Ringkasan Singkat Hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak beserta Pesan Moralnya
Ada sebuah hikayat yang dikenal dengan judul Sa Ijaan dan Ikan Todak yang cukup populer. Dalam artikel ini, kamu akan menyimak ringkasan singkatnya.
2. Hikayat India
Ciri khas hikayat India adalah memiliki unsur agama Hindu. Kisah utama dalam hikayat agama Hindu, misalnya saja cerita “Sri Rama”.
Seiring berjalannya waktu, kisah tersebut berkembang menjadi hikayat lain seperti “Hikayat Pandawa Lima” dan “Hikayat Perang Pandawa”.
3. Hikayat Arab-Persia
Mayoritas agama yang dianut bangsa Arab dan Persia adalah agama Islam. Maka dari itu, hikayat yang muncul di sana bertema Islam dan mengandung nilai-nilai keislaman.
Beberapa contoh hikayat dari Arab-Persia adalah “Hikayat 1001 Malam”.
4. Hikayat Jawa
Dalam hikayat Jawa memiliki kemiripan sifat, tokoh, dan alur seperti hikayat yang berasal dari India dan Arab. Hal ini dikarenakan budaya Jawa dipengaruhi oleh agama Islam dan Hindu.
Adanya percampuran budaya yang berbeda tersebut akhirnya melahirkan suatu budaya baru. Beberapa contoh hikayat Jawa adalah “Hikayat Panji Semirang”.
Aspek Isi Cerita
Sementara dari aspek isi cerita, hikayat juga terbagi ke dalam beberapa jenis, antara lain adalah:
- Sejarah
- Biografi
- Agama
- Peristiwa
- Cerita
Ringkasan Singkat Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak
Sudah tak sabar untuk membaca ringkasan singkat hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak beserta pesan moralnya?
Maka kamu bisa menyimak ringkasan singkat hikayat tersebut pada uraian sebagai berikut.
Menurut sahibul hikayat, sebermula ada seorang Datu yang dikenal sakti mandraguna sedang bertapa di tengah laut.
Ia dikenal sebagai Datu Mabrur. Ia bertapa di antara Selat Laut dan Selat Makassar.
Siang-malam Datu Mabrur bersemadi di batu karang, di antara percikan buih, debur ombak, angin, gelombang dan badai topan.
Datu Mabrur memohon kepada Sang Pencipta agar diberi sebuah pulau. Kelak, pulau itu akan menjadi tempat bermukim bagi anak-cucu dan keturunannya.
Hatta, ketika laut tenang, seekor ikan besar tiba-tiba muncul ke permukaan laut dan terbang menyerang Datu Mabrur.
Tanpa beringsut dari tempat duduk maupun membuka mata, Datu Mabrur menepis serangan mendadak dari itu.
Ikan itu terpelanting dan jatuh di karang. Setelah jatuh ke air, ikan itu kembali menyerang. Demikian terus terjadi berulang-ulang.
Di sekeliling karang, ribuan ikan lain mengepung, memperlihatkan gigi mereka yang panjang dan tajam, seakan prajurit siap tempur.
Pada serangan yang terakhir, ikan itu terpelanting jatuh persis saat Datu Mabrur sedang membuka matanya.
“Hai, ikan! Apa maksudmu mengganggu semadiku? Ikan, apa kamu?”
“Aku ikan todak, Raja Ikan Todak yang menguasai perairan ini. Semadimu membuat lautan bergelora. Kami terusik, dan aku memutuskan untuk menyerangmu.
Tapi, engkau memang sakti, Datu Mabrur. Aku takluk,” katanya, megap-megap. Matanya berkedip-kedip menahan sakit. Tubuhnya terjepit di sela-sela karang tajam.
“Datu, tolonglah aku. Obati luka-lukaku dan kembalikanlah aku ke laut. Kalau terlalu lama di darat, aku bisa mati. Atas nama rakyatku, aku berjanji akan mengabdi kepadamu, bila engkau menolongku…”
Raja Ikan Todak mulai mengiba-iba. Seolah sulit bernapas, insangnya membuka dan menutup.
“Baiklah,” Datu Mabrur lalu berdiri. “Sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, aku akan menolongmu.”
“Apa pun permintaanmu, kami akan memenuhinya. Datu ingin istana bawah laut yang terbuat dari emas dan permata, dilayani ikan duyung dan gurita? Ingin berkeliling dunia, Bersama ikan paus dan lumba-lumba?” tanya Ikan Todak
“Tidak. Aku tak punya keinginan untukku pribadi, tapi untuk masa depan anak-cucuku nanti.” Lalu, Datu Mabrur menceritakan maksud pertapaannya selama ini.
“Akan kukerahkan rakyatku, seluruh penghuni lautan dan samudera. Sebelum matahari terbit esok pagi, impianmu akan terwujud. Aku bersumpah!” jawab Raja Ikan Todak lantang.
Datu Mabrur tak dapat membayangkan, bagaimana Raja Ikan Todak akan memenuhi sumpahnya tadi.
“Baiklah. Tapi kita harus membuat perjanjian. Sejak sekarang kita harus sa-ijaan, seiring sejalan. Seia sekata, sampai ke anak-cucu kita. Kita harus rakat mufakat, bantu membantu, bahu membahu. Bagaimana, setuju?”
“Setuju, Datu,” sahut Raja Ikan Todak yang tergolek lemah. Ia sangat membutuhkan air.
Halaman:

