Perbedaan Sitasi, Daftar Pustaka, Kutipan, dan Footnote

Perbedaan Sitasi, Daftar Pustaka, Kutipan, dan Footnote – Dalam dunia literasi atau kepenulisan, Anda pasti sudah mengenal dengan istilah seperti sitasi, daftar pustaka dan lain-lain yang berkaitan dengan pengutipan.

Lantas, tahukah Anda apa perbedaan Sitasi, daftar pustaka, kutipan, dan footnote? Istilah-istilah tersebut ternyata berbeda, meski terlihat sama. 

Baik sitasi, daftar pustaka, kutipan, maupun footnote, semuanya berisi sebuah ungkapan dari sumber referensi lain. Tujuannya untuk memberikan keabsahan karya tulis ilmiah yang bersumber kuat.

Berbagai pengutipan tersebut juga sama-sama dicantumkan pada bagian karya tulis. 

Komponen Perbedaan Sitasi, Daftar Pustaka, Kutipan, dan Footnote

unsplash.com

Seperti dikatakan sekilas di atas, antara sitasi, daftar pustaka, kutipan, dan footnote sebenarnya punya makna dasar yang sama. Namun, keempatnya punya banyak perbedaan saat ditelisik satu persatu. 

Ada beberapa komponen perbedaan di antara istilah-istilah tersebut. Berikut ini perbedaan Sitasi, daftar pustaka, kutipan, dan footnote, beserta penjelasannya: 

1. Pengertian

Dilihat dari pengertiannya, mari kita pelajari apa perbedaan istilah-istilah penulisan sumber referensi tersebut:

Daftar Pustaka

Daftar pustaka punya istilah atau nama lain yang biasa disebut bibliografi. Arti daftar pustaka adalah pencantuman beberapa daftar sumber referensi yang terikat erat dengan sebuah karya tulis yang mencantumkan referensi tersebut. 

Footnote

Footnote atau catatan kaki merupakan sebuah catatan penjelasan terkait sumber referensi, yang ada di badan paragraf pada halaman tersebut. Sesuai namanya, catatan kaki ini diletakkan di baris paling bawah dalam halaman tertentu. 

Kutipan

Kutipan atau yang biasa disebut dengan quote, merupakan sebuah ungkapan dari sumber tertentu. Biasanya kutipan ini ditulis secara langsung, penulisan kalimatnya juga sama persis dengan ungkapan sumber. 

Sitasi

Sitasi mungkin juga dikenal sebagai kutipan. Namun, sitasi biasanya ditulis dengan kalimat sendiri dan ide utamanya dari sumber referensi orang lain. Dengan kata lain, pengutipan tidak menggunakan ungkapan langsung si sumber referensi. 

2. Letak Penulisan

Selain pengertian, letak penulisan empat hal tersebut juga berbeda. Daftar pustaka diletakkan di halaman terakhir karya tulis yang sedang digarap. 

Kutipan dan sitasi peletakkannya berada di badan buku, atau ada dalam paragraf halaman tertentu. Keterangan sumber pada sitasi juga bisa di awal kalimat atau diakhir kalimat. 

Sedangkan footnote letaknya ada di baris paling bawah suatu halaman buku karya tulis. Biasanya ditandai dengan nomor atau kode yang sesuai dengan kode pada badan paragraf. 

Selain itu, footnote juga bisa secara langsung ditulis di bawah paragraf yang terdapat kode footnotenya. 

3. Aturan Penulisan

Hal paling utama yang menjadi perbedaan sitasi, daftar pustaka, kutipan, dan footnote adalah pada bagian aturan penulisan. Berikut ini penjelasan perbedaannya beserta contohnya:

Daftar Pustaka

Penulisan daftar pustaka mengikuti aturan NATAJUKOPEN (Nama, Tahun, Judul, Kota, Penerbit) yang merupakan urutan penulisan. Formatnya nama penulis harus dibalik, nama belakang ada di depan diikuti tanda koma. 

Kemudian baru ditulis kata nama belakang dan diakhiri dengan tanda titik. Setelah tanda titik yang mengakhiri nama penulis, selanjutnya adalah tahun terbit buku. Tahun ditulis biasa dan diakhiri tanda baca titik.

Setelah tahun, judul ditulis dengan cetak miring dan diakhiri juga dengan tanda baca titik. Baru kemudian kota terbitnya buku yang ditulis biasa namun diakhiri tanda baca titik dua. Terakhir harus ditulis penerbit dan diakhiri tanda titik. 

Agar lebih paham, contoh penulisan daftar pustaka adalah:

Rahayu, Putri. 2004. Indahnya Surga. Jakarta: Media Kita. 

Footnote

Penulisan kode footnote menggunakan angka Arab (1,2,3, dan seterusnya). Kode ini diletakkan di akhir kalimat dengan posisi sedikit ke atas, seperti angka pangkat dalam matematika. Pastikan tidak ada tanda baca yang mengakhiri kode ini. 

Kemudian keterangan kode footnote ditulis dengan format nama penulisnya terlebih dulu, lalu diikuti dengan tanda baca koma dan ditulis judul buku referensi. Setelah penyebutan judul, dilanjutkan dengan tanda baca kurung.

Dalam tanda baca kurung ada kota penerbit, diikuti tanda titik dua. Kemudian tulis penerbit buku referensi dan diakhiri tanda baca koma. Setelahnya ada tahun terbit dan ditutup dengan tanda kurung lagi. 

Berikut di bawah ini contoh penggunaan footnote:

Pidato punya tujuan menarik perhatian pendengar 1

1 Purnomo, Berpidato Dengan Baik (Jakarta: Media Indo, 2007)

Sitasi

Aturan penulisan sitasi ini bergantung pada peletakannya. Jika peletakan di awal kalimat maka ditulis nama belakang diikuti nama depan, kemudian diikuti tanda baca kurung yang berisi tahun buku kutipan. 

Sedangkan jika penulisan di akhir kalimat, maka nama dan tahun ditulis dalam satu tanda kurung setelah kutipan ide referensi. Nama dan tahun dipisahkan dengan tanda baca koma. Sebagai contohnya bisa Anda simak berikut ini: 

Amanda (2008) mengatakan bahwa ……………..

………… (Herry, 2013)

Kutipan

Sebenarnya kutipan ini aturan penulisannya tidak jauh berbeda dengan penulisan sitasi. Hanya saja, kutipan ditulis dengan bahasa yang sesuai atau sama persis dengan ungkapan sumber referensi. 

Kutipan juga diletakkan dengan tanda baca petik dua. Sebagai contohnya adalah di bawah ini:

“Kita semua ………….” (Amanda, 2007). 

4. Fungsi Penulisan

Selain tiga aspek di atas, fungsi utama penulisan pada keempat hal tersebut juga punya perbedaan. Berikut di bawah ini perbedaan fungsinya:

Fungsi Daftar Pustaka

Daftar pustaka punya fungsi untuk memberikan deskripsi umum secara keseluruhan pada sumber buku, majalah, atau sumber lain yang digunakan untuk penulisan. 

Adanya daftar pustaka memungkinkan pembaca untuk mencari buku atau sumber serupa yang memiliki tema sama. Namun, tentu saja penulisan daftar pustaka ini tidak spesifik. Karenanya hanya memberikan informasi terkait sumber secara garis besar. 

Fungsi Footnote

Berbeda dengan daftar pustaka, footnote difungsikan untuk menunjukkan sumber ungkapan yang digunakan secara tepat. Pengaplikasiannya mencantumkan halaman dan deskripsi kutipan yang jelas. 

Selain itu, deskripsi dari buku itu sendiri juga disebutkan secara rinci. Sehingga nantinya pembaca bisa mencari kutipan dalam buku sumber yang sudah ada pada footnote.

Dengan istilah lain, footnote ini juga berfungsi untuk menjabarkan penjelasan kutipan yang kurang relevan untuk diletakkan pada teks badan paragraf. 

Fungsi Kutipan

Seperti yang sudah Anda ketahui, kutipan merupakan ungkapan seseorang yang diambil alih, lantas dimasukkan dalam teks badan paragraf sebuah karya tulis. Kutipan ini punya fungsi untuk menguatkan sebuah argumen melalui ungkapan orang lain. 

Fungsi Sitasi

Sebenarnya, sitasi ini hampir sama dengan kutipan. Hanya saja dalam sitasi disebutkan dengan jelas terkait sumber kutipan yang ada. Dalam sitasi juga kerap kali kutipan tidak ditulis dalam kalimat ungkapan langsung. 

Sitasi punya fungsi yang juga hampir sama dengan kutipan, yakni memperkuat argumen dalam karya tulis. Selain itu, sitasi juga berfungsi menunjukkan informasi sumber ungkapan yang dipakai dalam buku tersebut. 

Dengan begitu, pembaca jadi bisa membandingkan dan melihat secara langsung kutipan dalam buku sumber yang digunakan. 

Berbagai penjelasan perbedaan sitasi, daftar pustaka, kutipan dan footnote di atas, maka dapat diketahui bahwa keempat hal tersebut punya aspek-aspek khusus yang membedakannya. Meskipun begitu, keempat hal tersebut sama-sama punya peran penting dalam menguatkan karya tulis.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta