7 Contoh Akulturasi Seni Rupa, Seni Ukir, dan Seni Bangunan di Indonesia
Akulturasi di Indonesia dapat dilihat secara spesifik dalam bidang seni rupa, seni ukir, maupun seni pahat. Berikut ini beberapa contohnya yang bisa kamu pelajari.
2. Masjid dan Menara

Dalam era pengaruh Islam terdapat juga bentuk-bentuk akulturasi budaya Islam tersebut dengan kebudayaan sebelum Islam yang sudah ada sebelum Islam masuk di indonesia.
Tentulah seni bangunan juga menjadi salah satu bidang seni yang mengalami akulturasi tersebut. Contoh yang paling menonjolnya adalah bangunan masjidnya sendiri.
Bangunan-bangunan masjid kuno di indonesia memiliki berbagai ciri-ciri, diantaranya adalah atapnya yang berbentuk tumpang yaitu atap yang memiliki susunan-susunan semakin mengecil ke atasnya dan berbentuk limas.
Susunannya pun memiliki angka ganjil seperti tiga tau lima. Dipuncaknya pun diberi kemuncak dengan penekanan atas keruncingan yang biasa disebut juga dengan Mustaka.
Selain itu ada juga ciri-ciri lainnya seperti tidak ada nya Menara. Umumnya masjid di luar indonesia atau masjid modern memiliki Menara yang difungsikan untuk muadzin yang melakukan pemanggilan shalat.
Namun, di era ini mereka justru menggunakan Bedug dan Kentongan untuk melakukan panggilan shalat.
Adapun ciri-ciri lainnya adalah penempatan masjid yang berada tidak jauh dari istana, biasanya berada di barat alun-alun.
Selain itupun, pendiriannya yang berlokasi di tempat-tempat yang diyakini keramat seperti di atas bukit ataupun berdekatan dengan lokasi makam.
3. Makam

Bangunan makam pun mengalami proses akulturasi seiring bergantinya era. Terlihat juga di dalam era pengaruh Islam, bentuk-bentuk makam yang berakulturasi dengan budaya-budaya pra-Islam.
Dapat diperhatikan juga bahwa makam yang berakulturasi memiliki ciri-ciri yang paling utama penempatannya di atas dataran yang lebih tinggi seperti dibukit ataupun dataran-dataran tinggi lainnya.
Hal ini menunjukan kesinambungan dalam tradisi yang menjadi pengejawantahan dari pendirian-pendirian punden berundak di era megalthik.
Tradisi-tradisi tersebut pun diserap oleh era-era pengaruh Hindu-Buddha ke dalam perwujudan bangunan-bangunan yang dinamakan candi.
Contohnya Candi Dieng yang mempunyai lokasi dengan tinggi 2000 meter diatas permukaan laut.
Selain itu, Candi Gedong Songo, Candi Borobudur, dan percandian prambanan juga memiliki lokasi yang cukup tinggi.
Selain itu, makam-makamnya pun biasanya terbuat dari bangunan batu yang seringkali dinamakan Kijing atau Jirat. Batu pun menjadi bahan pembuatan nisannya.
Bahkan di atas jiratnya itupun didirikan rumah-rumahan tersendiri ataupun yang biasa disebut dengan cungkup atau Kubba.
Tembok dan gapura pun menjadi pelengkap di antara makam maupun kelompok-kelompok makam. Dan seperti yang telah disebut disebut di atas, bahwa biasanya di dekat makam-makam pun didirikan masjid makam.
Ini terjadi pada umumnya untuk makam-makam para raja ataupun wali. Contoh ini terdapat pada masjid ini di Tuban, di pemakaman Sendang Duwur.
4. Seni Tari dan Musik
Seni tari dan musik di Indonesia juga menunjukkan akulturasi budaya yang cukup kuat. Contohnya, tari Saman dari Aceh yang menggabungkan gerakan-gerakan tradisional lokal dengan ritme dan instrumen yang dibawa oleh pedagang dan pengaruh Islam.
Gerakan tangan dan tubuh yang serempak dalam tarian ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan disiplin, sedangkan lantunan lagu yang menyertai tariannya mengandung unsur dakwah Islam.
Begitu pula dengan gamelan, yang awalnya berkembang di Jawa dan Bali, memadukan pengaruh Hindu-Buddha melalui mitologi yang diceritakan dalam pertunjukan wayang kulit.
Instrumen gamelan yang digunakan dalam upacara keagamaan Hindu dan kemudian diadopsi ke dalam acara-acara masyarakat Muslim menunjukkan perpaduan harmonis antara tradisi lokal dengan pengaruh luar.
Seni tari dan musik seperti ini menjadi bukti nyata bahwa akulturasi tidak hanya terjadi pada bangunan fisik, tetapi juga pada ekspresi budaya dan hiburan masyarakat.
5. Seni Lukis dan Kaligrafi
Dalam bidang seni lukis, akulturasi juga terlihat jelas. Misalnya, pada era pengaruh Islam, banyak pelukis mengadaptasi gaya lokal untuk menggambarkan flora, fauna, dan motif geometris, karena penggambaran makhluk hidup secara realistis sering dibatasi dalam ajaran Islam.
Di sisi lain, pengaruh Hindu-Buddha tetap terlihat dalam motif ornamental dan simbolik yang sering digunakan di latar belakang lukisan.
Selain itu, kaligrafi Islam menjadi salah satu wujud akulturasi budaya yang paling menonjol. Di masjid-masjid kuno seperti Masjid Agung Demak atau Masjid Menara Kudus, kaligrafi Arab dipadukan dengan ornamen lokal Jawa, misalnya bentuk flora dan fauna yang disesuaikan dengan estetika lokal.
Hal ini menunjukkan bahwa seni lukis dan kaligrafi di Indonesia tidak hanya menjadi media ekspresi estetis, tetapi juga media penyatuan budaya dari berbagai zaman dan pengaruh agama.
Halaman:

