Ringkasan Hikayat Burung Cendrawasih beserta Unsur Ekstrinsik dan Intrinsiknya
Salah satu hikayat yang kental nilai sufistiknya, itulah hikayat Burung Cendrawasih. Baca ringkasan ceritanya di artikel ini.
2. Nilai-Nilai Agama Filsafat Sufistik
Pada bagian nilai-nilai, hikayat Burung Cendrawasih kental dengan ajaran sufisme atau tasawuf dalam Islam.
Pada konteks tasawuf, pencarian makna hidup dan pendekatan menuju Tuhan menjadi fokus utama.
Burung Cendrawasih melambangkan pemandu atau guru spiritual yang menuntun tokoh utama untuk melewati perjalanan batin menuju penyucian diri.
Tahapan-tahapan perjalanan seperti melewati “lembah-lembah” spiritual mengacu pada konsep sufistik mengenai maqamat (tahapan-tahapan spiritual) yang harus dilalui seseorang dalam perjalanan menuju kedekatan dengan Tuhan.
3. Pengendalian Diri dan Pengabdian
Di samping unsur agama, hikayat Burung Cendrawasih juga menyiratkan nilai sosial yang mengajarkan pentingnya pengendalian diri, ketabahan, dan kepasrahan dalam kehidupan.
Masyarakat Melayu dipandang sangat menjunjung tinggi kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan penuh rasa hormat.
Hikayat Burung Cendrawasih menyampaikan pesan bahwa seseorang harus mampu mengendalikan nafsu dan keinginan duniawi agar dapat hidup damai bersama orang lain.
4. Pengaruh Sastra Sufi
Hikayat Burung Cendrawasih nampak dipengaruhi oleh karya sastra sufi klasik, terutama Mantiq al-Tayr (Konferensi Burung) karya penyair sufi Persia, Fariduddin Attar.
Pada karya Attar, burung-burung melakukan perjalanan spiritual yang hampir serupa dengan hikayat Burung Cendrawasih.
Pesan Moral Ringkasan Hikayat Burung Cendrawasih
Menurut pembacaan yang telah dilakukan, Hikayat Burung Cendrawasih bisa dibilang sedang menyampaikan pesan moral tentang pentingnya melepaskan diri dari ego, nafsu, dan keterikatan duniawi.
Hikayat Burung Cendrawasih juga mengajarkan bahwa kedamaian sejati hanya dapat ditemukan melalui pengabdian, ketulusan, dan cinta yang mendalam kepada Tuhan.
Selain itu, hikayat Burung Cendrawasih terus mengingatkan pembaca untuk tidak mudah tergoda oleh kenikmatan duniawi dan sebaiknya mengarahkan hidup pada tujuan yang lebih tinggi, yaitu kesempurnaan spiritual.
Demikian pembahasan ringkasan hikayat Burung Cendrawasih beserta unsur ekstrinsik dan intrinsiknya. Semoga bermanfaat.
FAQ
Telah teriwayatkan di dalam Kitab Tajul Muluk, dikisahkan seekor burung yang luar biasa indah disebut Burung Cendrawasih. Burung Cendrawasih bukanlah burung biasa, melainkan burung yang terlahir dan berasal dari surga Kahyangan karena keindahannya.
Inti ceritanya adalah bahwa Burung Cendrawasih adalah burung yang berasal dari surga, dan diturunkan ke bumi untuk membimbing sebagai sosok Waliyullah.
Hikayat Burung Cendrawasih bisa dibilang sedang menyampaikan pesan moral tentang pentingnya melepaskan diri dari ego, nafsu, dan keterikatan duniawi. Hikayat Burung Cendrawasih juga mengajarkan bahwa kedamaian sejati hanya dapat ditemukan melalui pengabdian, ketulusan, dan cinta yang mendalam kepada Tuhan.
Hikayat adalah sebuah karya sastra lama Melayu yang memuat nilai-nilai kebijaksanaan. Berdasarkan pada KBBI Daring, yang dimaksud hikayat adalah sebuah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, silsilah, undang-undang, dan kisah fiktif lainnya.
Burung Cendrawasih dikisahkan memiliki bulu yang begitu indah dengan warna yang beraneka ragam sehingga begitu cantik dipandang. Kepala Burung Cendrawasih berwarna kuning keemasan dengan jambul kehitaman yang begitu menarik layaknya mahkota. Selain itu, Burung Cendrawasih mempunyai empat sayap yang keindahannya tiada lawan.
Referensi
Hikayat Burung Cendrawasih [Daring]: Tautan http://proceedings.upi.edu/index.php/riksabahasa/article/download/1110/1013/
Hikayat Burung Cendrawasih [Daring]: Tautan https://brainly.co.id/tugas/35678189
Halaman:

