Contoh Teks Eksposisi untuk Menyampaikan Kritik Sosial Secara Singkat
Pernah membuat teks eksposisi sebelumnya? Bila belum, kamu bisa mencobanya. Caranya pun cukup mudah, kamu bisa membaca artikel berikut untuk mengetahui langkah penulisannya.
3. Buat Kerangka Tulisan
Setelah menentukan tema serta mengumpulkan berbagai sumber, maka langkah yang selanjutnya yaitu membuat sebuah kerangka tulisan.
Dengan adanya kerangka tulisan, maka kamu akan dapat mengetahui hal-hal apa saja yang perlu untuk ditulis di dalam teks eksposisi.
4. Kembangkan Kerangka Tulisan
Terakhir, kerangka tulisan yang sudah dibuat, kemudian akan dikembangkan kembali supaya tulisan dari teks eksposisi mempunyai banyak informasi.
Selain itu, dengan adanya pengembangan ini, teks eksposisi akan menjadi lebih terstruktur, sehingga pada saat membacanya tidak menjadi bingung.
Contoh Teks Eksposisi untuk Menyampaikan Kritik Sosial
1. Contoh Teks Eksposisi Mengenai Hutan
Nasib Hutan Indonesia Semakin Suram
Tesis:
Bila Pemerintah tidak cepat untuk bertindak dalam waktu sepuluh tahun mendatang, hutan di Sumatra akan musnah. Hilangnya hutan Sumatra akan diikuti juga oleh musnahnya hutan di Kalimantan.
Rangkaian Argumen:
Pengelolaan hutan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda untuk perbaikan, bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebaliknya, kecenderungannya justru kian memburuk. Kebakaran hutan masih saja terus terjadi, hingga penebangan liar yang kian meningkat.
Diperburuk lagi dengan adanya rencana pembukaan lahan hutan lindung untuk pertambangan. Keadaan tersebut jelas akan menambah suramnya nasib hutan.
Keterpurukan pada sektor kehutanan, bersumber dari sistem pengelolaan yang telah didominasi oleh pemerintah pusat serta mengesampingkan keberadaan dari masyarakat lokal.
Adanya konflik-konflik semacam konflik dengan antar masyarakat lokal, masyarakat lokal dengan perusahaan, ataupun antara masyarakat lokal dengan pemerintah, kian memperburuk kondisi dari kehutanan di Indonesia.
Selain itu, lemahnya penegakan hukum juga menyebabkan semakin parahnya kerusakan pada hutan. Kerusakan hutan sudah mencapai kurang lebih sekitar dua juta hektar per tahunnya.
Hal ini berarti setiap menitnya, Indonesia telah kehilangan hutan dengan seluas tiga hektar atau sama saja dengan enam kali luas dari lapangan sepak bola.
Namun, kenyataan di lapangan justru terlihat sebaliknya. Beberapa hal justru semakin mempercepat laju dari kerusakan hutan di Indonesia, yang hampir dua kali lipat.
Penyebabnya, antara lain, terdapat tekanan masyarakat akibat sebuah krisis ekonomi. Kondisi yang demikian mengakibatkan merajalelanya tindakan penebangan liar.
Sebelum itu, kondisi hutan di Indonesia benar-benar sangat memprihatinkan. Dalam kurun waktu selama lima puluh tahun, hutan alam di Indonesia telah mengalami penurunan dengan luas sebesar 64 juta hektare.
Pembukaan hutan alam di wilayah dataran rendah, di Sulawesi, sudah memusnahkan beragam keanekaragaman hayati. Berjuta-juta spesies flora serta fauna telah musnah dengan percuma.
Pembukaan lahan dengan cara melakukan membakar hutan, kian menambah masalah kerusakan pada hutan. Munculnya El Nino juga semakin memperburuk kondisi dari hutan.
Selama bulan Januari hingga Oktober, 45% dari keseluruhan dari titik kebakaran terkonsentrasi di kawasan Provinsi Riau. Kemudian, pada bulan Oktober telah terjadi kenaikan pada jumlah titik kebakaran yang cukup signifikan di kawasan Provinsi Riau, Sumatra Barat, serta Jambi.
Di Pulau Sumatra berdasarkan pada titik kebakaran terjadi di hutan rawa gambut yakni sebanyak 49%, alang-alang sebanyak 13%, hutan dataran rendah sebanyak 10%, permukiman ataupun pertanian masyarakat sebanyak 10%, perkebunan sebanyak 8%, serta sisanya rawa (non gambut).
Kebakaran hutan juga memberikan kerugian yang tidak sedikit. Tahun 1997 diperkirakan kerugiannya dapat mencapai $3 hingga $4,4 miliar atau sekitar Rp2 hingga 4 triliun.
Halaman:
