70 Peribahasa Sunda Pendek dan Artinya dalam Kehidupan Sehari-hari
Bahasa Sunda memiliki banyak peribahasa yang menjadi suatu kearifan lokal dalam masyarakat Sunda.
Kumpulan Peribahasa Sunda yang Maknanya Bermanfaat dan Artinya
- Ari diarah supana, kudu dipiara catangna nyaeta naon wae nu mere hasil ka urang kudu diurus atawa dipiara bener-bener. (Artinya: apapun yang memberi hasil pada kita harus diurus baik-baik.)
- Adat kakurung ku iga. (Artinya: Sulit untuk mengubah kebiasaan atau tabiat yang telah menjadi bagian dari diri seseorang secara mendalam dan sulit diubah.)
- Asa ditonjok congcot nyaeta meunang kabungah anu teu diarep-arep. (Artinya: Mendapat kebahagiaan sangat besar yang tidak disangka-sangka.)
- Pangéran mah tara nanggeuy ti bongkokna. (Artinya: Tuhan tidak akan meningkatkan posisi seseorang tanpa ketaatan dalam beribadah dan tanpa memohon kepada-Nya.)
- Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok. (Artinya: Bila upaya dikerjakan secara bertahap dan konsisten, akhirnya akan menghasilkan hasil yang diinginkan.)
- Bengkung ngariung, bongkok ngaronyok. (Artinya: Tidak mengapa menjalani kehidupan yang sulit, selama kita tetap bisa bersama dengan keluarga yang kita cintai.)
- Haripeut ku teuteureuyeun. (Artinya: Seseorang yang mudah tergoda dengan janji-janji tertentu.)
- Bisa ka bula ka balé hartina bisa campur jeung jelema ti rupa-rupa golongan, bisa kaditu kadieu atawa bisa gawé kasar jeung gawé lemes. (Artinya: Bisa bergaul dengan orang dari berbagai golongan, bisa masuk ke sana ke mari, atau bisa bekerja apapun.)
- Caang bulan dadamaran. (Artinya: Mengerjakan sesuatu sia-sia dan tidak bermanfaat.)
- Cukang tara néangan nu ngising hartina nu butuh nu kudu datang nyampeurkeun. (Artinya: Yang butuh yang harus menghampiri.)
- Anjing ngagogoan kalong. (Artinya: Berharap pada hal yang tidak mungkin terwujud.)
- Beungeut nyanghareup, ati mungkir. (Artinya: Melakukan sesuatu secara terpaksa karena tidak sesuai dengan keinginan batin.)
- Béja mah béja. (Artinya: Janganlah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya atau asal-usulnya.)
- Marebutkeun hiji perkara anu teu aya hasilna atawa mangpaatna. (Artinya : Memperebutkan perkara yang tidak ada hasilnya atau tidak ada gunanya.)
- Peurih jadi peurah. (Artinya: Setelah kita berupaya dengan tekun, pasti akan memperoleh hasil atau imbalan yang positif.)
- Manusa mah hirup ku akalna. (Artinya: Manusia hidup dengan mengandalkan kecerdasannya.)
- Embung pisan tutulung ka batur nu keur susah atawa loba kabutuh. (Artinya: Sama sekali tidak mau menolong orang lain yang lagi susah dan membutuhkan bantuan.)
- Lodong kosong ngelentrung. (Artinya: Biasanya orang yang banyak bicara itu tidak ada isinya.)
- Mindingan beungeut ku saweuy. (Artinya: Perangai dan tutur katanya bagus untuk menutupi hati yang buruk padahal orang lain sudah tahu kelakuannya.)
- Kawas nulungan anjing kadempet. (Artinya: Diberi pertolongan tetapi tidak tau terimakasih.)
- Herang caina, beunang laukna. (Artinya: Mencapai kesuksesan tanpa menyebabkan kerugian pada orang lain.)
- Kudu ngukur ka kujur, nimbang ka awak. (Artinya: Kita perlu mampu beradaptasi dengan situasi di mana kita berada.)
- Luhur budi handap asor, someah hade ka semah. (Artinya: Kita perlu memiliki perilaku yang baik, rendah hati, dan menghormati sesama.)
- Kudu hade gogog hade tagog. (Artinya: Kita harus menjadi seorang yang memiliki perilaku yang sopan dan baik dalam ucapan dan perilaku
- Nepak cai malar cérét (Artinya: Membicarakan keburukan orang lain supaya nama baiknya jauh dan terkenal keburukannya.)
Kumpulan Peribahasa Sunda Kahirupan Pendek dan Artinya
- Ka luhur sieun ku gugur, ka handap sieun ku cacing. (Ke atas (langit) takut guruh, ke bawah (tanah) takut cacing.) Artinya: Gambaran orang yang mengalami rasa takut berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu (fobia). Dengan kata lain, jiwanya sulit berkembang karena selalu dihantui perasaan was-was dan akibatnya tidak pernah berani mengambil risiko apapun dalam hidupnya.
- Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak. (Ke air jadi satu lubuk, ke darat jadi satu lembah.) Artinya: Sikap sama-sama setuju tentang satu hal dalam adat Sunda, di mana kebersamaan sosial sangat dijunjung tinggi oleh warganya.
- Neukteuk curuk dina pingping. (Memotong jari di atas paha.)Artinya: Menceritakan kejelekan atau kesalahan keluarga sendiri kepada orang lain, sehingga yang bersangkutan memperoleh penilaian buruk.
- Mapatahan ngojay ka meri. (Mengajar berenang pada itik.) Artinya: Sindiran kepada orang yang melakukan pekerjaan atau memberi petunjuk yang sia-sia, karena yang diberi petunjuk telah mahir melakukannya.
- Dibéré sabuku ménta sajeungkal, dibéré sajeungkal ménta sadeupa. (Diberi seruas minta sejengkal, diberi sejengkal minta sedepa.) Artinya: Ungkapan ini ditujukan pada orang yang tidak tahu diri. Sudah dikasih hati, malah berani minta yang lebih besar, lebih banyak, dan tidak layak (tak sesuai) lagi dengan kedudukannya.
- Ngusik-usik ula mandi, ngagugahkeun macan turu. (Mengusik ular berbisa, membangunkan harimau tidur.) Artinya: Mengungkit-ungkit masalah yang telah lalu hanya akan menimbulkan masalah (pertengkaran) lagi.
- Nu tani kari daki, nu dagang kari hutang. (Bertani tinggal daki, berdagang tinggal hutang.) Artinya: Ungkapan yang menggambarkan orang yang bernasib sial. Setiap usaha yang dilakukan selalu merugi (mendatangkan kesusahan), bukannya membawa keuntungan (hasil yang memuaskan).
- Landung kandungan laér aisan. (Memanjang ke bawah kandungan jauh gendongan.) Artinya: Gambaran dari sifat orang bijak yang banyak memiliki pertimbangan. Dalam menyelesaikan persoalan dia tidak akan gegabah, dan dalam bertindak selalu memperhitungkan banyak aspek.
- Ka luhur teu sirungan, ka handap teu akaran. (Ke atas tak bertunas, ke bawah tak berakar). Artinya: Gambaran orang yang tidak pernah jujur dalam segala tindakan. Semua yang dikatakan atau diperbuat hanyalah untuk menipu, menutupi maksud yang sesungguhnya.
- Kawas nanggeuy endog beubeureumna. (Seperti menyangga merah telur.) Artinya: Pencerminan dari besarnya rasa kasih sayang seseorang terhadap sesuatu, misalnya pada anak. Di mana ia benar-benar merawat dan menjaganya dengan hati-hati, takut jatuh, takut rusak, seperti membawa kuning telur di telapak tangannya.
- Banda sesampiran nyawa gagaduhan. (Harta benda hanya hiasan, nyawa hanya pemberian.) Artinya: Pandangan yang menyatakan bahwa harta dan nyawa adalah pemberian Tuhan semata-mata, dan manusia harus pasrah jika sewaktu-waktu diambil kembali.
- Sato busana daging, jalma busana élmu. (Binatang pakaiannya daging, manusia pakaiannya ilmu.) Artinya: Nilai harga binatang (misalnya ayam, kambing, dan sapi) ditentukan berdasarkan dagingnya (gemuk atau kurus). Sementara nilai (harga) manusia ditentukan oleh ilmu yang dimiliki.
- Nyeungeut damar di suhunan. (Menyalakan pelita (lampu) di puncak rumah.) Artinya: Sindiran bagi orang yang suka pamer kekayaan dengan cara banyak memberi pada orang lain agar mendapat pujian, tetapi pada keluarga sendiri sangat pelit.
- Mun kiruh ti girang komo ka hilirna. (Apabila sudah keruh sejak hulu, di hilir akan lebih keruh lagi.) Artinya: Perumpamaan terhadap kehidupan sosial politik sebuah negara atau lingkungan tertentu, jika pemimpinnya tidak baik, rakyat yang dipimpinnya akan berbuat jauh lebih tidak baik lagi.
- Kudu ngukur kana jujur, nimbang kana awak. (Mengukur dengan jujur, menimbang sesuai badan.) Artinya: Segala tingkah laku disesuaikan dengan keadaan diri sendiri. Jangan berlebihan, karena sikap seperti itu akan mengundang kecaman banyak orang.
- Gunung luhur beunang diukur, laut jero beunang dijugjugan, tapi haté jelema najan déét teu kakobét. (Tinggi gunung serta dalamnya laut dapat diukur, tapi hati orang tak dapat diduga.) Artinya: Mengetahui isi hati yang terpendam dalam diri seseorang sangat sulit, karena apa yang tampak dalam perilaku mereka dengan apa yang dirasakan bisa berbeda.
- Sakuru-kuruna lembu, saréngréng-réngréngna banténg. (Sekurus-kurusnya lembu, selemah-lemahnya banteng.) Artinya: Orang yang tadinya kaya, jika suatu saat mengalami kekurangan tentu tidak akan begitu sengsara karena masih menyimpan harta yang lebih besar dari apa yang dimiliki orang lain.
- Ngingu kuda kuru, ari geus lintuh nyépak. (Memelihara kuda kurus, begitu lengah menyepak.) Artinya: Ungkapan yang menggambarkan, bagaimana seseorang yang tulus membantu mengangkat kehidupan orang yang sangat miskin, namun ketika kehidupannya sudah membaik malah berani kurang ajar terhadap orang yang dulu menolongnya.
- Uncal tara ridu ku tanduk. (Kancil (kijang) tak direpotkan dengan tanduk.) Artinya: Segala ilmu pengetahuan maupun ketrampilan tidak akan merepotkan atau memberatkan manusia (pemiliknya).
- Ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala salengkah. (Ke depan mengambil sepanjang tapak kaki, ke belakang mengambil selangkah.) Artinya: Menggambarkan orang yang bersikap hati-hati dalam menjalani kehidupan. Seluruh perbuatannya diperhitungkan dengan untung-ruginya dan baik-buruknya, untuk menghindari timbulnya permasalahan yang tidak diinginkan.
Halaman:

