13 Contoh Akulturasi Budaya yang Ada di Indonesia Lengkap
Proses akulturasi budaya di Indonesia telah berlangsung sejak dahulu. Hingga kini, hasil akulturasi budaya tersebut masih bisa dilihat dan dinikmati.
7. Bahasa Sanskerta

Bahasa Sanskerta dikenal sebagai bahasa suci umat Hindu, Buddha, dan Jain (sebuah agama dharma). Bahasa ini juga menjadi bahasa pengantar di kawasan Asia Selatan, termasuk India.
Masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke-5, bahasa Sanskerta dibawa oleh pendeta dari India yang menyebarkan agama Hindu dan Buddha.
Penggunaan bahasa Sanskerta diketahui dengan keberadaan kerajaan-kerajaan kuno bercorak Hindu di Indonesia, seperti Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara, dan KerajaanMataram Kuno.
Hal ini dibuktikan dengan keberadaan prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Hindu-Buddha, yang menggunakan bahasa Sanskerta.
Mengingat prasasti-prasasti peninggalan zaman Hindu-Buddha di Indonesia paling banyak dikeluarkan pada abad ke-8 hingga ke-14, bahasa Sanskerta diketahui berkembang di Indonesia pada periode itu.
Namun sejak periode akhir kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, bahasa Sanskerta mulai ditinggalkan.
Salah satu faktor yang membuat bahasa Sanskerta tidak digunakan lagi adalah karena mulai masuknya agama Islam ke Nusantara.
8. Tari Cokek

Merupakan tari tradisional asal DKI Jakarta, Tari Cokek juga merupakan salah satu contoh akulturasi budaya antara bangsa Cina, Banten dan Betawi.
Mengingat lokasi masyarakat dari suku tersebut berdekatan dengan Jakarta, maka kini penyebaran dan perkembangan tari Cokek lebih berkembang di Jakarta.
Kini, Tari Cokek bentuknya sudah sangat berbeda dengan tari Cokek yang dulu ada di tengah-tengah masyarakat Betawi.
Hal ini terlihat dari semua unsur, baik itu segi gerak, kostum, rias dan musik pendukung tarian Cokek itu sendiri.
9. Arsitektur Rumah Joglo
Contoh akulturasi budaya di Indonesia berikutnya dapat dilihat pada arsitektur Rumah Joglo yang berasal dari Jawa. Rumah Joglo merupakan hasil perpaduan antara budaya asli Jawa dengan pengaruh Hindu-Buddha.
Pengaruh budaya Hindu terlihat dari konsep kosmologi dalam pembagian ruang rumah Joglo yang memiliki makna filosofis tertentu, seperti pendopo, pringgitan, dan dalem. Setiap bagian rumah mencerminkan hirarki sosial dan spiritual masyarakat Jawa.
Sementara itu, budaya lokal tercermin dari penggunaan material alami seperti kayu jati, bentuk atap bertumpang, serta fungsi rumah sebagai pusat kegiatan keluarga dan masyarakat. Akulturasi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai luar diserap tanpa menghilangkan identitas budaya asli.
9. Arsitektur Rumah Joglo
Contoh akulturasi budaya di Indonesia berikutnya dapat dilihat pada arsitektur Rumah Joglo yang berasal dari Jawa. Rumah Joglo merupakan hasil perpaduan antara budaya asli Jawa dengan pengaruh Hindu-Buddha.
Pengaruh budaya Hindu terlihat dari konsep kosmologi dalam pembagian ruang rumah Joglo yang memiliki makna filosofis tertentu, seperti pendopo, pringgitan, dan dalem. Setiap bagian rumah mencerminkan hirarki sosial dan spiritual masyarakat Jawa.
Sementara itu, budaya lokal tercermin dari penggunaan material alami seperti kayu jati, bentuk atap bertumpang, serta fungsi rumah sebagai pusat kegiatan keluarga dan masyarakat. Akulturasi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai luar diserap tanpa menghilangkan identitas budaya asli.
10. Tradisi Sekaten
Sekaten merupakan tradisi budaya yang berkembang di Yogyakarta dan Surakarta sebagai bentuk akulturasi budaya Islam dan Jawa. Tradisi ini awalnya digunakan oleh Walisongo sebagai media dakwah untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa.
Unsur Islam terlihat dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang menjadi inti perayaan Sekaten. Sementara itu, unsur budaya Jawa tercermin dari penggunaan gamelan, upacara adat, serta rangkaian prosesi tradisional yang sarat makna simbolik.
Hingga kini, Sekaten masih dilestarikan sebagai warisan budaya yang menunjukkan keberhasilan akulturasi antara nilai keagamaan dan tradisi lokal.
11. Batik Motif Pesisiran
Batik motif pesisiran juga termasuk contoh akulturasi budaya di Indonesia. Batik ini berkembang di daerah pesisir seperti Pekalongan, Cirebon, dan Lasem yang menjadi pusat perdagangan internasional.
Pengaruh budaya asing seperti Tionghoa, Arab, dan Eropa terlihat dari motif bunga, burung phoenix, serta penggunaan warna-warna cerah. Sementara itu, teknik membatik dan filosofi kain tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Jawa dan Indonesia.
Perpaduan tersebut menghasilkan batik dengan karakter yang lebih dinamis dan terbuka terhadap pengaruh luar tanpa menghilangkan identitas lokal.
12. Upacara Grebeg
Upacara Grebeg merupakan tradisi budaya yang menjadi hasil akulturasi antara budaya Jawa dan Islam. Upacara ini biasanya dilaksanakan oleh Keraton Yogyakarta dan Surakarta pada hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Maulid Nabi.
Unsur Islam tampak dari waktu pelaksanaan dan tujuan upacara yang berkaitan dengan hari besar keagamaan. Sedangkan unsur Jawa terlihat dari prosesi adat, gunungan hasil bumi, serta keterlibatan keraton sebagai pusat budaya.
Grebeg menjadi simbol harmonisasi antara tradisi kerajaan Jawa dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.
13. Seni Ukir Jepara
Seni ukir Jepara juga merupakan contoh nyata akulturasi budaya di Indonesia. Seni ini berkembang pesat sejak masa masuknya pengaruh Hindu, Islam, hingga Eropa.
Motif-motif ukiran Jepara banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha berupa ornamen flora dan fauna, serta pengaruh Islam yang menghindari penggambaran makhluk hidup secara utuh. Selain itu, sentuhan Eropa terlihat dari pola ukiran bergaya klasik.
Perpaduan berbagai unsur budaya tersebut menjadikan seni ukir Jepara memiliki nilai estetika tinggi dan dikenal hingga mancanegara.
Apa itu Akulturasi?
Istilah akulturasi berasal dari bahasa latin yakni ‘acculturate’, yang memiliki arti tumbuh dan berkembang bersama.
Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terdapat tiga pengertian dari akulturasi yang dapat dilihat secara umum, antropologi, dan linguistik.
Jika dilihat secara umum, akulturasi merupakan percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi.
Kemudian, secara antropologi, akulturasi adalah proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat, sebagian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu.
Sementara dari segi linguistik, akulturasi diartikan sebagai proses atau hasil pertemuan kebudayaan atau bahasa di antara anggota dua masyarakat bahasa, ditandai oleh peminjaman atau bilingualisme.
Para ahli juga memiliki pandangannya tersendiri dalam memaknai akulturasi.
Halaman:

