Cerita Kos Tjokroaminoto di Surabaya: Rumah Kost yang Jadi Inkubator Pemimpin Bangsa
Jauh sebelum menjadi museum, rumah nomor 29 di Peneleh adalah markas bagi para pemuda kritis. Yuk, simak cerita kos Tjokroaminoto berikut ini.
3. Kartosoewirjo
Berbeda dengan rekan-rekan satu kosnya, Kartosoewirjo lebih tertarik mendalami sisi agama dan politik Islam. Garis pemikiran yang ia pupuk di Peneleh akhirnya membawanya menjadi pemimpin gerakan Darul Islam (DI/TII).
4. Tan Malaka dan Alimin
Meski tidak selalu menetap lama, mereka sering terlihat mengunjungi rumah kos Tjokroaminoto untuk ikut bertukar pikiran di tengah riuhnya diskusi politik masa itu.
Melihat daftar nama di atas, tampak jelas bahwa rumah di Kampung Peneleh ini merupakan wadah bertemunya berbagai pemikiran. Meskipun di masa depan mereka memilih jalan perjuangan yang saling berseberangan, semua gagasan tersebut awalnya disemai di tempat yang sama.
Sebagaimana yang dicatat oleh Kominfo Jatim, Tjokroaminoto berhasil memberikan kebebasan berpikir bagi murid-muridnya, sehingga dari rumah sederhana ini lahir berbagai ideologi besar yang membentuk sejarah Indonesia.
Cara HOS Tjokroaminoto Mendidik Soekarno & Tokoh Besar Lainnya
Keberhasilan Tjokroaminoto dalam mencetak pemimpin besar tidak terlepas dari metode pendidikan informal yang ia terapkan. Menurut buku biografi Soekarno, Pak Tjokro tidak hanya memberikan tempat berteduh tetapi juga bertindak sebagai mentor intelektual.
Beliau sering kali mengundang murid-muridnya untuk berpartisipasi dalam diskusi meja makan setelah makan malam berakhir. Di sana, mereka bebas berdebat dan menguji pemikiran mengenai strategi perjuangan melawan penjajahan.
Selain diskusi rutin, Tjokroaminoto memberikan kebebasan kepada para anak kos untuk membaca koleksi perpustakaan pribadinya. Dari buku-buku itulah para pemuda ini mengenal berbagai pemikiran dunia. Soekarno muda, misalnya, sering kali menghabiskan waktu malamnya untuk mempelajari teori-teori politik yang sulit didapatkan di sekolah formal kolonial.
Aspek penting lainnya dalam pendidikan di Peneleh adalah pelatihan Retorika. Tjokroaminoto dikenal sebagai orator ulung yang mampu membakar semangat ribuan massa. Kemampuan ini ia turunkan kepada murid-muridnya dengan cara yang unik.
Melansir dari detikEdu, Soekarno sering berlatih pidato di kamarnya yang gelap dengan suara lantang menirukan gaya gurunya. Proses menempa mental dan kemampuan bicara di depan umum inilah yang nantinya menjadi senjata utama para alumni Peneleh dalam menggerakkan rakyat menuju kemerdekaan.
Akhir Cerita Kos Tjokroaminoto di Surabaya dan Nasib Para Penghuni di Era Revolusi
Sangat ironis melihat bagaimana perjalanan hidup para alumni Gang Peneleh ini berakhir. Mereka yang dulunya berbagi tawa, makanan, hingga buku di loteng sempit Pak Tjokro akhirnya harus saling berhadapan sebagai musuh di medan perang.
Sejarah mencatat bahwa persahabatan masa muda mereka hancur demi mempertahankan keyakinan politik masing-masing saat revolusi mencapai puncaknya.
Mengutip dari Sinergi Jatim, Musso yang merupakan kawan dekat Soekarno di masa kos tewas dalam peristiwa pemberontakan PKI Madiun 1948 setelah memimpin perlawanan melawan pemerintah.
Halaman:

