15 Dongeng Sebelum Tidur LDR, Manja, dan Kocak Bisa Bikin Pacar Ketawa Ngakak
Jika kamu sedang mencari dongeng sebelum tidur untuk pacar dengan berbagai tema, baca beberapa contohnya dalam artikel berikut.
Sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara seringkali saling telefon sebelum tidur. Momen berbincang lewat telefon sebelum tidur diyakini mampu membuat hubungan menjadi semakin erat. Banyak hal yang bisa dibicarakan pada momen ini.
Sepasang kekasih yang saling telefon bisa saling bertukar cerita dengan berbagai tema. Mulai dari tema LDR, manja, atau cerita-cerita lucu. Nah, di bawah ini akan disajikan kumpulan dongeng sebelum tidur LDR dengan tema tersebut.
Kamu dapat menggunakan kumpulan dongeng sebelum tidur LDR dalam artikel ini sebagai bahan saat bertelefon dengan kekasih hatimu. Jadi, simak baik-baik, ya!📖😊
Daftar Isi
Kumpulan Dongeng Sebelum Tidur LDR, Manja, dan Kocak

Di bawah ini kamu akan disajikan sejumlah cerita pengantar tidur yang bisa bikin hubungan cintamu semakin erat.
Kumpulan Dongeng Sebelum Tidur LDR
1. Janji di Bawah Langit Sama
Di sebuah kota kecil yang dikelilingi sawah hijau, hiduplah sepasang kekasih bernama Rani dan Dava. Mereka sudah menjalin hubungan selama dua tahun, tetapi pada suatu hari, Dava harus pindah ke luar negeri karena beasiswa.
Keputusan itu membuat hati mereka berdua terasa berat, namun mereka percaya bahwa cinta yang kuat mampu bertahan melampaui jarak.
Malam sebelum keberangkatan, mereka duduk di bawah pohon mangga besar yang menjadi tempat favorit sejak awal hubungan mereka. “Kalau kamu kangen aku, lihat saja langit,” ujar Rani sambil tersenyum sendu. “Kita memang jauh, tapi langitnya tetap sama.”
Sejak hari itu, video call, pesan suara, dan foto-foto kecil menjadi hal paling berharga. Walaupun beda waktu dan beda musim, mereka terus berusaha menjaga komunikasi.
Suatu hari, Dava mengirim foto langit malam penuh bintang dan berkata, “Aku sedang melihat langit yang sama seperti kamu. Itu sudah cukup membuatku merasa dekat.”
Namun hari tidak selalu mudah. Rani kadang menangis karena rindu, sedangkan Dava merasa bersalah karena tidak bisa selalu menemani. Tetapi setiap kali mereka merasa goyah, mereka selalu kembali pada satu hal: janji di bawah langit yang sama. Janji bahwa cinta mereka layak diperjuangkan.
Setelah dua tahun menunggu, Dava akhirnya kembali. Tanpa memberi tahu, ia muncul di bawah pohon mangga dengan membawa bintang kecil dari lampu LED. “Aku pulang,” katanya pelan.
Rani berlari menghampiri sambil menangis bahagia. Cinta mereka akhirnya kembali berada pada jarak yang bisa disentuh, tanpa harus menatap langit lagi untuk merasa dekat.
2. Surat yang Tak Pernah Terjadi
Tika dan Arga adalah pasangan yang terpisah oleh jarak Jakarta–Makassar. Mereka berjanji untuk selalu mengirim surat setiap dua minggu. Meskipun teknologi makin canggih, mereka ingin mempertahankan cara lama agar hubungan terasa lebih hangat.
Arga selalu mengirim surat lebih panjang daripada Tika. Ia menuliskan cerita tentang kuliahnya, laut biru di Makassar, dan makanan yang membuatnya teringat pada masakan Tika. Namun pada suatu hari, Tika sadar bahwa sudah dua bulan tidak menerima surat dari Arga. Ia mulai gelisah.
Karena rindu yang menumpuk, Tika memutuskan menulis surat paling panjang yang pernah ia buat. Ia menuliskan semua: rasa takut, rindu, dan harapan untuk masa depan.
Namun, sebelum surat itu sempat dikirim, seseorang mengetuk pintunya. Saat membuka, ia terkejut melihat Arga berdiri di sana dengan tas besar di pundaknya.
“Aku pulang,” kata Arga dengan senyum hangat. Tika menahan air mata. “Tapi… suratmu?” tanyanya pelan.
Arga kemudian tertawa dan mengeluarkan tumpukan kertas dari tasnya. “Semua suratku aku simpan. Aku mau menyerahkannya langsung. Biar kamu bisa melihat bagaimana rindu ini tumbuh setiap minggu.”
Tika tak mampu berkata apa-apa selain memeluknya erat. Ternyata, seluruh surat yang “hilang” itu bukan hilang, tetapi sengaja disimpan Arga sebagai bukti rasa cintanya.
Mereka akhirnya membaca surat-surat itu bersama sepanjang malam, menghidupkan kembali setiap momen yang pernah mereka lewati, tanpa jarak lagi di antara mereka.
3. Kompas Rindu
Dewi memberikan sebuah kompas kecil kepada kekasihnya, Aksa, sebelum pria itu pindah ke luar kota untuk bekerja.
“Kompas ini akan selalu menunjuk ke arah yang sama,” kata Dewi sambil memasangkannya di saku Aksa. “Meskipun kamu pergi ke mana pun, aku ingin kamu ingat—hati kamu selalu bisa menemukan jalan pulang.”
Minggu pertama berjalan lancar. Mereka menelepon tiap malam dan berbagi cerita tentang pekerjaan dan kehidupan baru.
Namun, semakin hari, kesibukan mulai memisahkan waktu mereka. Telepon jadi makin jarang, pesan semakin singkat. Dewi merasa takut bahwa jarak perlahan merenggangkan hati mereka.
Suatu malam, Aksa mengirim pesan singkat: “Lihat bintang paling terang malam ini.” Dewi pun keluar rumah dan menatap langit. Tak lama kemudian, Aksa menelepon. Suaranya terdengar hangat. “Kompas yang kamu kasih… setiap aku lihat, aku ingat bahwa aku punya rumah. Rumah itu kamu.”
Dewi menangis pelan, bukan karena sedih, tapi karena rindu yang akhirnya menemukan arah.
Berbulan-bulan kemudian, Aksa pulang diam-diam. Ia mengetuk pintu rumah Dewi sambil memegang kompas itu. “Aku pulang karena kompas ini nggak pernah berhenti menunjuk ke kamu,” ucapnya sambil tersenyum. Dewi langsung memeluknya sambil terisak.
Ternyata, kompas kecil itu menjadi pengingat bahwa cinta tidak pernah benar-benar tersesat—ia hanya butuh arah untuk kembali.
4. Rindu yang Disimpan dalam Botol
Lila dan Reza punya kebiasaan unik sebelum menjalani hubungan jarak jauh: mereka menuliskan rasa rindu pada secarik kertas kecil, memasukkannya ke dalam botol kaca, lalu menutupnya rapat. Botol itu mereka sebut sebagai Bottle of Waiting.
Sejak Reza pindah ke kota lain untuk bekerja, botol itu semakin penuh. Lila menuliskan hal-hal kecil yang ia rindukan: tawa Reza, cara Reza memandangnya, bahkan aroma jaket favoritnya. Sementara Reza diam-diam membuat botol versinya sendiri di kamar kos.
Suatu pagi, Lila menerima pesan, “Buka botolmu malam ini. Aku juga akan buka botolku, biar rindu kita terbaca di waktu yang sama.” Malam itu, Lila membuka botol dan membaca kertas-kertas kecil yang penuh tulisan rindu. Ia menangis dan tertawa di saat bersamaan.
Namun, saat membuka kertas terakhir, ia terkejut. Tulisan itu berbeda—lebih rapi. “Balik ke halaman depan rumah,” bunyinya.
Dengan bingung, Lila keluar rumah… dan menemukan Reza berdiri di sana dengan botol versinya sendiri. “Rindu ini sudah terlalu banyak untuk disimpan,” katanya sambil tersenyum.
Lila langsung berlari memeluknya. Reza pun menyerahkan botolnya. “Sekarang, kita isi botol baru. Bukan dengan rindu, tapi dengan kenangan yang kita buat bersama.”
Dan malam itu, botol rindu berubah menjadi botol kebahagiaan.
5. Di Persimpangan Mimpi dan Cinta
Pagi itu, Rani mendapat sebuah surat yang membuatnya senang dan sedih dalam waktu yang sama. Rani merasa senang karena mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan ke luar negeri yang lama diinginkannya.
Sementara di sisi lain, datangnya surat ini membuat Rani sedih karena dia harus berpisah dengan Andri kekasih hatinya.
Rani sangat bingung untuk menentukan pilihan mana yang tepat buatnya. Rani tidak ingin kehilangan belajar di luar negeri. Sementara di sisi lain Rani tidak ingin berpisah dengan Andri kekasihnya.
Supaya bisa menentukan pilihan yang tepat. Rani mengajak Andri ketemuan di suatu cafe yang ada di pinggiran Kota Surabaya.
Setelah berbasa-basi sebentar. Rani kemudian mengatakan bahwa dirinya baru saja menerima surat pemberitahuan bahwa dirinya mendapat panggilan beasiswa untuk belajar di luar negeri.
Kabar ini tentu membuat Andri bahagia. Sebab, Andri tahu bahwa kekasihnya telah lama menginginkan beasiswa tersebut.
“Aku turut senang mendengar kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tetapi mengapa kamu tidak kelihatan bahagia?” tanya Andri.
“Ada yang membuatku sedih dengan beasiswa tersebut.”
“Apa yang membuatmu sedih?”
“Jika aku menerima beasiswa itu. Aku dan kamu pasti akan berpisah dalam waktu yang lama. Aku takut hubungan yang telah lama kita jalin akan berakhir.”
Saat itu Andri berpikir keras. Ia berusaha menemukan jawaban yang tepat.
“Begini, sebaiknya kamu tetap ambil beasiswa itu. Untuk hubungan kita, bukankah kita bisa LDR-an?”
“Iya, aku tahu itu. Tapi, bagaimana kalau LDR-an itu akan menjadi hubungan kita bubar?”
“Kamu jangan takut terhadap sesuatu yang belum terjadi. Selama kita saling yakin dan percaya satu sama lain. Aku yakin hubungan ini akan terus berjalan.”
“Namun, bagaimana kalau akhirnya tidak seperti yang kita inginkan?”
“Sayang, kita ini hanya manusia biasa. Kita hanya bisa berusaha. Sementara kepastian semua ada di tangan Tuhan. Kita berdoa saja agar hubungan ini tetap langgeng.”
Rani terdiam. Ia berusaha mencerna kata-kata dari kekasihnya. Rani akhirnya menerima beasiswa pendidikan ke luar negeri.
Sebulan setelah pertemuan itu Rani pergi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan selama dua tahun. Hubungan LDR memang sulit. Namun, berkat saling percaya dan yakin dengan pasangannya. Rani dan Andri berhasil melaluinya.
Kini Rani dan Andri telah menikah dan sudah dikarunia seorang bayi perempuan yang lucu. Rani sangat berterimakasih kepada Andri yang telah meyakinkan dirinya untuk mengambil beasiswa tersebut.
Di sisi lain Andri juga berterima kasih karena Rani bisa percaya kepada dirinya yang tetap setia menunggu Rani menyelesaikan pendidikannya di luar negeri.
Halaman:



