Source : Google Reviews/Muhammad B Azmi

Cerita Kos Tjokroaminoto di Surabaya: Rumah Kost yang Jadi Inkubator Pemimpin Bangsa

Jauh sebelum menjadi museum, rumah nomor 29 di Peneleh adalah markas bagi para pemuda kritis. Yuk, simak cerita kos Tjokroaminoto berikut ini.

21 April 2026 Lintang Filia
Ringkasan Artikel
  • Rumah kos HOS Tjokroaminoto di Peneleh, Surabaya, kini menjadi Museum HOS Tjokroaminoto dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2017.
  • Tempat sederhana ini pernah menjadi pusat diskusi para pemuda pergerakan, termasuk Soekarno, Musso, Semaoen, Kartosoewirjo, Tan Malaka, dan Alimin, yang kelak menjadi tokoh penting dalam sejarah Indonesia.
  • Tjokroaminoto mendidik mereka lewat kebebasan berpikir, diskusi, bacaan, dan latihan retorika, namun banyak dari muridnya kemudian menempuh jalan politik yang berbeda hingga berakhir tragis.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya memang memiliki banyak pusat sejarah, salah satunya adalah Museum HOS Tjokroaminoto di kawasan Peneleh yang didirikan untuk menghormati jasa sang Guru Bangsa, Tjokroaminoto.

Namun, tahukah kamu kalau bangunan ini dulunya adalah sebuah rumah kos? Jauh sebelum menjadi museum yang tenang, rumah tersebut merupakan tempat berkumpulnya para pemuda pergerakan.

Di sinilah cerita Kos Tjokroaminoto di Surabaya bermula, sebuah hunian sederhana yang menjadi tempat lahirnya pemikiran besar para calon pemimpin negeri. ๐Ÿก๐ŸŒด๐Ÿ“–

Rumah Milik HOS Tjokroaminoto yang Menjadi Saksi Bisu Pergerakan di Peneleh

Cerita Kos Tjokroaminoto di Surabaya
Google Reviews/Muhammad B Azmi
Cerita Horor di Kampus UGM, Mbak Yayuk Hingga Rohana, Paling Legend!

Siapa sangka di dalam gang sempit di Jalan Peneleh VII terdapat sebuah bangunan yang telah ditetapkan oleh Pemkot Surabaya sebagai Cagar Budaya sejak tahun 2017. Rumah nomor 29 ini letaknya persis di seberang Jembatan Peneleh, area yang dulu dipergunakan oleh para aktivis yang ingin bergerak tanpa terendus Belanda.

Kala itu, Surabaya memang menjadi magnet kaum terpelajar dan Kampung Peneleh dipilih Tjokroaminoto sebagai basis perjuangan sekaligus rumah bagi para pemuda pergerakan.

Rumahnya begitu sederhana khas arsitektur era kolonial yang berpadu dengan struktur rumah Jawa dua lantai. Lantai bawah digunakan untuk aktivitas keluarga Tjokroaminoto, sementara area loteng disulap menjadi kamar-kamar sederhana untuk para anak kos.

10 Momen Sedih Mahasiswa Perantau yang Bisa Mengajarkan Arti Kehidupan

Interiornya pun jauh dari kata mewah, hanya ubin kecil berwarna merah-putih menghiasi lantai dan plafon dari anyaman bambu yang masih terjaga keasliannya. Di ruang tamu dengan meja kayu marmer itulah cerita kos Tjokroaminoto di Surabaya bermula. Di mana gagasan besar tentang bangsa ini lahir di tengah suasana perkampungan yang tenang.

Para Penghuni Peneleh yang Mengubah Sejarah

Diskusi di ruang tamu tersebut tidak hanya berhenti pada sosok Tjokroaminoto saja, tetapi juga melibatkan para pemuda yang menghuni lantai dua rumah ini. Mengutip dari CNN Indonesia, setiap hari selalu ada tamu penting yang datang untuk membicarakan nasib bangsa dan para anak kos sering kali diajak bergabung untuk mendengarkan percakapan tersebut.

20 Situasi Ini Cuma Bisa Dipahami Sama Anak Kost, Awas Kesindir!

Inilah yang membuat cerita kos Tjokroaminoto di Surabaya begitu legendaris, karena di bawah atap yang sama berkumpulah para pemuda yang kelak menjadi Tokoh Bangsa dengan pengaruh besar.

Beberapa sosok yang tercatat sebagai murid Tjokroaminoto selama menetap di Peneleh antara lain:

1. Soekarno
Ia datang untuk bersekolah di HBS Surabaya. Di rumah ini, Soekarno tidak hanya menimba ilmu politik, tetapi juga sangat mengagumi sosok Tjokroaminoto. Kedekatan itulah yang membuat Soekarno menjadi murid kesayangan, bahkan ia sempat menjadi bagian dari keluarga sebagai menantu.

2. Musso dan Semaoen
Dua pemuda ini merupakan penghuni kamar di lantai atas yang banyak mendalami pemikiran tentang perjuangan kelas. Di kemudian hari, mereka muncul sebagai tokoh sentral yang memimpin pergerakan kiri di Indonesia.

Halaman: