Advertisement
Source : Canva/@Putra Roja

Biografi Ki Hadjar Dewantara Singkat dari Lahir hingga Wafat Lengkap

Selain sebagai Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei juga merupakan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Siapakah beliau? Simak biografinya di artikel ini.

15 Januari 2024 Lintang Filia

Biografi Ki Hadjar Dewantara Singkat dari Lahir hingga Wafat Lengkap – Tahukah kamu jika Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei memiliki sejarah yang panjang?

Selain sebagai hari nasional, 2 Mei adalah hari untuk mengenang jasa Bapak Pendidikan Nasional Indonesia yaitu Ki Hadjar Dewantara.

Agar kamu lebih mengenal dan memahami kiprah beliau, berikut Mamikos berikan biografi Ki Hadjar Dewantara secara lengkap.

Biografi Ki Hadjar Dewantara

Biografi Ki Hadjar Dewantara
Canva/@Putra Roja

Ki Hadjar Dewantara yang sebenarnya bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, Hindia Belanda.

Ayahnya bernama Gusti Pangeran Haryo Soeryaningrat, sedangkan ibunya bernama R.A Sandiah.

Sesuai gelar yang disandangnya, Raden Mas, Ki Hadjar Dewantara adalah keturunan bangsawan yang merupakan cucu dari Sri Paku Alam III.

Beliau adalah seorang tokoh pendidikan dan kebudayaan Indonesia yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Jejak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Hari lahirnya yang selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional menunjukkan bahwa beliau adalah sosok cendikiawan yang berpendidikan dalam biografi Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara tidak hanya mengikuti pendidikan formal di lingkungan istana Paku Alam, tetapi juga mengenyam pendidikan formal di beberapa institusi lainnya.

Di antaranya adalah Europeesche Lagere School (ELS) atau Sekolah Belanda III yang merupakan lembaga pendidikan Belanda.

Selain itu, ia juga mengikuti Kweek School (Sekolah Guru) di Yogyakarta yang menunjukkan keragamannya dalam mendapatkan pendidikan.

Pada saat yang bersamaan, Soewardi Soerjaningrat juga mendaftar di School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA), sekolah kedokteran yang berlokasi di Jakarta.

Namun, karena kondisi kesehatannya yang buruk, ia terpaksa tidak dapat menyelesaikan pendidikan di STOVIA.

Meskipun demikian, perjalanan pendidikan Ki Hadjar Dewantara mencerminkan keinginannya untuk memperluas pengetahuan dan keterampilannya di berbagai bidang.

Biografi Jenderal Sudirman Singkat dan Lengkap dari Tempat Lahir, Perjuangan, hingga Wafatnya

Kecintaan Ki Hadjar Dewantara terhadap Jurnalisme

Tidak hanya dikenal sebagai pendidik dan budayawan, Ki Hadjar Dewantara juga dikenal sebagai seorang wartawan yang berkiprah di dunia jurnalisme pada zamannya.

Beliau aktif menulis untuk beberapa surat kabar dan majalah, seperti Sediotomo, de Express, Oetoesan Hindia, Midden Java, Tjahaja Timoer, Kaoem Moeda, dan Poesara.

Melalui tulisannya, Ki Hadjar Dewantara secara berani melontarkan kritik sosial-politik terhadap penjajah Belanda, memperjuangkan hak-hak kaum bumiputera, dan menggalang semangat perlawanan anti kolonial.

Gaya penulisannya yang komunikatif, tajam, dan tegas membuatnya diakui sebagai salah satu penulis terkemuka pada masa itu.

Karyanya mampu membangkitkan semangat anti kolonial di kalangan pembaca dan membantu membentuk pandangan masyarakat terhadap perjuangan kemerdekaan.

Selain menjadi wartawan, biografi Ki Hadjar Dewantara juga mencatat beliau aktif di berbagai organisasi sosial dan politik.

Pada tahun 1908, beliau terlibat secara aktif di seksi propaganda organisasi Boedi Oetomo.

Perannya dalam organisasi ini adalah menyosialisasikan dan membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia tentang pentingnya kesatuan dan persatuan dalam membangun bangsa dan negara.

Biografi Kapitan Pattimura Lengkap, Sejarah Perjuangan, Pendidikan, Hingga Wafatnya

Pergerakan Ki Hadjar Dewantara untuk Indonesia

Biografi Ki Hadjar Dewantara selanjutnya akan membahas tentang pergerakan beliau untuk mendukung kemerdekaan Indonesia, di antaranya:

1. Indische Partij

Bersama dengan Danudirdja Setyabudhi alias Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara terlibat dalam pendirian Indische Partij pada tanggal 25 Desember 1912.

Partai politik ini menjadi yang pertama dengan aliran nasionalisme di Indonesia dan memiliki tujuan utama untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Namun, usaha mereka ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda yang khawatir bahwa partai ini dapat memicu tumbuhnya rasa nasionalisme di kalangan rakyat.

2. Komite Boemipoetra

Setelah penolakan terhadap status badan hukum Indische Partij, Ki Hadjar Dewantara turut serta dalam pembentukan Komite Boemipoetra pada November 1913.

Komite ini bertindak sebagai komite alternatif untuk merespons Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa yang diinisiasi oleh pemerintah kolonial.

Komite Boemipoetra mengkritik keras rencana perayaan pemerintah kolonial yang akan merayakan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis.

Pemerintah hendak menggelar perayaan tersebut dengan menarik dana dari rakyat jajahannya, termasuk Indonesia, untuk membiayai pesta tersebut.

3. Kritik Melalui Tulisan

Dalam biografi Ki Hadjar Dewantara, beliau secara tegas melontarkan kritiknya melalui tulisan-tulisannya.

Termasuk yang berjudul “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” (Satu untuk semua, tetapi semua untuk satu juga) dan “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda).

Akibat yang ditimbulkan oleh “Seandainya Aku Seorang Belanda” sangat besar. Pemerintah kolonial Belanda merespons dengan menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan kepada Ki Hadjar Dewantara.

Beliau dihukum buang (hukum interning), yang berarti ditentukan untuk tinggal di tempat tertentu. Akhirnya, Ki Hadjar Dewantara dihukum buang ke Pulau Bangka.

4. Perguruan Taman Siswa

Ki Hadjar Dewantara kembali dari pengasingan dan pada bulan Juli 1922 mendirikan lembaga pendidikan yang bercorak nasional, yaitu National Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa).

Perguruan ini didirikan dengan tujuan memberikan kesempatan pendidikan kepada para pribumi kelas bawah.

Sehingga, mereka dapat memperoleh hak pendidikan yang setara dengan para priyayi dan orang Belanda.

National Onderwijs Instituut Taman Siswa merubah metode pengajaran kolonial yang sebelumnya bersifat otoriter dengan pendidikan yang menekankan “perintah dan sanksi”.

Sebaliknya, Taman Siswa memperkenalkan pendekatan pamong yang lebih humanis dan sangat menekankan pada pendidikan tentang rasa kebangsaan.

Ki Hadjar Dewantara berusaha memberikan pemahaman kepada para peserta didik mengenai pentingnya mencintai bangsa dan tanah air, serta menginspirasi mereka untuk berjuang demi mencapai kemerdekaan.

Dalam membangun Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara menghadapi berbagai rintangan.

Pemerintah kolonial Belanda mencoba untuk membatasinya dengan menerbitkan ordonansi sekolah liar pada 1 Oktober 1932.

Meskipun demikian, semangat dan tekad Ki Hadjar Dewantara tidak tergoyahkan dan Taman Siswa tetap berupaya memberikan pendidikan yang merangsang semangat kebangsaan dan patriotisme.

Biografi Bung Tomo Singkat dan Lengkap tentang Kehidupan dan Perjuangan yang Menginspirasi

Trilogi Ki Hadjar Dewantara

Dalam usahanya di bidang pendidikan Indonesia, pasti kamu pernah mendengar trilogi dari Ki Hadjar Dewantara.

Di antaranya adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.

Apa saja yang dimaksud dalam trilogi biografi Ki Hadjar Dewantara yang terkenal itu?

1. Ing Ngarsa Sung Tuladha

Ajaran Ing Ngarsa Sung Tuladha dari Ki Hadjar Dewantara mencerminkan konsep bahwa seorang pendidik tidak hanya bertugas sebagai orang yang memberikan instruksi atau mengajar.

Dalam konteks ini, frasa tersebut menekankan bahwa seorang pendidik harus menjadi contoh yang sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip yang diajarkan kepada peserta didik.

Ing Ngarsa Sung Tuladha menuntut agar pendidik tidak hanya mengajarkan materi pelajaran atau transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidik diharapkan mampu mencerminkan sikap, perilaku, emosi, dan nilai-nilai yang diinginkan, sehingga peserta didik dapat melihat dan merasakannya secara langsung.

Dengan kata lain, seorang pendidik yang mengaplikasikan Ing Ngarsa Sung Tuladha tidak hanya berbicara tentang nilai-nilai positif, tetapi juga menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai tersebut.

Selain itu, Ing Ngarsa Sung Tuladha menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya terletak pada penyampaian materi pelajaran.

Namun, juga pada pembentukan karakter dan moral peserta didik melalui teladan positif yang diberikan oleh pendidik.

2. Ing Madya Mangun Karsa

Secara harfiah, Ing Madya berarti di tengah-tengah, Mangun bermakna membangkitkan atau menggugah, dan Karsa mengacu pada bentuk kemauan atau niat.

Gabungan kata-kata ini membentuk konsep bahwa seorang pendidik, yang berada di tengah-tengah peserta didiknya, diharapkan mampu terlibat aktif dalam membangkitkan semangat dan kemauan belajar.

Ajaran Ing Madya Mangun Karsa oleh Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa seorang pendidik tidak hanya berperan sebagai instruktur yang memberikan pengetahuan.

Namun, juga sebagai fasilitator yang terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran.

Seorang pendidik harus mampu menyatu dengan peserta didiknya, berada di tengah-tengah mereka, dan terlibat dalam setiap pembelajaran.

Selain itu, ajaran ini mengajarkan tentang pentingnya kehadiran dan peran aktif seorang pendidik di tengah-tengah kelompok peserta didiknya.

Dengan cara ini, peserta didik dapat merasakan dukungan, bimbingan, dan inspirasi langsung dari pendidik, menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dan penuh motivasi.

3. Tut Wuri Handayani

Tut Wuri Handayani memiliki makna yang mendalam dalam konteks pendidikan. Harfiahnya, Tut Wuri berarti mengikuti dari belakang, dan Handayani bermakna memberikan dorongan moral atau semangat.

Trilogi terakhir Ki Hadjar Dewantara mengajarkan bahwa seorang pendidik seharusnya mengikuti dari belakang, memberikan dorongan moral, dan memberikan kebebasan kepada peserta didik.

Dalam ajaran ini, pendidik diibaratkan sebagai sosok yang memberikan arahan dan panduan kepada peserta didik, tetapi dengan memberikan kebebasan kepada mereka untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya.

Pendidik berperan sebagai pemberi dorongan moral dan semangat yang memberikan dukungan penuh kepada peserta didik.

Pemberian kemerdekaan dalam pendidikan tidak hanya berarti memberikan kebebasan fisik, tetapi juga memberikan tanggung jawab kepada peserta didik untuk menunjukkan potensi dan kemampuan mereka sendiri.

Sebagai pendidik, tugasnya adalah memberikan bimbingan dan arahan yang diperlukan, namun dengan tetap memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan diri mereka sendiri.

Biografi Buya Hamka Singkat dan Jelas, Kenali Jejak Perjalanan Hidupnya dari Lahir hingga Wafat

Wafatnya Ki Hadjar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat wafat pada 26 April 1959 di usia 70 tahun.

Dengan dimakamkannya Bapak Pendidikan Nasional di pemakaman keluarga Taman Siswa, Yogyakarta, menjadi akhir dari biografi Ki Hadjar Dewantara.

Meskipun Ki Hadjar Dewantara telah lama meninggalkan dunia, tapi karya dan sumbangsihnya terhadap dunia pendidikan Indonesia akan terus abadi.

Untuk mengenang segala jasanya, maka dari itu tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara yaitu 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional sejak tahun 1961.

Penutup

Nah, itulah tadi biografi Ki Hadjar Dewantara secara singkat yang dapat Mamikos rangkum untuk kamu.

Semoga perjalanan hidup Ki Hadjar Dewantara ini bisa memotivasi kamu untuk selalu bersemangat dan melakukan yang terbaik dalam hal pendidikan.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta

Advertisement