Advertisement
Source : ik.trn.asia

5 Contoh Ancaman Kerusakan Keanekaragaman Hayati dan Cara Melestarikannya

Keanekaragaman hayati perlu dirawat agar ekosistem tetap terjaga, namun ada ancaman yang tetap membanyangi. Apa saja itu? Baca di sini.

23 Juli 2024 Fajar Laksana

Faktor Manusia

1. Populasi manusia yang meningkat secara pesat mendorong terjadinya laju kepunahan dengan tempo yang lebih cepat bagi banyak spesies, penyebabnya adalah karena manusia yang makin bertambah otomatis membutuhkan konsumsi sumber daya alam yang lebih banyak;

2. Desakan kebutuhan sumber daya alam akibat tingginya populasi manusia tersebut akhirnya menjadi pemicu perluasan tapak ekologi manusia yang menguasai hampir 80% permukaan bumi sehingga menimbulkan gangguan ekologis;

3. Perilaku manusia yang kerap sering berbuat cemar menyebabkan hampir setengah air yang menutupi 71% bumi mengalami kerusakan ekologis atau tercemar.

Selain tiga faktor dasar di atas, masih banyak perilaku manusia yang mendorong terjadinya kerusakan keanekaragaman hayati.

Sebagai gambaran, berikut adalah contoh ancaman kerusakan keanekaragaman hayati yang disebabkan manusia.

Contoh Ancaman Kerusakan Keanekaragaman Hayati

1. Perburuan dan Penyelundupan Satwa Liar

Sebagai contoh ancaman kerusakan keanekaragaman hayati yang pertama, perburuan dan penyelundupan satwa liar adalah perilaku yang merusak keseimbangan ekologis.

Misalnya tindak kriminal penyelundupan orang utan. Di tahun 1900, terdapat sekitar 315.000 orang utan yang ditemui di pedalaman hutan Indonesia dan Malaysia.

Namun, karena tindak kriminal penyelundupan satwa liar, saat ini hanya tersisa 56.000 orang utan (menurut WWF), dan 90%-nya berada di Indonesia.

Selain itu, diperkirakan ada 1.000 hingga 2.000 orang utan hilang karena penyelundupan dan juga akibat penebangan atau perambahan lahan hutan.

Kasus penyelundupan orang utan kiranya masih terjadi sampai saat ini, mengingat harga satu orang utan yang mencapai sepuluh ribu dolar Amerika.

2. Konversi Lahan dan atau Hutan

Contoh ancaman kerusakan keanekaragaman hayati selanjutnya adalah praktik konversi lahan dan atau hutan menjadi lahan sawit.

Dalam proses konversi hutan menjadi lahan sawit tersebut, terjadi pembukaan lahan hutan dengan cara tebang hingga bakar, dan luasnya tidak main-main, bisa sampai beribu-ribu hektar.

Akibat dari praktik tersebut adalah hilangnya tempat tinggal untuk spesies-spesies endemik, serta rusaknya struktur tanah, sehingga ekosistem hutan jelas menjadi tidak seimbang.

Na’as sekali, pemerintah Indonesia masih terus melakukan praktik pembukaan lahan hutan untuk dikonversi menjadi lahan sawit secara massif hingga saat ini.

Tidak hanya itu, pembukaan lahan hutan untuk dikonversi menjadi IKN juga menyisakan banyak masalah lingkungan hidup yang entah sampai kapan dapat dipulihkan kembali.

Halaman:

Advertisement