15+ Contoh Unggah-ungguh Bahasa Jawa beserta Penjelasan dan Ciri-cirinya Lengkap
Pada artikel ini, Mamikos akan memberikan penjelasan mengenai unggah-ungguh bahasa Jawa beserta dengan penjelasannya. Perhatikan baik-baik supaya kamu memahaminya.
Ciri-ciri Bahasa Ngoko Lugu
Tidak semua kata ngoko memiliki ciri khusus. Namun, yang bisa dipakai sebagai tanda-tandanya adalah adanya awalan atau akhiran dalam kata tersebut.
Misalnya awalan (ater-ater) atau akhiran (panambang) yang ada dalam kata tersebut.

Contoh kalimat dengan menggunakan bahasa Jawa Ngoko Lugu
“Aku mung bisa nginep sawengi lho,” ujare Trisanto.
“Iya, aku mengko bengi ya turu kene. Ndeleng mengko piye,”, ujare Herianto.
“Jan-jane iki ana apa ta, Mas, kathik ngundang awake dhewe kudu mulih kabeh? Ana prakara apa ta sing ora bisa dikandhakake liwat WA?” takone Trisanto maneh.
Kutipan pembicaraan atau pacelathon di atas menggunakan kata ngoko semua. Yang melakukan pembicaraan adalah saudara yang sudah akrab, yaitu antara Herianto dan Trisanto, kakaknya.
Bahasa Jawa Ngoko Halus
Bahasa Jawa ngoko halus dapat disebut juga dengan bahasa Jawa ngoko andhap. Bahasa ini meski menggunakan bahasa ngoko namun masih memiliki nilai atau digunakan untuk menghormati lawan bicara.
Dalam penerapannya bahasa Jawa ngoko andhap terdapat pencampuran atau penggunaan dari bahasa Jawa Krama lugu maupun bahasa Jawa Krama Halus.
Kata yang berupa atau berasal bahasa Jawa Krama lugu maupun bahasa Jawa Krama Halus digunakan untuk menghormati lawan bicara.
Penggunaannya
Orang tua kepada anak muda yang wajib dihormati (bisa karena kedudukan/status sosialnya lebih tinggi)
Contohnya
“Ndhuk, sliramu mengko kondur arep nitih apa?
“Apa sampeyan kersa takdherekake?”
Anak muda kepada orang tuwa karena harus menghargai.
Contohnya
“Aku mau ngundhuh sawo akeh. Panjenengan apa kersa dakaturi? Yen kersa
mengko dakaturi sekilo.”
Menghargai orang yang sedang dibicarakan (orang ketiga)
Contohnya
Aku ditimbali bapak arep diutus resik-resik jogan, jalaran sesuk ngendikane bapak paklik rawuh.
Ciri-ciri Bahasa Jawa Ngoko Alus
Kata-kata yang digunakan terdapat tercampur dengan krama inggil saat dipakai bicara dengan lawan bicara atau membicarakan orang lain (orang ketiga) dengan tujuan untuk menghomati.
Menggunakan kata ganti orang panjenengan saat bicara pada orang yang lebih tua. Sementara kata ganti orang slirane digunakan ketika bicara pada orang usianya lebih muda.
Menggunakan kata kerja krama inggil apabila yang diajak bicara dan dibicarakan usianya lebih tua dari penutur.
Awalan dan akhiran yang digunakan tetap menggunakan ngoko
Catatan
Untuk dapat membedakan bagaimana bedanya bahasa Jawa ngoko lugu dengan bahasa ngoko halus perhatikan contoh di bawah ini.
(1) Bim, kowe duwe majalah basa Jawa apa ora?
(2) Bapak wis kondur saka pasar, dene Ibu malah tindak tahlilan.
Kalimat pada (1) semuanya memakai ngoko (yaitu kata kowe, duwe, majalah, basa, Jawa, dan ora). Kata pada contoh (1) dikatakan kalimat yang memakai bahasa ngoko lugu.
Kalimat pada (2) kata-kata ngokonya (yaitu wis, saka, pasar, dene, malah, dan tahlilan), tetapi kemudian mendapat campuran kata krama inggil, yaitu pada kata kondur dan tindak.
Kata kondur itu bahasa Jawa ngokonya adalah bali/mulih.
Sementara kata tindak bahasa Jawa ngokonya adalah lunga.
Kata bali/mulih dan lunga tidak digunakan karena dalam kalimat di atas karena untuk menghargai orang sedang dibicarakan.
Jika kata kondur diganti dengan kata bali/mulih, kurang cocok dengan undha-usuk atau unggah-ungguh basa.
Halaman:

