Source : canva.com/arturo_anez

4 Jenis Historiografi dalam Sejarah beserta Ciri-Ciri dan Contohnya

Tidak semua sejarah ditulis dengan cara yang sama. Artikel ini membahas jenis-jenis historiografi, ciri khasnya, serta contoh karya yang sering muncul dalam pembelajaran sejarah.

22 Oktober 2026 Nadia Kamila
Ringkasan Artikel
  • Historiografi adalah tahap akhir metode sejarah: menulis dan menyusun peristiwa berdasarkan sumber yang telah melalui heuristik (pengumpulan), kritik sumber (pengujian), dan interpretasi; fungsinya mendokumentasikan, menyebarkan pengetahuan, dan menjadi bahan penelitian/pendidikan.
  • Ada empat jenis historiografi: tradisional (istanasentris, banyak mitos), kolonial (Eropasentris, bias namun berisi arsip berguna), nasional (Indonesiasentris, membangun identitas), dan modern (ilmiah, multidimensional, objektif).
  • Prinsip utama adalah kronologis, kausalitas, objektif/berbasis sumber, dan sistematis; kelebihannya mendokumentasikan sejarah dan membentuk identitas, sedangkan kekurangannya meliputi potensi bias penulis, keterbatasan sumber, dan adanya berbagai interpretasi—maka pembaca perlu kritis.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah kamu pernah membaca dua buku sejarah yang membahas peristiwa yang sama, tetapi ceritanya terasa berbeda? Hal itu wajar karena setiap penulis bisa jadi memiliki sudut pandang dan cara penulisan yang berbeda. 

Dalam ilmu sejarah, cara penulisan dan penyajian peristiwa masa lalu dipelajari melalui jenis historiografi. Artikel Mamikos kali ini akan membahas pengertian, ciri-ciri, dan berbagai contoh historiografi yang perlu kamu ketahui.

Apa yang Dimaksud dengan Historiografi?

Jenis Historiografi
canva.com/arturo_anez
6 Daftar Negara yang Pernah Menjajah Indonesia beserta Tahun dan Sejarah Singkatnya

Historiografi adalah proses menulis dan menyusun peristiwa sejarah berdasarkan fakta serta sumber yang telah diteliti sebelumnya. Dalam metode penelitian sejarah, historiografi adalah tahap terakhir setelah sejarawan mengumpulkan, memeriksa, dan menafsirkan berbagai sumber yang ditemukan.

Sederhananya, historiografi adalah hasil akhir dari penelitian sejarah yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Lewat historiografi, berbagai peristiwa di masa lalu tak hanya tersimpan sebagai data, tetapi juga bisa dipelajari dan dipahami oleh masyarakat hingga saat ini.

Sebelum sampai pada tahap historiografi, ada beberapa tahapan dalam metode sejarah yang perlu dilakukan, yaitu:

  1. Heuristik, yaitu mencari dan mengumpulkan sumber sejarah.
  2. Kritik sumber, yaitu memeriksa keaslian dan kredibilitas sumber yang ditemukan.
  3. Interpretasi, yaitu menafsirkan fakta-fakta sejarah yang telah diperoleh.
  4. Historiografi, yaitu menyusun hasil penelitian menjadi tulisan sejarah yang runtut dan mudah dipahami.

Peran historiografi ini cukup penting karena mendokumentasikan peristiwa sejarah, menyebarkan pengetahuan, serta menjadi bahan pembelajaran dan referensi untuk penelitian berikutnya.

Tahukah kamu?

Kata historiografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu historia yang berarti pengetahuan tentang masa lalu dan graphein yang berarti menulis. Oleh karena itu, historiografi sering dimaknai sebagai kegiatan menuliskan atau menyusun sejarah berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan.

Jika kamu seorang pelajar atau mahasiswa, memahami historiografi bisa melatih kemampuan berpikir kritis saat membaca berbagai sumber. Kamu akan memahami bahwa satu peristiwa sejarah bisa ditulis dari sudut pandang yang berbeda.

4 Jenis Historiografi dan Penjelasannya

Sepanjang perkembangan ilmu sejarah, historiografi dibagi menjadi empat jenis, yaitu historiografi tradisional, kolonial, nasional, dan modern. Masing-masing jenis ini dari latar belakang yang berbeda sehingga menghasilkan cara pandang yang berbeda pula saat menulis sejarah.

1. Historiografi Tradisional

Historiografi tradisional adalah penulisan sejarah yang berkembang pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara. Karya sejarah pada masa ini umumnya ditulis oleh pujangga istana atau orang-orang yang berada di lingkungan kerajaan.

Fungsi historiografi tradisional bukan hanya untuk mencatat peristiwa, tetapi juga untuk memperkuat legitimasi kekuasaan raja. Maka kamu akan sering mendapati bahwa isi ceritanya sering berpusat pada kehidupan penguasa dan keluarganya.

Ciri-ciri historiografi tradisional:

  • Bersifat istanasentris atau berpusat pada kerajaan.
  • Banyak memuat unsur mitos, legenda, dan hal-hal magis.
  • Bertujuan melegitimasi kekuasaan raja atau dinasti tertentu.
  • Nama penulis sering tidak diketahui atau anonim.
  • Belum menggunakan metode penelitian sejarah yang ilmiah.

Dalam banyak karya tradisional, seorang raja digambarkan memiliki kesaktian, memperoleh wahyu, atau memiliki garis keturunan istimewa. Hal ini menunjukkan bahwa penulisan sejarah pada masa itu masih sangat dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat dan kebutuhan politik kerajaan.

Meskipun demikian, historiografi tradisional tetap memiliki nilai sejarah yang tinggi. Melalui karya-karya tersebut, sejarawan bisa memperoleh informasi tentang struktur pemerintahan, budaya, sistem kepercayaan, dan kondisi sosial masyarakat pada masa lampau.

Contoh historiografi tradisional:

  • Negarakertagama
  • Pararaton
  • Babad Tanah Jawi
  • Hikayat Raja-Raja Pasai

2. Historiografi Kolonial

Historiografi kolonial berkembang pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Sebagian besar tulisan pada periode ini ditulis oleh orang-orang Eropa yang bekerja sebagai pejabat kolonial, peneliti, atau administrator pemerintahan.

Sayangnya, karena ditulis oleh pihak penjajah, sudut pandang yang digunakan fokus pada kepentingan kolonial. Akibatnya, peran rakyat Indonesia kurang mendapat perhatian dibandingkan peran pemerintah kolonial.

Ciri-ciri historiografi kolonial:

  • Bersifat Neerlandosentris atau Eropasentris.
  • Menempatkan bangsa Eropa sebagai aktor utama sejarah.
  • Mengabaikan kontribusi masyarakat lokal.
  • Banyak digunakan untuk membenarkan sistem kolonial.
  • Berfokus pada aktivitas pemerintahan dan administrasi kolonial.

Meski memiliki bias yang cukup kuat, historiografi kolonial menyimpan banyak data penting berupa arsip, laporan perjalanan, statistik, catatan ekonomi, hingga laporan pemerintahan yang sangat berguna bagi penelitian sejarah saat ini.

Oleh karena itu, para sejarawan modern tetap memanfaatkan karya historiografi kolonial sebagai sumber sejarah. Namun, informasi di dalamnya perlu dibandingkan dengan sumber lain agar tidak hanya melihat suatu peristiwa dari sudut pandang penjajah.

Contoh historiografi kolonial:

  • History of Java karya Thomas Stamford Raffles.
  • Geschiedenis van Nederlandsch-Indie karya F.W. Stapel.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa karya kolonial masih digunakan jika dianggap bias?

Alasannya karena karya-karya tersebut berisi dokumentasi yang cukup lengkap mengenai kondisi politik, ekonomi, dan sosial di Hindia Belanda. Sejarawan bisa dapat mengambil fakta-fakta penting tanpa harus menerima seluruh sudut pandang kolonial yang ada di dalamnya.

3. Historiografi Nasional

Historiografi nasional berkembang setelah Indonesia merdeka. Kemunculannya dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menulis sejarah dari sudut pandang bangsa Indonesia sendiri.

Sebelumnya, banyak narasi sejarah Indonesia didominasi perspektif kolonial. Historiografi nasional muncul untuk memberi ruang kepada perjuangan rakyat Indonesia serta membangun identitas kebangsaan.

Ciri-ciri historiografi nasional:

  • Bersifat Indonesiasentris.
  • Menonjolkan peran bangsa Indonesia dalam sejarah.
  • Berorientasi pada pembangunan identitas nasional.
  • Memberikan perhatian pada perjuangan rakyat.
  • Ditulis dengan semangat kebangsaan.

Dalam historiografi nasional, tokoh-tokoh Indonesia, gerakan nasional, hingga perjuangan kemerdekaan mendapat porsi pembahasan yang jauh lebih besar. Tujuannya tidak sekedar menyampaikan fakta sejarah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kebangsaan.

Perkembangan historiografi nasional menjadi salah satu tonggak penting dalam dunia pendidikan Indonesia karena membantu masyarakat memahami sejarah dari perspektif bangsa sendiri.

Contoh historiografi nasional:

  • Sejarah Nasional Indonesia yang disunting oleh Nugroho Notosusanto dan Marwati Djoened Poesponegoro.
  • 6000 Tahun Sang Merah Putih karya Muhammad Yamin.

Perkembangan historiografi nasional mendapat dorongan kuat setelah Seminar Sejarah Nasional yang diadakan di Yogyakarta pada tahun 1957. Seminar tersebut menjadi langkah penting untuk mengembangkan penulisan sejarah yang berpusat pada pengalaman dan perspektif bangsa Indonesia.

Halaman: