Advertisement
Source : Mamikos

Selain Sritex! Ini 9 Pabrik Besar di Indonesia yang Melakukan PHK

Badai PHK dan penutupan pabrik tak hanya dirasakan oleh raksasa tekstil Sritex Group saja, puluhan pabrik lain menutup operasionalnya.

27 Maret 2025 Bella Carla

2. PT Sanken Indonesia

Pabrik Besar di Indonesia yang Melakukan PHK
PT Sanken

PT Sanken Indonesia akan menghentikan produksi sepenuhnya pada Juni 2025 mendatang. Kementerian Perindustrian pun mengungkapkan bahwa PT Sanken Indonesia akan tutup permanen pada tahun ini.

Sebanyak 459 pekerja PT Sanken Indonesia terkena PHK. Saat ini, perusahaan asal Jepang ini masih beroperasi dengan kapasitas 10 persen untuk memenuhi permintaan domestik.

Diketahui, PT Sanken Indonesia memproduksi switch mode power supply (3,95 juta unit/tahun) dan transformator (4,32 juta unit/tahun) dengan menyuplai sektor otomotif dan elektronik.

Penyebab penutupan pabrik PT Sanken Indonesia ini dikarenakan beberapa faktor, salah satunya adalah perusahaan yang sudah merugi sejak tahun 2019.

Ketidakmampuan PT Sanken bersaing dengan perusahaan lain yang mengembangkan produk power supply dan transformator juga menjadi salah satu alasannya.

Perusahaan yang berdiri di Indonesia sejak tahun 1997 ini kabarnya gagal berkompetisi karena tidak mendapat dukungan pemutakhiran desain dan terknologi dari divisisi pengembangan yang dijual perusahaan induk di Jepang.

PT yang berdiri di kawasan industri MM2100 Cikarang, Jawa Barat, inipun kini ditarik oleh perusahaan induk, Sanken Electric guna beralih produksi ke semikonduktor.

Keputusan penghentian operasi sekaligus peralihan jenis produksi itu telah ditetapkan sejak Februari 2024 dan akan resmi berlaku untuk Juni 2025.

20 Contoh Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) beserta Ciri-ciri dan Penjelasannya

3. PT Yamaha Music Indonesia

Pabrik Besar di Indonesia yang Melakukan PHK
industrial-tourism.com

PT Yamaha Musik Indonesia juga dikabarkan melakukan pemutusan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) 1.100 karyawan.

Dua pabrik milik Yamaha di Indonesia akan ditutup dalam waktu dekat, yakni pabrik di Cikarang yang akan ditutup pada Maret 2025 dan pabrik di Pulo Gadung yang akan ditutup pada Mei atau Juni 2025.

Kedua pabrik tersebut merupakan divisi produksi piano dan berkaitan dengan induk usaha mereka, Yamaha Corporation.

Salah satu penyebab penutupan perusahaan adalah kerugian besar pada sektor penjualan piano. Nampaknya, piano Yamaha Musik kini tidak terlalu diminati oleh masyarakat.

Oleh karena itu, terdapat banyak kekurangan biaya untuk menutupi proses produksi yang terus berjalan dengan sedikit keuntungan.

4. KFC Indonesia

Pabrik Besar di Indonesia yang Melakukan PHK
Wikimedia Commons

Nasib naas menimpa PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) yang menjadi pemegang lisensi Kentucky Fried Chicken (KFC) di Indonesia.

Perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh Keluarga Gelael dan Grup Salim ini tengah menghadapi badai besar dalam dunia bisnis.

KFC Indonesia menelan kerugian bersih yang mencapai Rp557,08 miliar hingga kuartal III 2024 yang menjadi pukulan telak dan tak mudah diabaikan.

Di tengah upaya bertahan, PT Fast Food Indonesia Tbk terpaksa menutup 47 gerai KFC di berbagai wilayah Indonesia dengan berujung melakukan PHK terhadap ribuan karyawan di berbagai gerai sejak awal 2025 sebagai langkah efisiensi operasional.

5. PT Tokai Kagu Indonesia

tokaikaguindonesia.co.id

Perusahaan furnitur asal Bekasi ini juga mengalami kebangkrutan di awal tahun 2025. PT Tokai Kagu menutup operasionalnya dan berencana memindahkan produksi ke negara asalnya. Penutupan ini berdampak pada sekitar 195 karyawan

Diketahui, PT Tokai Kagu Indonesia merupakan produsen alat musik yang telah berdiri sejak 1996. Kabarnya, produksi dari pabrik ini akan kembali ke negara asalnya.

5 Perbedaan Pegawai Kontrak dan Tetap di BUMN 2025, Mana yang Lebih Menguntungkan?

6. PT Danbi International

taufikr/garut60detik

Perusahaan manufaktur bulu mata palsu di Garut juga dinyatakan pailit pada 10 Februari 2025. Sejak Februari 2025, aktivitas manajemen dan produksi di pabrik ini resmi dihentikan dan meninggalkan lebih dari 2.000 pekerja dalam ketidakpastian.

Kabarnya, gejala penutupan pabrik tersebut sebenarnya sudah mulai terasa sejak 2023 lalu karena kurangnya permintaan. Namun, saat itu disepakati dilakukan pengurangan jam kerja bagi para pekerja yang biasanya sehari 8 jam menjadi 5 jam.

Namun, di tahun 2024 pembeli besar dari Eropa berhenti karena kebijakan pabrik yang dipandang tidak melaksanakan nilai-nilai yang disepakati ILO (International Labour Organization).

Karena pembeli besar tidak lagi menerima barang, pihak penyuplai kebutuhan pabrik (supplier) pun tidak bisa terbayar hingga melakukan gugatan pailit terhadap PT Danbi Internasional yang tidak bisa menyelesaikan kewajibannya.

Halaman:

Advertisement