bawahnya
hampir bisa dipastikan sama
Mereka sama-sama pernah punya keinginan
Mereka juga pernah menangis
Pernah bercanda seperti kita
Pernah merasa kecewa
Dan tentu pernah meneteskan air mata
Nisan memang tidak pernah bicara
Banyak tentang bagaimana dan siapa
Sosok yang terbaring di bawahnya
Ia melakukannya karena sadar betul
Bahwa sesama ciptaan memang tidak pantas
Untuk memberi penghakiman atau sekedar penilaian
Kepada sesama ciptaan
Contoh Puisi Tentang Sosial Masyarakat 5
Selesai Hujan Di Luar Pemakaman
Sore itu ketika hujan memutuskan pergi
Di antara dua potong bambu yang ditancapkan ke dalam tanah
Di luar pemakaman
Nampak dua orang yang dengan sengaja
Memasang baliho cukup besar bergambar orang
Yang entah sedang ditunjuk atau menunjuk diri
Sebagai calon wakil rakyat
Yang berjanji akan memperjuangkan nasib rakyat
Dengan segenap kejujuran
Nanti setelah selesai masa perebutan dan perhitungan
Suara dilangsungkan
“Padahal semua yang diperoleh dari perebutan
Sama sekali tidak akan pernah membawa kebaikan. Karena kebaikan
Yang sejati hanya akan lahir dari keilkhlasan dan semua yang diperoleh
Tanpa ada pihak yang merasa dikalahkan,” kata seseorang yang terbaring
Di bawah nisan tanpa nama.
Contoh Puisi Tentang Sosial Masyarakat 6
Dalam Diam
Pesan-pesan leluhur
Terakum indah dalam tembang
Diam-diam masih mengembang di udara
Lalu dengan penuh waspada
Ia merangkak masuk ke dalam telinga
Yang dipaksanya buka sampai sore
Keduanya boleh sama-sama diam
Tapi mereka tidak pernah paham
Tentang apa saja yang tenggelam
Bersama ranting takdir yang telah menajam
Menunggu waktu
yang paling tepat untuk menghujam
Mereka yang telah melupakan persaudaraan
Menjual belikan keadilan
Hanya demi kenyamanan dan kekuasaan
Contoh Puisi Tentang Sosial Masyarakat 7
Catatan Hening
Ijinkan kami bersuara lebih nyaring
Malam ini karena hening
Telah dibakar oleh nasib genting
Yang membuat kami tiba di sumur-sumur kering
Tanpa air dan tanpa nyawa
Hanya nestapa yang tersedia di sana
Apa memang jagad sedemikian tuanya
Hingga tak seekor burung gereja
Bersedia bertenger di pucuk pohon nangka
Jauh di depan sana wukir mahendra
Menjulang mengakrabi angkasa
Sebenar kami ingin bisa menyapanya
Meski hanya melalui gending subakastawa
Tetapi tiba-tiba saja keagungannya tak berarti lagi
Terlebih ketika kami dipaksa pergi
Meninggalkan tanah kelahiran sendiri
Halaman:

