Ringkasan Hikayat Burung Cendrawasih beserta Unsur Ekstrinsik dan Intrinsiknya
Salah satu hikayat yang kental nilai sufistiknya, itulah hikayat Burung Cendrawasih. Baca ringkasan ceritanya di artikel ini.
4. Latar
Latar tempat pada hikayat Burung Cendrawasih bersifat simbolis, karena menggambarkan alam-alam spiritual daripada tempat fisik yang spesifik.
Contohnya adalah lembah-lembah yang harus dilalui oleh tokoh utama, yang melambangkan tahapan atau tantangan batin.
Selain itu, latar waktu dalam cerita ini tidak dijelaskan secara konkret. Kisah ini bersifat atemporal atau tanpa waktu spesifik, menunjukkan bahwa pesan dalam hikayat ini berlaku secara universal dan abadi.
5. Sudut Pandang
Hikayat Burung Cendrawasih disampaikan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu.
Narator sepenuhnya mengetahui dan menggambarkan perasaan, pikiran, dan motivasi tokoh utama secara mendalam, serta menyampaikan ajaran-ajaran dari Burung Cendrawasih kepada pembaca.
6. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang ada di dalam hikayat Burung Cendrawasih begitu khas sastra Melayu klasik, dengan penggunaan bahasa yang indah, penuh dengan simbolisme dan metafora yang menggambarkan nilai-nilai sufistik.
Pemilihan kata dalam hikayat ini cenderung puitis dan penuh makna mendalam, yang membantu menggambarkan perjalanan batin tokoh utama.
Bahasa simbolik seperti “lembah” menggambarkan tantangan spiritual dan “terbang” untuk menyimbolkan kebebasan dari dunia material sering ditemukan dalam hikayat ini.
Unsur Ekstrinsik Ringkasan Hikayat Burung Cendrawasih
Selain unsur intrinsik, setiap cerita sastra juga mempunyai unsur ekstrinsik. Hal tersebut berlaku juga pada hikayat Burung Cendrawasih.
Unsur ekstrinsik yang dimaksud secara mudahnya bisa meliputi konteks sosiologi sastra, yakni tentang latar belakang penulisan cerita, status sosial penulis, hingga refleksinya dengan dunia nyata.
Berikut adalah pembedahan unsur ekstrinsik dari hikayat Burung Cendrawasih:
1. Latar Belakang Melayu-Islam
Hikayat Burung Cendrawasih bersumber dari tradisi sastra Melayu klasik yang banyak dipengaruhi oleh budaya Islam.
Budaya Melayu terkenal akan sifatnya yang mengedepankan nilai-nilai moral dan etika, serta kaya akan karya sastra sufistik yang berusaha mengajarkan kebijaksanaan hidup.
Hikayat Burung Cendrawasih pun menggunakan simbol-simbol lokal, contohnya paling konkret adalah burung Cendrawasih, yang dianggap mewakili keindahan dan spiritualitas yang luhur dalam budaya Melayu.
Selain itu, penggunaan bahasa dan gaya penuturan khas Melayu memberikan nuansa tradisional dan keindahan tersendiri dalam alur ceritanya.
Halaman:
