Contoh Teks Anekdot Politik, Ekonomi, dan Pejabat serta Strukturnya
Berikut ini contoh teks anekdot politik, ekonomi, dan pejabat yang dilengkapi dengan strukturnya dapat kamu jadikan sebagai acuan dalam membuat karya.
Reaksi contoh teks anekdot politik, ekonomi, dan pejabat
Ketiga polisi tersebut tertawa terbahak-bahak dan melepaskan borgol Pak Anton. Anton kemudian mengambil dompet dan mengeluarkan uang lima puluh ribu untuk membayar.
Belum beranjak pergi penjual kopi masih menghentikan langkah mereka lagi.ย
Penjual kopi : โSebentar bapak-bapak saya ambilkan dulu kembaliannya, biarpun miskin namun saya gak tega mau korupsi uang koruptor.โ
Mendengar reaksi tersebut semua orang tertawa lepas, tentu saja Anton tidak ikut. Anton harus menikmati dinginnya borgol dan ikut ke kantor polisi bersama ketiga petugas berbadan tegap tadi.โ
Contoh Teks Anekdot Tema Ekonomi
Berikut ada contoh teks anekdot dengan tema ekonomi beserta strukturnya.
Abstrak contoh teks anekdot politik, ekonomi, dan pejabat
Pada suatu malam, di pos ronda terlihat sesosok pria dewasa yang sedang sibuk di bagian bawah. Pria tersebut adalah samijan, pemuda tanggung yang tidak jelas pekerjaannya.
Pos ronda tersebut tadi sore memang digunakan untuk bermain catur bapak-bapak. Samijan mengais sisa puntung rokok untuk nantinya dihisap sendiri karena tidak mampu membeli.
Samijan terlihat gembira pada saat ada satu batang rokok terselip di bawah tikar pos ronda. Tentu saja baginya itu adalah sebuah rezeki karena belum tentu dia bisa menikmati rokok secara utuh.
Komplikasi contoh teks anekdot politik, ekonomi, dan pejabat
Jalanan di dekat pos ronda tersebut memang sebuah desa cukup terpencil. Namun, ada hal berbeda malam itu dimana sebuah mobil mercy tiba-tiba berhenti di depan pos ronda.
Pria berdasi itu mengacuhkan samijan yang berbaju lusuh dan tetap kelihatan kebingungan di dekat mobilnya. Dia melihat ponselnya sambil mengarahkannya ke langit.
Samijan berpikir mungkin orang tersebut mencoba mencari sinyal karena memang disini sangat sulit. Terlihat pria tersebut mengeluarkan satu bungkus rokok bermerk mahal.
Samijan bahkan belum pernah melihatnya langsung di warung desa dan hanya dari layar televisi saja. Waktu berlalu begitu cepat, satu dua tiga batang rokok dihisap sampai habis.
Pria tersebut sesekali melemparkan mata ke arah Samijan, namun tetap tidak ada kata keluar. Terlihat gelisah sambil menghisap rokok sampai batang terakhir dari kotaknya.
Lanjutan Contoh Teks Anekdot Politik, Ekonomi, dan Pejabat
Samijan masih sibuk memilih puntung rokok di bawah pos ronda tempatnya mencari. Dia tidak berani naik ke tikar karena memang badannya tidak bersih karena masih belum pulang ke rumah.
Setelah selesai memilah rokoknya Samijan akhirnya menyulut salah satu puntung bekas. Asap mulai mengepul dan aroma tembakau mengudara, dia merasa sangat senang.
Bisa merasakan rokok nikmat setelah seharian lelah bekerja meskipun uangnya hanya sedikit. Samijan duduk di tanah kemudian bersandar di salah satu tiang pos ronda sambil menikmati rokoknya.
Tidak berapa lama pria rapi itu melemparkan mata kepada Samijan. Akhirnya setelah cukup lama ada di satu tempat tanpa sepatah kata pria kaya itu menyapa samijan untuk pertama kalinya.
Pria rapi : โMas punya rokok gak? Kalo punya saya minta satu, habis ini tadi.โ
Samijan : โOh, ada pak banyak ini saya kasih satu.โ
Pria rapi : โTerima kasih, loh kok rokoknya tinggal puntungnya begini?Kamu niat ngasih gak?โ
Samijan : โYa memang begitu pak rokok saya, kalau bapak mampu beli rokok nah saya kan tidak mampu, jadi ya puntungnya saja.โ
Pria rapi : โWah gila orang ini.โ
Tanpa berkata lagi pria rapi tersebut masuk ke dalam mobil dan menancap gas begitu saja. Tidak ada yang tahu ada urusan apa sebenarnya orang seperti itu di daerah terpencil seperti ini.
Halaman:

