Bagaimana Kondisi Bangsa Indonesia Sebelum Tahun 1908? Berikut Ringkasannya
Kondisi bangsa Indonesia sebelum 1908 sangat memprihatinkan. Kesengsaraan terjadi dimana-mana. Berikut ringkasan kondisinya, simak sampai tuntas.
Peraturan Kolonial Belanda

Pemerintahan kolonial Belanda membuat beberapa peraturan yang mengakibatkan penyiksaan pada rakyat Indonesia, di antaranya:
- Sistem Tanam Paksa
Sistem tanam paksa atau cultuurstelsel mulai diberlakukan oleh Gubernur Van den Bosch pada tahun 1828.
Sistem ini mewajibkan seluruh masyarakat untuk menerapkan kebijakan cocok tanam Pemerintah Hindia Belanda di lahan masing-masing.
Hal ini semakin memperpanjang penderitaan yang dialami rakyat. Pasalnya, hasil cocok tanam tersebut wajib diserahkan kepada pihak Hindia Belanda.
Kekayaan yang didapat dari keringat rakyat Indonesia tersebut digunakan untuk membangun provinsi dan infrastruktur di Belanda. Sehingga menjadikan Belanda sebagai negara kaya di Eropa.
- Devide Et Impera
Seperti yang disebutkan di atas, Belanda melakukan politik devide et impera dengan tujuan agar kerajaan di Indonesia saling bertikai dan bertempur.
Keuntungannya bagi Belanda, mereka tak perlu banyak berusaha lagi untuk menghancurkan kehidupan masyarakat.
- Kerja Rodi
Daendels berkuasa di Indonesia sejak tahun 1808 sampai 1811, meski tidak berkuasa lama, Daendels meninggalkan kebijakan yang sangat menindas rakyat Indonesia.
Ia yang bertanggung jawab atas sistem kerja rodi. Rakyat dipaksa membangun jalan dari Anyer hingga Panarukan.
Perlawanan Rakyat Indonesia
Kondisi Bangsa Indonesia sebelum tahun 1908 masih bersifat regional. Beberapa kali rakyat Indonesia melakukan perlawanan, namun dapat dipatahkan oleh Belanda.
Dilansir dari situs resmi Kemendikbud, berikut adalah beberapa sifat perlawanan rakyat kala itu:
- Senjata yang digunakan masih sangat tradisional, misalnya golok, bambu runcing, dan senjata tradisional lainnya.
- Perlawanan masih bersifat kedaerahan.
- Perlawanan bertujuan bukan untuk merdeka, tetapi untuk mengusir penjajah dari tanah mereka.
- Dipimpin oleh tokoh-tokoh masyarakat, misalnya tokoh bangsawan dan tokoh agama.
- Perlawanan hanya terjadi secara musiman.
- Hasil perlawanan tidak terlihat, bahkan lebih sering gagal.
Dilihat dari sifat perlawanan di atas, rakyat Indonesia cenderung mudah untuk dikalahkan. Kehidupan masyarakat semakin memburuk, serta banyak rakyat yang gugur akibat penindasan Belanda.
Menjelang akhir abad ke-19 pun kehidupan masyarakat belum menunjukkan perbaikan signifikan. Sistem tanam paksa yang diusung Belanda menyebabkan kemiskinan berkepanjangan pada rakyat Indonesia.
Halaman:


