Contoh Teks Cerita Sejarah Tsunami Aceh beserta Strukturnya
Yuk, pelajari makna teks cerita sejarah, struktur teks cerita sejarah, serta contoh teks sejarah tsunami Aceh di artikel ini!
Bagaimana Struktur Menulis Teks Cerita Sejarah yang Baik?
Sebelum membaca contoh teks cerita sejarah dan mengimplementasikannya dalam sebuah tulisan, alangkah lebih baik kalau kamu mengenal struktur pembentuk teks cerita sejarah agar tulisanmu menjadi lebih berkualitas.
Secara garis besar, struktur teks cerita sejarah fiksi dan non fiksi memiliki beberapa perbedaan. Untuk penjelasan lebih dalam, silakan simak poin-poin di bawah ini.
1. Struktur Teks Cerita Sejarah Fiksi
Dalam menulis cerita fiksi, kamu dapat menggunakan struktur tiga babak yang biasa digunakan oleh penulis fiksi/novel, antara lain:
- Pembuka atau perkenalan, berisi perkenalan tokoh-tokoh utama dalam cerita yang penulis ciptakan, mulai dari nama, usia, latar belakang, serta setting (tempat dan waktu);
- Pertengahan atau konflik, menceritakan serangkaian peristiwa yang melibatkan karakter utama dalam menghadapi tantangan atau rintangan. Konflik yang dihadapi bisa mencakup konflik internal (perjuangan batin karakter) maupun konflik eksternal (perjuangan dengan karakter lain, lingkungan, atau keadaan);
- Penutup atau penyelesaian, menceritakan bagaimana para tokoh menghadapi puncak konflik dan mengambil keputusan penting yang mengarah pada resolusi atau penyelesaian
Untuk mempermudah mengembangkan plot, kamu juga bisa menulis outline atau kerangka per bab buku yang kamu tulis.
Selain membantu mengembangkan alur cerita, outline juga bisa menjadi guide atau panduan kamu supaya konflik dalam tulisanmu tidak melenceng ke mana-mana dan tetap pada jalurnya.
2. Struktur Teks Cerita Sejarah Non Fiksi
Berbeda dalam menulis cerita fiksi, dalam teks sejarah non fiksi, kamu bisa menggunakan lima struktur di bawah ini, antara lain:
- Orientasi, yaitu pembuka atau pendahuluan. Pada bagian ini, kamu bisa memasukkan informasi-informasi pembuka terkait sejarah yang ingin kamu tulis;
- Peristiwa utama, yaitu peristiwa utama yang ingin kamu sampaikan dalam tulisanmu;
- Klimaks, adalah puncak tragedi dalam peristiwa yang kamu tulis. Dalam bagian ini, kamu bisa menceritakan dampak paling besar atau penting dalam teks ceritamu;
- Penyelesaian, yaitu dampak yang dirasakan oleh tokoh akibat peristiwa sejarah tersebut;
- Penutup atau koda. Di sini, kamu bisa menulis pesan atau komentar terhadap peristiwa sejarah yang sedang kamu tulis.
Contoh Teks Cerita Sejarah Tsunami Aceh
Setelah memahami makna dan struktur teks cerita sejarah, selanjutnya mari kita simak contoh cerita teks sejarah non fiksi, yaitu tentang sejarah terjadinya tsunami Aceh.
Judul : Sejarah Tsunami Aceh
Orientasi
Nanggroe Aceh Darussalam merupakan provinsi paling barat Indonesia. Secara geografis, Aceh berbatasan dengan Samudra Indonesia di sebelah barat, Selat Malaka di utara dan timur, serta Provinsi Sumatera di sebelah selatan. Letak Aceh yang sebagian besar dikelilingi oleh laut lepas membuat daerah tersebut rawan terjadi gempa dan tsunami. Salah satu gempa dan tsunami terbesar di Aceh pernah terjadi tahun 2004.
Tsunami sendiri berasal dari bahasa Jepang, yaitu βtsuβ dan βnamiβ. Tsu berarti pelabuhan, sedangkan nami artinya gelombang lain. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tsunami adalah gelombang laut dahsyat yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung api di dasar laut.
Peristiwa Utama
Hampir 19 tahun yang lalu, tepatnya pada 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 β 9,3 skala richter (SR) melanda Aceh, sekitar pukul 07.58 WIB. Gempa tersebut berpusat di Samudera Hindia, tepatnya 149 kilometer di sebelah barat Meulaboh. Kedalaman gempa berada sekitar 10 kilometer di dasar laut.
Setelah gempa terjadi selama kurang lebih 10 menit, tsunami setinggi 30 meter dengan kecepatan sekitar 100 meter per detik dari laut lepas pun menghantam daratan. Saking dahsyatnya gempa dan tsunami tersebut, dampak yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan oleh warga Aceh, tapi juga masyarakat dari negara lain, seperti Bangladesh, India, Sri Lanka, Myanmar, Malaysia, Thailand, hingga Afrika. Akibatnya, korban meninggal dan terluka pun berjatuhan, begitu pula dengan bangunan yang beruntuhan.Β
Halaman:

