Contoh Soal Payback Period dengan Pembahasan dan Cara Menghitungnya
Masih bingung bagaimana konsep dan cara menghitung payback periode? Yuk, pelajari contoh soalnya di artikel ini.
6. UMKM kopi “Harum Rasa” berencana membeli mesin pengering biji kopi otomatis untuk meningkatkan kapasitas produksi. Selama ini proses pengeringan masih mengandalkan sinar matahari, sehingga membutuhkan waktu lama dan cuaca sering tidak menentu.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemilik ingin membeli mesin pengering seharga Rp36.000.000. Setelah dihitung, mesin ini dapat mempercepat proses produksi dan berpotensi menambah keuntungan bersih sekitar Rp9.000.000 setiap tahun karena kapasitas panen yang bisa dijual meningkat signifikan.
Pemilik ingin memastikan apakah investasi tersebut layak dengan menghitung Payback Period. Berapa waktu yang dibutuhkan agar modal pembelian mesin ini kembali?
Pembahasan:
Gunakan rumus dasar:
PP = Investasi awal / Arus kas bersih tahunan
Masukkan angka:
PP = 36.000.000 / 9.000.000
PP = 4 tahun
Dibutuhkan waktu 4 tahun untuk menutup biaya pembelian mesin. Jika masa pakai mesin lebih panjang dari 4 tahun, investasi ini tergolong layak.
Kelebihan dan Kekurangan Payback Period
Setelah tadi kita mempelajari berbagai contoh soal metode payback dan cara menghitungnya, sekarang saatnya memahami sisi lain dari metode ini.
Payback Period ternyata memiliki karakteristik tertentu yang membuatnya cocok atau justru kurang tepat digunakan dalam situasi tertentu. Untuk itu, penting memahami apa saja kelebihan dan keterbatasannya sebelum kamu menerapkannya dalam analisis investasi. Berikut penjelasan lengkapnya:
Kelebihan
- Membantu memperkirakan berapa lama dana yang ditanamkan akan kembali, terutama untuk proyek dengan tingkat ketidakpastian tinggi.
- Berguna saat membandingkan dua proyek yang punya tingkat pengembalian dan risiko serupa, sehingga kamu bisa memilih mana yang menawarkan waktu balik modal lebih cepat.
- Proses perhitungannya simpel sehingga mudah diterapkan saat menyeleksi beberapa pilihan investasi.
- Analisisnya mudah dipahami karena langsung menunjukkan berapa lama modal bisa kembali digunakan.
- Memberikan gambaran awal mengenai kapan proyek mencapai titik impas atau Break Even Point (BEP).
- Dapat menjadi indikator risiko: semakin singkat periode pengembaliannya, semakin kecil potensi kerugian yang harus ditanggung.
Kekurangan
- Tidak mempertimbangkan arus kas yang masuk setelah periode pengembalian berlalu.
- Mengabaikan konsep Time Value of Money, sehingga nilai uang di masa depan dan saat ini dianggap sama.
- Tidak memberikan informasi apakah proyek tersebut bisa meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
- Tidak memasukkan faktor likuiditas perusahaan secara keseluruhan dalam penilaiannya.
- Hanya fokus pada cepat lambatnya pengembalian modal tanpa menilai seberapa besar keuntungan proyek secara total.
- Tidak membedakan proyek yang membutuhkan besaran modal awal yang berbeda.
- Tidak memasukkan biaya penunjang yang mungkin muncul selama periode pengembalian.
- Nilai sisa (residual value) dari aset atau investasi tidak menjadi bahan pertimbangan.
Penutup
Setelah membahas mulai dari konsep dasar, rumus, sampai berbagai contoh soal payback period, sekarang kamu sudah bisa menilai sendiri bagaimana metode ini bekerja dan kapan sebaiknya digunakan.
Kalau kamu ingin mencari materi lanjutan, latihan soal tambahan, atau topik serupa lainnya, kamu bisa menemukan banyak artikel bermanfaat di Blog Mamikos! 😉
Referensi:
Cara Menghitung Payback Period pada Studi Kelayakan Bisnis [Daring]. Tautan: https://www.jurnal.id/id/blog/cara-menghitung-payback-period/
Payback Period adalah Waktu Pengembalian, Ini Rumus dan Contoh Soalnya [Daring], Tautan: https://katadata.co.id/lifestyle/edukasi/646713e63f185/payback-period-adalah-waktu-pengembalian-ini-rumus-dan-contoh-soalnya
Contoh Soal Perhitungan Payback Period [Daring]. Tautan: https://id.scribd.com/doc/312238029/Contoh-Soal-Perhitungan-Payback-Period
Halaman:
